
"Selamat, Tuan Riyadh. Bayi laki-laki Anda sudah lahir dengan selamat tanpa kurang apapun. Namun, Nyonya Dian masih dalam keadaan kritis. Dia mengalami pendarahan hebat dan kita berdoa saja, semoga Nyonya Dian segera melewati masa kritisnya," ucap Dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
Tangis Marissa pecah di dalam pelukan Marcello. "Ibu, Dad!" ucap Marissa di sela isak tangisnya.
"Berdoalah, Cha. Doakan yang terbaik untuk Ibumu, biar dia bisa melewati masa-masa kritisnya," sahut Marcello.
Bukan hanya Marissa, Riyadh pun tak kalah sedih. Lelaki itu bahkan tidak sanggup menahan kesedihannya setelah mengetahui bagaimana kondisi istrinya saat ini.
"Ya, Tuhan. Jangan ambil istriku secepat ini! Aku dan bayi kami masih sangat membutuhkannya," gumam Riyadh sembari mengusap kasar wajahnya.
Zaid yang juga berada di ruangan itu, segera menghampiri sang Ayah dan mengelus punggungnya dengan lembut.
"Sabar, Pah. Semoga Mama Dian sehat kembali dan bisa berkumpul bersama kita," ucapnya.
Tidak berselang lama, seorang perawat membawa seorang bayi tampan yang sudah di balut dengan kain bedong. Perawat itu menghampiri Tuan Riyadh kemudian menyerahkannya.
Riyadh menyambutnya dengan mata berkaca-kaca. Setelah sekian lama, akhirnya ia memiliki seorang bayi lagi. Riyadh menciumi kedua pipi bayi mungil itu secara bergantian. Zaid pun begitu antusias menyambut kehadiran bayi tampan itu. Ia memperhatikan bayi mungil itu sambil tersenyum simpul.
"Pah, boleh aku menggendongnya?" pinta Zaid.
Riyadh pun menganggukkan kepalanya kemudian menyerahkan bayi mungilnya kepada Zaid. Lelaki muda itu menggendongnya dengan sangat hati-hati.
"Lihatlah, Marissa. Adik kita sangat tampan dan sepertinya dia mirip denganku," ucap Zaid dengan sangat percaya diri.
Marissa yang tadinya begitu sedih, malah terkekeh setelah mendengar ucapan Zaid yang begitu percaya diri.
"Ya ampun, Kak. Kamu percaya diri sekali mengakui dede tampan itu mirip denganmu," ucap Marissa sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
"Ternyata tidak Ayahnya, tidak Anaknya, sama saja," gumam Marcello yang masih memeluk tubuh Marissa.
"Ya, biarin. Soalnya kalian tidak ada yang sudi memujiku. Benar 'kan, Dek?" ucap Zaid yang kini mengajak bayi mungil itu bicara.
"Sini, biar aku gendong, Kak." Marissa melerai pelukan Marcello kemudian menghampiri Zaid sembari mengulurkan tangannya kepada lelaki itu.
Perlahan Zaid menyerahkan bayi mungil itu kepada Marissa dan membiarkan wanita itu menggendong dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Dede, doakan Ibu sehat lagi, ya. Biar kita bisa berkumpul seperti dulu. Ada Ibu, Ayah, Kakak Zaid, Kakak Icha, sama si kembar M," ucap Marissa dengan bibir bergetar.
"Aku? Kenapa aku tidak disebutkan?" protes Marcello.
"Ah, ya. Kakak Icha lupa, sama Om Marcello juga."
Marcello membulatkan matanya dengan sempurna. "Tidak adil! Kenapa saat giliranku, aku malah dipanggil dengan sebutan Om? Seharusnya 'kan bayi mungil itu memanggilku dengan sebutan Kakak Marcello. Heh, rasanya aku menjadi lebih muda 20 tahun."
"Heh, uban ini bukanlah simbol bahwa usiaku sudah tua. Namun, ini adalah simbol bahwa hidupku jauh lebih berpengalaman daripada kalian-kalian," sahutnya dengan bangga.
"Hhhh, sama saja."
Riyadh hanya bisa tersenyum kecut mendengar ocehan mereka tanpa berkeinginan membalasnya.
"Oh ayolah, Riyadh! Bersemangat lah! Paling tidak untuk bayi mungilmu," sambung Marcello sembari menepuk pundak Riyadh.
Riyadh menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Namun, bibirnya masih tertutup rapat, sama seperti sebelumnya.
Sehari kemudian.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Riyadh dengan wajah pucat.
Sejak kemarin Riyadh bahkan tidak tidur sedikitpun. Dokter tersenyum. Senyuman yang di lemparkan oleh Dokter tersebut membuat Riyadh merasa sedikit lebih tenang.
"Kondisi Nyonya Dian mengalami kemajuan pesat. Dia sudah melewati masa kritisnya walaupun saat ini kondisi Nyonya Dian masih lemah. Tetapi Tuan bisa menjenguknya, asal jangan terlalu lama. Biarkan Nyonya Dian lebih banyak beristirahat karena dia sangat membutuhkannya."
Penuturan Dokter saat itu membuat semua orang di ruangan itu bahagia. Akhirnya doa mereka dikabulkan oleh Tuhan.
"Terima kasih, Tuhan. Karena Engkau telah mengabulkan doa-doa kami," ucap Riyadh.
"Saya permisi dulu, Tuan, Nona," ucap Dokter pamit.
"Ya, Dokter. Terima kasih banyak," sahut Riyadh.
Marissa menghambur ke pelukan sang Ayah sambil menitikkan air matanya. "Akhirnya," ucap Marissa.
"Ya, Nak. Ibumu masih bertahan untuk kita semua," sahut Riyadh sembari mengecup puncak kepala Marissa.
Setelah melerai pelukannya bersama Marissa, Riyadh pun segera memasuki ruangan dimana Dian dirawat. Wanita itu tergolek lemah dan matanya pun masih tertutup rapat. Perlahan Riyadh menghampiri tempat tidur Dian dan memperhatikan wajahnya yang pucat pasi.
"Dian Maharani, isteriku." Riyadh meraih tangan Dian kemudian menciumi punggung tangan wanita itu.
Perlahan Dian membuka matanya kemudian tersungging sebuah senyuman tipis di wajahnya yang memucat.
"Aku merindukanmu, Dian," lirih Riyadh dengan mata berkaca-kaca menatap wanita itu.
...***...
__ADS_1