Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 217


__ADS_3

Seperti permintaannya, Dylan pulang lebih awal hari ini karena ia ingin menjenguk sang Kakak di sebuah Rumah Sakit. Kalau biasanya Dylan selalu di antar oleh Pak Udin, hari ini Mac menawarkan diri untuk mengantarkan Bossnya itu ke Rumah Sakit.


"Apa kamu yakin ingin mengantarkan aku, Mac?"


"Ya, Tuan."


"Aku tidak ingin merepotkanmu, Mac."


"Sama sekali tidak, Tuan. Lagipula pekerjaan saya sudah selesai dan saya punya waktu luang saat ini," jawab Mac sembari membukakan pintu mobil untuk Dylan.


Dylan pun masuk ke dalam mobil dan duduk dengan santai di kursi bagian belakang. Setelah Dylan masuk, Mac pun bergegas menuju kursi kemudi kemudian segera melajukan mobil mewah tersebut meninggalkan perusahaan besar milik Dylan.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, mobil mewah yang dikemudikan oleh Mac pun tiba di sebuah halaman Rumah Sakit.


Kedatangan kedua lelaki tampan itu disambut oleh seorang Dokter yang selama ini merawat Kakak kandungnya Dylan.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Dylan dengan wajah cemas.


"Sebaiknya Tuan lihat sendiri bagaimana kondisinya saat ini," sahut Dokter sembari menuntun Dylan menuju ruangan dimana Kakek kandung Dylan sedang dirawat.


Dylan semakin cemas setelah mendengar jawaban dari Dokter. Ia yakin bahwa Kakaknya saat ini dalam kondisi yang tidak baik. Setibanya di ruangan itu, benar saja, wanita itu terlihat lemah.


"Kak, kenapa Kakak jadi seperti ini?"

__ADS_1


Dylan menghampiri wanita yang sedang duduk di tepian tempat tidur pasien dengan tatapan kosong menerawang, menatap ke arah luar jendela.


"Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan, Tuan. Setiap kali saya ingin menyuapinya makan, makanannya selalu dilempar dan dibuang ke jendela," jawab seorang suster yang sengaja di sewa oleh Dylan khusus untuk merawat Kakak perempuannya.


Dylan menghembuskan napas dalam kemudian duduk di samping wanita itu.


"Kak, Kakak makan dulu, ya?" bujuk Dylan sembari mengelus lembut pundaknya.


Perlahan wanita itu berbalik kemudian menatap Dylan lekat. "Dylan, apakah ini kamu?"


"Ya, Kak. Ini Dylan."


"Dylan, jangan tinggalkan Kakak. Kakak takut!"


"Aku ada disini, Kak. Kakak jangan takut, tidak akan ada yang berani menyakiti Kakak," jawab Dylan.


Setelah wanita itu agak tenang, Dylan meraih sebuah nampan berisi makanan yang terletak di atas nakas. Dylan mencoba menyuapi sang Kakak yang katanya sudah beberapa hari tidak mau makan.


"Kak, bukalah mulutnya."


Wanita itu melemparkan senyuman manisnya kepada Dylan kemudian membuka mulutnya perlahan dan menerima suapan yang diberikan oleh Adik lelakinya itu.


"Katanya Kakak tidak mau makan beberapa hari ini. Kenapa, Kak? Apa makanannya tidak enak? Kakak ingin makan apa? Sebutkan saja, nanti pastiku belikan."

__ADS_1


"Bukan, Dylan. Bukan itu! Kakak takut dia datang lagi dan mengancamku," jawabnya sambil melirik ke kiri dan ke kanan, memperhatikan sekelilingnya dengan wajah ketakutan.


Huft! Dylan kembali menghembuskan napas beratnya.


"Kakak tidak perlu takut, para penjaga keamanan dan tim medis disini tidak akan membiarkan siapapun berbuat jahat kepada Kakak. Semua itu hanya perasaan Kakak saja," jawab Dylan.


Dylan kembali menyuapi wanita itu hingga makanan yang ada di atas piring tersebut pun ludes tak bersisa. Dylan tersenyum puas. Ia meraih tissue kemudian membersihkan sisa noda makanan yang tertinggal di pinggir bibirnya.


Selesai makan, Dylan mengajak Kakak perempuannya itu jalan-jalan disekitar halaman Rumah Sakit. Wanita itu terlihat bahagia karena hari ini Dylan bersedia menemaninya.


"Tuan, maafkan kalau pendapat saya salah. Tetapi kalau menurut saya apa tidak sebaiknya Nyonya di bawa pulang saja dan di rawat di kediaman Anda. Saya rasa yang dibutuhkan oleh Nyonya saat ini ada Tuan Dylan. Lihatlah, betapa tenangnya Nyonya saat bersama Anda," tutur Mac.


Dylan menghentikan langkahnya kemudian memperhatikan wanita yang sedang duduk di kursi roda tersebut dengan tatapan iba.


"Sepertinya kamu benar, Mac. Apa sebaiknya aku bawa saja dia kembali ke kediamanku? Tapi, bagaimana jika dia kembali tak terkendali seperti dulu? Semua orang pasti akan ketakutan dan panik," jawab Dylan.


"Tugaskan beberapa orang Dokter untuk berjaga-jaga, Tuan Dylan. Kita tidak tahu bagaimana suasana hati Nyonya di setiap harinya, bukan?" tutur Mac.


Dylan nampak menimbang-nimbang saran dari Mac. Sebenarnya Dylan belum yakin membawa Kakak perempuannya itu kembali ke kediamannya. Dia takut kejadian dulu terulang lagi, dimana Kakak perempuannya seringkali ingin menyakiti dirinya sendiri dan juga orang-orang di sekitarnya.


"Bagaimana, Tuan Dylan?"


"Mungkin besok akan kuputuskan, apakah aku akan membawanya kembali atau membiarkannya di tempat ini," jawab Dylan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2