
"Tidak, Om! Maria berjanji tidak akan pernah menyesal. Maria akan terima bagaimanapun kondisi Om Udin," ucap Maria sungguh-sungguh.
Dylan menggaruk pelipisnya sambil memperhatikan ekspresi Maria saat itu. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Dylan merasa sangat senang karena sebenarnya ia pun menyukai Maria. Namun, Dylan masih ingin mengerjai sekaligus mengetes kesungguhan gadis itu.
"Tunggu sebentar, Nona Maria. Aku ingin minta izin sama Tuan Dylan dulu. Aku takut dia marah karena aku kelamanaan disini," ucap Dylan.
Maria pun menganggukkan kepala dan membiarkan Udin Kw pergi meninggalkannya di tempat itu. Dari kejauhan, Maria memperhatikan Dylan yang sedang merogoh saku celananya dan meraih sebuah ponsel.
Lelaki itu menghubungi seseorang dan merekapun bicara dengan serius. Entah apa yang dibicarakan oleh Dylan saat itu, yang pastinya gelagat lelaki itu terlihat mencurigakan.
Namun, Maria tidak mau ambil pusing. Ia sudah sangat pusing dengan masalah pertunangannya bersama lelaki menyebalkan itu. Tidak berselang lama, Dylan pun memutuskan panggilannya kemudian kembali menghampiri Maria.
"Nona Maria, ikutilah denganku."
Dylan mengulurkan tangannya ke hadapan Maria dan dengan senang hati Maria pun menyambut uluran tangan lelaki itu.
"Kita mau kemana, Om?" tanya Maria heran.
"Ke suatu tempat," sahut Dylan sembari menuntun Maria memasuki mobil mewahnya.
"Tapi, motorku?"
"Motor kesayanganmu tidak akan kenapa-napa, percayalah padaku."
Walaupun sebenarnya Maria masih ragu, tetapi Maria tidak punya pilihan lain selain mempercayai ucapan Dylan dan membiarkan motor kesayangannya ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan.
"Baiklah."
__ADS_1
Setelah Dylan berhasil menuntun Maria masuk dan duduk manis di dalam mobilnya, Dylan pun segera menyusul gadis itu.
Dylan tidak bicara sepatah katapun saat ia melajukan mobil mewah tersebut. Namun, senyum dan lirikan mata yang selalu tertuju pada Maria sudah cukup mewakili perasaan Dylan yang sebenarnya kepada gadis itu.
"Sebenarnya kita mau kemana, Om? Jangan bikin Maria takut," ucap Maria yang mulai cemas.
"Sebentar lagi kita akan sampai, Nona Maria. Sabar, ya."
Setelah beberapa saat, Dylan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah kecil yang hanya berukuran 4x5 meter. Dylan keluar dari mobil kemudian menghampiri Maria yang kini sudah berdiri di depan rumah kecil tersebut.
"Rumah siapa ini, Om?" tanya Maria yang nampak kebingungan.
"Inilah tempat tinggalku, Nona Maria. Mari," ajak Dylan.
Sambil terus tersenyum, Dylan menuntun gadis itu menghampiri rumah kecil itu. Dylan meraih sebuah kunci yang terletak di antara lubang udara yang ada di atas pintu. Setelah menemukan kunci tersebut, Dylan pun membuka pintu dan mempersilakan Maria untuk masuk ke dalam.
Maria memperhatikan sekeliling ruangan di dalam rumah kecil itu. Tidak ada barang berharga disana, yang ada hanya beberapa buah kursi kayu dan lemari kayu yang juga sudah nampak usang.
"Apa kamu masih yakin ingin menikah denganku, Nona Maria? Sekarang kamu sudah tahu bagaimana keadaanku yang sebenarnya, 'kan?"
Maria masih penasaran dengan rumah kecil yang diakui Dylan sebagai rumahnya. Ia bahkan menjelajahi hingga ke dalam sebuah kamar yang hanya berdinding tirai. Tempat tidurnya kecil dan hanya terbuat dari kayu yang disusun sedemikian rupa. Maria terus menjelajahi rumah kecil itu tanpa bicara sepatah katapun.
"Bagaimana, Nona Maria?" tanya Dylan lagi sambil memperhatikan wajah cantik Maria yang nampak memucat.
"Dimana kamar mandi dan kamar kecilnya?"
"Untuk kamar mandi dan kamar kecilnya, kami gunakan kamar mandi umum yang ada di luar sana," jawab Dylan sembarangan. Padahal ia sendiri tidak tahu dimana kamar mandi dan kamar kecil itu berada.
__ADS_1
"Jadi, kalau Om ingin mandi atau poop harus antri dulu begitu?"
"Tidak juga kalau tidak sedang rame," jawab Dylan yang hampir saja tidak bisa menahan gelak tawanya.
"Ya, Tuhan. Kepalaku pusing," ucap Maria sembari menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi kayu yang ada di ruangan itu.
"Kamu kenapa, Nona?" tanya Dylan seraya menghampiri Maria.
Maria membayangkan bagaimana jika dia menjadi istri Om Udin dengan hidup di tempat sekecil itu dan dengan keadaan yang seperti itu. Setelah berpikir keras, akhirnya Maria memutuskan.
"Aku bersedia, Om Udin! Aku rela hidup begini asalkan bersamamu. Dari pada harus hidup bersama lelaki menyebalkan itu," ucap Maria mantap.
"Serius, Nona?" tanya Dylan sambil terkekeh.
"Ya, coba lihatlah wajahku, aku sangat serius saat ini!" sahut Maria dengan mata membulat.
Dylan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia tidak tahu apa yang membuat Maria bisa mengambil keputusan senekad itu.
"Sebenarnya ada apa dengan calon tunanganmu, Nona Maria? Apa dia seburuk itu hingga kamu tidak ingin menikah dengannya?"
"Entahlah, Om. Aku tidak suka sama Tuan Aidan. Dia terlalu angkuh dan juga sombong. Belum apa-apa saja, dia sudah malu mengakui aku sebagai calon tunangannya," lirih Maria dengan wajah sendu.
Dylan membulatkan matanya dengan sempurna setelah mendengar penuturan Maria.
"Apa?!" pekik Dylan. "Siapa tadi namanya?"
"Tuan Aidan, Aidan Tristan anak dari Tuan Alfonso, rekan bisnis Daddy," jawab Maria.
__ADS_1
...***...