
"Bagaimana keadaan Ibu saya, Dok?" lirih Sofia.
"Begini, apakah kondisi ginjal Ibu Anda pernah diperiksakan sebelumnya?"
"Ibu hanya memeriksakannya di puskesmas atau mantri-mantri terdekat, Dok. Dokter di Puskesmas memang pernah meminta Ibu memeriksakannya ke Rumah Sakit karena mereka bilang ada masalah pada kedua ginjal Ibu. Namun, Ibu selalu menolaknya dan bersikeras bahwa dirinya baik-baik saja," tutur Sofia dengan bibir bergetar.
Dokter menghembuskan napas berat sambil menggaruk pelipisnya.
"Dari kondisi kulit dan kukunya yang berwarna kebiruan sudah menjelaskan bahwa Ibu Anda tidak baik-baik saja, Nona. Ibu Anda mengalami gagal ginjal kronis dan sekarang keadaannya sudah sangat lemah. Seandainya Ibu Anda memeriksakannya sejak awal, mungkin penyakitnya masih bisa ditangani dengan baik."
"Sebaiknya kita berdoa saja, semoga Bu Sri bisa melewati masa kritisnya dan kembali seperti sediakala," lanjut Dokter.
Tangis Sofia kembali pecah dan kini Joe meraih tubuh gadis itu dan membiarkan Sofia menangis di dalam pelukannya.
Joe kembali menuntun Sofia menuju ruangan dimana Bu Sri masih dalam keadaan kritis. Sofia mengintip dari balik kaca dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.
"Bu, bertahanlah untuk Sofia ...."
Keesokan paginya.
Kondisi Bu Sri semakin memburuk dan Dokter pun sudah mulai menyerah. Joe segera menghubungi Tuan Marcello, sama seperti permintaan lelaki itu sebelumnya.
"Apa?!" pekik Marcello yang masih bergelut di atas tempat tidur bersama sang Istri.
"Baiklah, aku akan segera kesana." sambung Marcello.
Melihat ekspresi wajah Marcello yang terlihat panik, Marissa menjadi cemas dan ketakukan. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Bu Sri.
"Apa yang terjadi, Dad?"
"Sepertinya aku harus segera ke Rumah Sakit, Cha. Kondisi Bu Sri katanya semakin memburuk," jawab Marcello sembari melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Marissa mengikutinya dari belakang dengan wajah cemas. "Aku ikut ya, Dad."
Marcello yang ingin menyentuh gagang pintu kamar mandi malah berbalik dan menghadap ke arah Marissa.
"Sebaiknya tidak usah, Cha. Kamu disini saja. Aku berjanji akan terus mengabarkan kondisi Bu Sri kepadamu," jawab Marcello
__ADS_1
"Tapi--"
"Cha." Marcello mengelus perut Marissa dan akhirnya Marissa pun mengalah.
"Baiklah kalau begitu," lirih Marissa.
Setelah selesai berpakaian dan sarapan, Marcello pun segera pamit kepada Marissa.
"Aku berangkat dulu ya, Cha. Ingat, jaga kandunganmu."
"Ya," jawab Marissa.
Marcello meminta salah satu Bodyguardnya untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit dan setibanya di sana, kedatangan Marcello sudah disambut oleh Joe.
"Bagaimana kondisi Bu Sri?"
"Kondisinya semakin memburuk, Tuan," sahut Joe sembari menuntun lelaki itu menuju ruangan dimana Bu Sri sedang di rawat.
Kedua lelaki jangkung itu melangkahkan kaki jenjang mereka dengan cepat. Dari kejauhan, Marcello memperhatikan Sofia yang duduk dengan kepala tertunduk menghadap lantai. Ia tahu, gadis itu pasti sangat sedih.
"Apakah tidak ada kemungkinan Bu Sri sembuh, Joe?"
Marcello hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menyayangkan semua itu.
"Tuan," lirih Sofia sembari bangkit dari tempat duduknya ketika Marcello mendekat.
"Duduklah, Sofia."
Marcello mengintip dari balik kaca dan ia melihat pergerakan jari-jari tangan wanita itu.
"Joe! Joe!" panggil Marcello.
Joe bergegas menghampiri Marcello dan turut memperhatikan Bu Sri dari balik kaca tersebut.
"Apa aku tidak salah lihat? Aku rasa jari-jari Bu Sri bergerak," ucap Marcello.
Joe memfokuskan penglihatannya pada jari-jari Bu Sri dan ternyata apa yang dikatakan oleh Marcello benar.
__ADS_1
"Ya, Tuan. Saya juga melihatnya!"
Joe bergegas memanggil Dokter sedangkan Sofia segera memasuki ruangan itu dan menghampiri sang Ibu.
"Bu ... bangun, Bu! Ini Sofia," lirih Sofia sambil terisak. Sofia meraih tangan Bu Sri dan menciuminya berkali-kali.
"So-Sofia--"
Terdengar suara lirih Bu Sri. Wanita itu mencoba membuka mata dan tangannya yang dingin, menggenggam tangan Sofia dengan erat.
"Bu, bertahanlah! Demi Sofia, Bu!"
"I-Ibu sudah tidak sanggup lagi, Sofia. Ibu rasa ini sudah saatnya Ibu kembali,"
Tangis Sofia pecah. Ia tidak sanggup menahan tangisnya lagi. "Jangan katakan itu, Bu!"
"Tu-tuan Joe."
Mata Bu Sri kini tertuju pada Joe yang sedang berdiri tak jauh dari Sofia.
"Ya, Bu."
"Tuan Joe, masih sama seperti yang saya ucapkan waktu lalu. Hari inipun saya ingin mengatakan hal yang sama kepada Anda," tutur Bu Sri dengan terbata-bata.
"Tolong jaga Sofia untuk saya karena saya rasa hari ini adalah hari terakhir saya, Tuan Joe," sambung Bu Sri sembari menarik napasnya yang sudah tersendat-sendat.
"Jangan berkata seperti itu, Bu."
Tepat di saat itu, Dokter yang menangani Bu Sri tiba dan segera memeriksa keadaannya. Joe menuntun Sofia keluar dari ruangan itu dan membiarkan para tim medis melakukan tugas mereka.
"Semoga ini adalah pertanda baik dan Bu Sri bisa kembali seperti sedia kala," ucap Joe sambil mendudukkan Sofia di kursi tunggu.
"Ibu pernah bicara apa sama Anda, Tuan?" tanya Sofia dengan mata berkaca-kaca menatap Joe.
"Dia memintaku menjagamu."
"Lalu?"
__ADS_1
"Seperti janjiku pada Ibumu, aku akan menjagamu, Sofia."
...***...