Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 205


__ADS_3

"Selamat pagi semuanya," sapa Maria yang baru saja tiba di ruang makan.


Gadis itu mengenakan seragam putih abu-abu sambil menggendong tas ransel di punggungnya. Kemudian di susul oleh kedua Kakak kembarnya, Marvel dan Melvin.


"Pagi juga, Cantik."


Marissa tersenyum hangat menyambut kedatangan putri bungsunya tersebut kemudian mempersilakan gadis itu untuk duduk tepat berseberangan dengannya.


Marcello terus saja memperhatikan anak gadisnya tanpa berkedip sedikitpun. Maria sempat bersitatap mata dengan sang Daddy, tetapi hanya sebentar saja dan segera membuang pandangannya ke arah lain.


Acara sarapan pagi keluarga itupun dimulai. Semua fokus pada makanan dan minuman yang tersedia di hadapan mereka. Selang beberapa saat, akhirnya acara sarapan mereka pun selesai.


Semua sudah bersiap berangkat ke tujuan masing-masing, termasuk Maria. Namun, baru saja Maria ingin melanjutkan langkahnya, sang Daddy memanggilnya.


"Gadis cantik Daddy, sini dulu!" 


Maria menghentikan langkahnya kemudian berbalik sambil tersenyum kecut. "Ya, Daddy?"


Bukan hanya Maria, Marvel dan Melvin pun menghentikan langkah mereka dan memperhatikan apa yang ingin dilakukan oleh sang Daddy.


"Kemarilah, Daddy ingin lihat apa isi tas ranselmu," ucap Marcello sembari mengulurkan tangannya kepada Maria.


Mata Maria membulat sempurna setelah mendengar permintaan sang Ayah. Maria menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan wajah gadis itu terlihat cemas sedangkan sang Ayah malah menyeringai licik kepadanya.


"Ayo, sini. Biar Daddy lihat apa isi tasmu." Marcello mengulurkan tangannya kepada Maria agar gadis itu segera menyerahkan tas ranselnya.


"Tapi Dad, sepertinya Maria sudah telat." Maria lagi-lagi menggaruk kepalanya sambil tersenyum getir.

__ADS_1


Marcello melirik jam tangan mewahnya dan dia tahu anak gadisnya itu berbohong padanya.


"Maria ...."


"Ah, iya-iya. Ini dia!"


Maria bergegas menyerahkan tas ranselnya kepada Sang Daddy setelah mendengar nada kesal lelaki itu ketika memanggil namanya.


Marcello meraih tas ransel milik Maria kemudian mulai memeriksanya. Maria nampak cemas, ia meremass kedua tangannya secara bergantian kemudian memundurkan tubuhnya dan bersembunyi di balik tubuh Marvel yang memang berada tak jauh darinya.


Marvel melirik Maria sambil terkekeh kemudian mengacak puncak kepala gadis nakal itu perlahan.


"Mampus aku, Kak."


Marvel tidak menjawab ucapan Maria, ia hanya tersenyum sambil memperhatikan Marcello yang mulai mengeluarkan isi tas Maria ke atas meja dan menggelarnya disana.


"Ya ampun, Maria!" pekik Marcello sambil menggaruk kepalanya karena frustrasi melihat kelakuan anak gadisnya itu.


"Sudahlah, Daddy. Nanti tekanan darahmu naik lagi, loh."


Marissa menghampiri Marcello kemudian memeluk lelaki itu dari belakang. Marissa sudah pasrah dengan sikap anak gadisnya itu selama gadis itu masih menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita.


"Coba kamu lihat isi tasnya, Cha. Bagaimana sekolahnya mau berhasil, lah isinya cuma peralatan make up. Buku serta penanya mana?" pekik Marcello sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Sebenarnya kamu itu niat sekolah atau tidak sih, Gadis Daddy? Atau kamu mau Daddy pindahkan ke sekolah tata rias aja sekalian?"


"Eh, jangan-jangan. Iya, Maria ambil pen sama buku Maria dulu."

__ADS_1


Maria segera berlari ke kamarnya kemudian mengambil buku dan pena secara acak. Ia sendiri tidak tahu jadwal pelajarannya hari ini. Setelah itu, Maria pun segera kembali ke ruang makan.


"Nah, ini buku Maria, Dad."


Dengan napas terengah-engah, Maria meraih tasnya dan memasukkan buku serta pena tersebut ke dalam tas ranselnya.


"Sudah," ucap Maria sambil melemparkan senyuman lebar kepada Marcello.


"Daddy ingatkan sama kamu ya, Maria. Ini adalah sekolah terakhirmu. Jika sekolah ini juga menyerah menghadapi sikapmu sama seperti sekolah-sekolahmu yang sebelumnya, maka Daddy pun akan ikut menyerah. Sekarang terserah padamu, Daddy sudah tidak mau tahu. Dan ... jika ada laki-laki yang ingin melamarmu, maka dengan senang hati Daddy akan menerimanya," ucap Marcello yang sudah nampak putus asa.


"Apa? Menikah!" pekik Maria dengan mata membulat.


"Ya, lebih baik kamu menikah saja, biar Daddy dan Mommy bisa sedikit lebih tenang," sahut Marcello.


Melvin tergelak. "Ya, Daddy dan Mommy bisa tenang tapi giliran suaminya yang pusing tujuh keliling."


"Ish, Kakak. Bukannya membantu Maria," ucap gadis itu.


"Ya, sudah. Sebaiknya kalian berangkat. Nanti terlambat lagi," ucap Marissa sembari menghampiri Maria kemudian menuntun gadis itu menuju halaman depan, dimana motor matic kesayangannya sudah menunggu.


"Nak, sekali-sekali dengarkan Daddy-mu, ya. Kamu tidak ingin menikah muda, kan? Daddy tidak main-main loh dengan ucapannya tadi. Jika kali ini kamu dikeluarkan lagi oleh sekolahmu, maka Daddy akan segera menikahkanmu," ucap Marissa.


Maria menekuk wajahnya kemudian menghembuskan napas berat. "Baiklah, Maria berangkat dulu ya, Mom."


"Ya, hati-hati di jalan. Jangan sampai ditabrak lagi sama Udin-Udin yang lainnya."


Maria terkekeh pelan. "Ah, Mommy bisa aja."

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada Marissa, Maria pun segera memasang helm yang bermotif Hello Kitty dan berwarna pink sama seperti motor maticnya.


...***...


__ADS_2