
Hari ini Riyadh dan Dian bertamu ke kediaman Marcello dan Marissa. Mereka berniat menyampaikan berita bahagia itu kepada Marissa dan suaminya. Namun, tanpa sepengetahuan mereka, ternyata keluarga kecil itu sudah mengetahuinya lebih dulu dari Zaid.
"Tidak apa, percayalah padaku."
Riyadh menggenggam erat tangan Dian dan menuntunnya memasuki mansion Marcello. Ternyata kedatangan mereka sudah ditunggu-tunggu oleh Marcello dan Marissa.
"Selamat datang, Tuan Riyadh, Ayah Mertuaku," goda Marcello sembari merentangkan tangannya kepada Mertua sekaligus sahabatnya itu.
"Kamu memang tidak pernah berubah, Marcello. Kamu tetap lelaki menyebalkan yang suka menggodaku," balas Riyadh sembari memeluk tubuh Marcello dan menepuk-nepuk punggungnya.
Sedangkan Marissa segera menghambur ke pelukan sang Ibu yang sudah hampir satu bulan ini tidak pernah menemuinya.
"Tuh 'kan, Ibu. Dede belum lahir aja, Marissa sudah dilupakan. Apalagi kalau Dede sudah lahir," keluh Marissa di dalam pelukan sang Ibu.
Dian menatap Riyadh ketika Marissa mengucapkan hal itu kepadanya. Ia bingung harus menjawab apa pada anak perempuannya tersebut.
"Jangan terlalu dipikirkan, Riyadh. Dia itu seperti anak kecil yang sedang cemburu pada calon adiknya," bisik Marcello sembari mengedipkan matanya kepada Riyadh.
Riyadh menutup mulutnya agar tawanya tidak kedengaran oleh bumil sensitif itu. Marcello mempersilakan Riyadh untuk duduk bersamanya dan mulai berbincang di ruangan itu.
Sedangkan Marissa memilih berbincang bersama Ibunya.
"Bu, janji ya sama Marissa. Jika nanti Dede lahir, Ibu tidak akan melupakan Marissa," lirihnya dengan mata berkaca-kaca menatap Dian.
"Ya, Marissa sayang. Ibu berjanji padamu. Kamu adalah anak perempuan Ibu yang paling istimewa, paling spesial dan tidak akan pernah ada yang mampu menggeser posisimu di hati Ibu, Nak." Dian menitikkan air matanya ketika mengucapkan hal itu kepada Marissa.
Ya, mengingat perjuangan Marissa sampai berada di titik ini bukanlah hal yang mudah. Marissa bahkan sudah berjuang ketika ia mulai menarik napasnya di dunia ini.
__ADS_1
"Benar ya, Bu. Ibu janji."
"Ya, Nak. Ibu berjanji padamu."
Sementara para keluarga pemilik mansion sedang asik berbincang, memperbincangkan masalah kehamilan Dian yang baru memasuki bulan ke-tiga. Sofia sedang asik membantu pekerjaan para pelayan. Walaupun ia sudah menjadi istri dari seorang Joe, tetapi ia tidak pernah sungkan membantu pekerjaan para pelayan di mansion itu.
"Hei, hei! Sini, bantuin aku!"
Sofia memanggil salah seorang Bodyguard untuk membantunya memegang tangga portable yang sedang ia naiki. Saat itu Sofia tengah membersihkan kaca depan mansion dan untuk menggapai bagian yang tinggi, ia menggunakan alat tersebut.
"Ya, Nona?"
"Tolong pegangin, jangan sampai aku jatuh ya!" titah Sofia sembari menunjuk tangga yang sedang ia naiki.
"Baik, Nona."
Sang Bodyguard pun memegangi benda tersebut dengan erat. Sedangkan Sofia melanjutkan pekerjaannya di atas sana.
"Ya?"
"Bukankah masih banyak pelayan lain yang bisa mengerjakan pekerjaan ini? Bagaimana jika Tuan Joe melihat hal ini, bisa-bisa Tuan Joe marah besar," ucap Bodyguard dengan wajah cemas.
Terdengar suara Sofia yang sedang terkekeh di atas. "Tuan Joe tidak akan marah, kamu tenang saja!" sahutnya dengan sangat yakin.
Tiba-tiba saja kepala Sofia mendadak pusing. Kepalanya terasa berputar-putar tujuh keliling hingga akhirnya tubuhnya pun ikut oleng dan terjatuh.
Bruughkkk ....
__ADS_1
Beruntung, Bodyguard itu sigap. Ia segera menangkap tubuh Sofia yang jatuh melayang. Untuk beberapa saat, Bodyguard terdiam sambil memperhatikan wajah Sofia yang memucat dengan mata terpejam.
"Nona Sofia, Anda tidak apa-apa?" tanya Bodyguard.
Belum sempat Sofia menjawab pertanyaan sang Bodyguard. Terdengar suara berat seseorang dari belakang mereka.
"Heh, sedang apa kalian disana?!"
Sontak Bodyguard menoleh dan Sofia bergegas turun dari tubuh sang Bodyguard setelah tahu bahwa Joe sedang menatap mereka dengan wajah kesal.
"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya membantu Nona Sofia saja," ucap Bodyguard sambil menundukkan kepalanya.
"Kau, kembalilah ke tempatmu!" titah Joe kepada Bodyguard.
"Siap, Tuan." Bodyguard pun bergegas pergi dari tempat itu.
"Dan kau!"
Joe menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sudah berulang kali Joe mengatakan pada Istri kecilnya itu agar tidak melakukan pekerjaan berat. Namun, wanita itu memang tidak pernah mau diam. Selalu melakukan apa yang menurutnya benar.
"Bukankah sudah sering aku katakan padamu bahwa kamu--" Belum habis Joe berkata-kata, Sofia sudah memotongnya.
"Tidak usah melakukan pekerjaan berat karena masih banyak pelayan lain yang melakukannya. Ya, aku tahu, Mas. Tapi entah mengapa tanganku ini gatal kalau lihat ada pekerjaan yang belum di kerjakan oleh pelayan," jawab Sofia.
"Alasan! Aku tidak mau tahu, setelah ini kamu harus di hukum karena sudah berani melanggar perintahku! Apalagi kamu sudah membuat aku kesal dengan berpelukan bersama Bodyguard itu."
"Berpelukan? Siapa yang berpelukan, Tuan Joe?! Aku itu terjatuh dan Bodyguard menolongku," kesal Sofia sambil menekuk wajahnya.
__ADS_1
"Tidak mau tahu," ucap Joe sambil berlalu.
...***...