Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 148


__ADS_3

Sofia dan Joe duduk di kursi mereka masing-masing dengan posisi saling berhadapan. Mereka sama-sama kikuk dan terlihat serba salah.


Tanpa mereka sadari, sosok wanita cantik sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Sejak pertama Joe memasuki ruangan itu, ia terus saja memperhatikannya. Bahkan tanpa berkedip sedikitpun.


"Siapa dia, Cloe?" tanya lelaki yang sedang duduk satu meja dengannya.


"Masa lalu yang menyedihkan. Bisakah temani aku menghampiri meja mereka?" tanya wanita yang bernama Cloe tersebut kepada kekasihnya.


"Tentu saja, Cloe."


Pasangan itu berjalan menghampiri meja Joe sambil bergandeng mesra.


"Hai, Joe! Apa kabar?" sapa Cloe.


Sontak saja, Joe dan Sofia menoleh kepada pasangan itu sambil menautkan alis mereka. Joe sempat terkejut ketika mengetahui siapa yang sedang berdiri di depan mejanya.


Ia menatap Cloe dengan tatapan elangnya, kemudian melemparkan senyuman tipis kepada wanita itu.


"Baik. Senang bisa bertemu denganmu lagi, Cloe."


Sofia hanya terdiam sambil memperhatikan ekspresi Joe dan wanita itu. Ia yakin antara Joe dan wanita itu pernah memiliki hubungan spesial.


"Siapa gadis ini? Anakmu?" tanya Cloe sembari mempehatikan Sofia dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Dia?!" Joe sempat bingung mau jawab apa saat itu. "Dia calon istriku. Kenalkan namanya Sofia," lanjut Joe seraya memperkenalkan Sofia kepada pasangan itu.


Sofia membulatkan matanya ketika Joe memperkenalkan dirinya sebagai calon istri kepada pasangan itu. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Sofia sangat bahagia. Apalagi jika itu menjadi kenyataan.


"Wah, benarkah? Dia masih sangat muda, ya! Ehm, kenalkan ini calon suamiku, Tuan--" ucap Cloe tidak mau kalah.


Namun, belum selesai wanita itu bicara, Joe sudah memotong pembicaraannya.

__ADS_1


"Tuan Hendrik. Ya, aku kenal. Dia salah satu rekan kerja Tuan Marcello, bukan? Selamat ya, Cloe. Ngomong-ngomong ini calon suamimu yang ke berapa? Soalnya aku lupa, sudah beberapa kali kamu memperkenalkan calon suamimu kepadaku," balas Joe sambil menyeringai licik.


Cloe menekuk wajahnya dan segera kembali ke mejanya.


"Jadi-- Anda adalah Assisten Joe, Asisten Tuan Marcello?" tanya Tuan Hendrik.


"Ya, Tuan. Anda benar," jawab Joe.


Lelaki itu nampak serba salah, ia mengulurkan tangannya kepada Joe sembari berpamitan dan kembali ke mejanya.


"Siapa wanita itu, Tuan Joe?"


Pertanyaan yang sejak tadi memenuhi isi kepala gadis itu dan akhirnya keluar juga dari bibirnya. Joe menatap lekat kedua bola mata indah milik Sofia sambil mengingat kisah masa lalunya.


"Namanya Cloe. Wanita mengejar CEO dan karena aku bukanlah seorang CEO, aku pernah dicampakkan olehnya, miris 'kan kisah cintaku?" tutur Joe masih dengan wajah dinginnya.


Sofia kembali memperhatikan wanita itu dari kejauhan dan entah kenapa Sofia sedih. Ia menundukkan kepalanya sambil memikirkan perasaannya terhadap Joe yang mungkin tidak akan pernah terbalas.


"Tidak apa-apa," sahut Sofia sambil tersenyum kecut.


Mereka pun mulai menikmati hidangan yang sudah tersedia di atas meja. Beberapa kali Sofia melirik Cloe dan memperhatikan wanita itu dari mejanya. Terbesit rasa iri di hari Sofia saat itu.


"Mimpiku terlalu tinggi, mengharapkan cinta dari sosok Tuan Joe. Lihatlah wanita itu, dia cantik dan sempurna. Penampilannya pun begitu memukau, sedangkan aku--"


Sofia mengingat siapa dirinya yang sebenarnya dan ia merasa bagai bumi dan langit jika disandingkan dengan wanita yang bernama Cloe tersebut.


Jika Sofia sedang putus asa, berbeda dengan Joe. Lelaki itu sedang mencoba menguasai dirinya. Ia tidak ingin terlihat bodoh di hadapan Sofia. Beberapa kali ia menghembuskan napas berat sambil melirik gadis yang sedang duduk dengan kepala tertunduk di hadapnnya.


"Harus bisa! Harus bisa!" batin Joe.


Joe meraih makanannya dengan menggunakan sendok kemudian mengulurkan ke hadapan Sofia dengan tangan gemetar.

__ADS_1


"Sofia, bukalah mulutmu," ucap Joe sambil tersenyum kecut kepada gadis itu.


Sofia mengangkat kepalanya kemudian menatap sendok yang diserahkan oleh Joe kepadanya. Sendok tersebut bergetar dan hal itu membuat Sofia terkekeh melihatnya.


"Kenapa tangan Tuan gemetar?" tanya Sofia.


"Sudah, jangan banyak bertanya. Buka saja mulutmu," sahut Joe.


"Baiklah."


Sofia membuka mulutnya dan menyambut sendok tersebut. Joe lega, akhirnya ia berhasil melakukan hal itu walaupun masih terlihat kaku.


"Kenapa Tuan Joe menyuapiku? Apa Tuan Joe sengaja melakukan itu untuk membuat Nona Cloe cemburu? Huft," batin Sofia.


"Mau lagi?" tanya Joe, berusaha menjadi lelaki romantis.


"Tidak, tidak! Tidak usah Tuan Joe, aku bisa sendiri."


Tidak berselang lama acara dinner dadakan itupun selesai. Sofia sudah beberapa menguap, pertanda gadis itu sudah mengantuk.


"Sebaiknya kita pulang, Sofia. Sepertinya kamu sudah mengantuk," ajak Joe sembari bangkit dari tempat duduknya.


Joe mengulurkan tangannya dan membantu Sofia bangkit kemudian menuntun gadis itu menuju tempat parkir, dimana Bodyguard sudah menunggu mereka.


Benar saja, baru beberapa meter mobil itu melaju, Sofia sudah tertidur sambil menyandarkan kepalanya di pundak Joe.


Joe meraih tubuh Sofia kemudian meraih gadis ke dalam pelukannya.


"Aku akan selalu bersamamu, Sofia. Selain karena janjiku kepada Ibumu, aku juga merasa berhak melindungimu." gumam Joe sambil mengelus puncak kepala Sofia.


...***...

__ADS_1


Note: Cloe cuma pemanis disini, tak ada pelakor di antara mereka.


__ADS_2