
Tidak berselang lama, Marcello dan Marissa tiba di depan tempat praktek Dokter Kandungan terbaik langganannya. Dokter menyambut kedatangan pasangan itu dengan wajah semringah.
"Silakan masuk, Tuan Marcello dan Nona Marissa."
Dokter cantik tersebut menuntun Marissa memasuki ruang prakteknya dan mempersilakan pasangan itu duduk di kursi yang ada di depan mejanya.
"Bagaimana rasa mual dan pusingnya?" tanya Dokter sambil meraih lengan Marissa dan mulai memeriksa tekanan darah bumil tersebut.
"Ehm, sudah mulai berkurang, Dok," jawab Marissa sembari melirik Marcello yang masih duduk di sampingnya. Karena yang benar-benar mengalami mual dan pusing disini bukanlah dirinya, melainkan Marcello.
"Tekanan darah normal dan sekarang mari kita periksa berat badan Nona,"
Dokter cantik itu membantu Marissa a dari tempat duduknya, kemudian menuntunnya menuju timbangan berat badan yang berada tak jauh dari meja praktek.
Setelah di cek, ternyata berat badan Marissa naik beberapa kilo dari berat badannya sebelum mengandung.
"Hah? Masa sih, Dok, berat badanku melonjak sekali?! Jangan-jangan timbangan Bu Dokter ini rusak," ucap Marissa panik.
Marcello terkekeh mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Marissa. Apalagi saat ia melihat ekspresi wajah panik Marissa saat itu.
Sedangkan Dokter hanya bisa tersenyum sambil menjelaskan kepadanya. "Kenaikan berat badan saat mengandung itu normal kok, Nona. Jadi Nona tidak perlu khawatir."
"Icha sayang, apa kamu tidak sadar bahwa kamu terlihat lebih chubby sekarang?" oceh Marcello tanpa bisa menahan tawanya.
"Daddy serius?!" pekik Marissa.
__ADS_1
"Jangan panik seperti itu. Bagiku kamu tetap yang tercantik, Cha. Walau bagaimanapun penampilanmu nantinya," sahut Marcello sembari meraih tangan Marissa kemudian menciumnya.
Wajah Dokter cantik itu merona ketika pasangan itu mengumbar kemesraan di hadapannya. Ia tersenyum kemudian turut berucap.
"Yang penting Dede bayinya sehat ya 'kan, Tuan Marcello," timpal Dokter.
"Tepat sekali."
Marissa pun tersenyum kecut, "Benar juga, sih. Ya sudah, yang penting bayiku sehat."
Setelah selesai mengecek berat badan Marissa, Dokter kembali menuntun gadis itu menaiki bed pasien dan ingin mulai memeriksa keadaan kandungannya melalui pemeriksaan USG.
"Permisi ya, Nona."
Marissa pun mengangguk dan membiarkan Dokter tersebut membuka pakaiannya di bagian perut. Dokter memberikan gel yang terasa dingin ke atas perut Marissa kemudian mulai meletakkan sebuah alat dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, atas dan bawah.
Setelah beberapa saat, Marissa mulai memperhatikan ekspresi wajah Dokter dan sepertinya ada kecemasan yang Marissa lihat disana.
"Tuan Marcello dan Nona Marissa, saya punya kabar baik dan kabar buruk disini."
Marissa dan Marcello begitu terkejut mendengar penuturan sang Dokter. Mereka juga penasaran sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh Dokter cantik itu.
"Memangnya ada apa, Dok? Apa ada masalah pada bayi kami?" tanya Marcello panik. Bukan hanya Marcello, Marissa pun terlihat cemas.
Dokter menghembuskan napas berat kemudian memperlihatkan kondisi janin Marissa dari layar monitornya.
__ADS_1
"Berita baiknya, kalian akan memiliki bayi kembar, sama seperti prediksi saya bulan kemarin. Namun, ada sesuatu yang harus kalian tahu dan mungkin akan membuat kalian sedikit kecewa."
Wajah Dokter terlihat sendu ketika menatap wajah Marcello kemudian beralih kepada Marissa yang masih berbaring di bed pasien.
"Katakan, Dok! Jangan buat kami takut," ucap Marcello.
"Salah satu janin kalian tidak berkembang dengan baik dan kemungkinan terlahir dengan kondisi kurang sempurna," tutur Dokter dengan wajah sedih menatap Marcello.
Duarrr!!!
Penuturan Dokter saat itu membuat air mata Marissa meluncur dengan sendirinya. Ia tidak sanggup menahan buliran bening itu untuk tidak terjatuh. Bukan hanya Marissa, Marcello pun tidak kalah sedih setelah mendengar berita tersebut.
"Adakah cara agar kedua bayi saya terlahir dengan kondisi sempurna, Dok? Saya akan bayar berapapun, yang penting kedua bayi saya sehat dan lahir dengan sempurna seperti bayi-bayi lainnya?!" ucap Marcello yang mulai nampak putus asa.
Tak ada satu katapun yang keluar dari bibir Marissa. Ia hanya bisa terisak sambil mendengarkan percakapan antara Dokter dan Suaminya.
Dokter menggelengkan kepalanya pelan dan hal itu benar-benar membuat hati Marcello hancur berkeping-keping.
"Apa yang akan terjadi pada bayi saya yang cacat itu, Dok?" lirih Marcello.
"Dia masih bisa bertumbuh, Tuan, tetapi mungkin tidak akan sesempurna janin yang satunya. Disini terlihat jelas bahwa salah satu anggota gerak janin Anda tidak berkembang dengan baik. Sedangkan yang satunya sudah bertumbuh dengan sempurna," jelas Dokter.
Marcello memejamkan matanya dan mencoba menerima kenyataan pahit ini.
Setelah pemeriksaan selesai dilakukan, merekapun segera pamit kepada Dokter cantik tersebut. Marcello menuntun Marissa yang masih shok dengan kenyataan pahit tersebut menuju mobilnya.
__ADS_1
Joe bergegas membukakan pintu mobil dan ia benar-benar bingung melihat ekspresi sedih kedua majikannya tersebut.
...***...