Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 108


__ADS_3

Setibanya di perusahaan milik sang Ayah, Zaid segera melakukan pekerjaannya. Walaupun cuma bekerja paruh waktu, disela kuliahnya, tetapi hasil pekerjaan Zaid di perusahaan Tuan Riyadh bisa di acungi jempol.


Ketika ia masih melakukan pekerjaannya, tiba-tiba saja ia melihat sang Ayah yang sedang berjalan menuju ruangannya. Zaid teringat akan cerita Ibunya barusan tentang perceraian yang dilontarkan oleh sang Ayah.


Zaid bangkit dan meninggalkan meja kerjanya. Ia berjalan mengikuti sang Ayah dari kejauhan tanpa sepengetahuan Tuan Riyadh. Hingga Zaid menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruangan itu.


Tok ... tok ... rok ....


"Masuklah,"


Terdengar suara Riyadh dari dalam ruangan. Setelah Riyadh mempersilakan dirinya masuk, Zaid pun bergegas menghampiri sang Ayah yang menyambutnya dengan sebuah senyuman hangatnya.


"Ada apa, Zaid. Sepertinya kamu sedang ada masalah? Coba ceritakan sama Papa," ucap Riyadh sambil memperhatikan Zaid yang kini duduk tepat di hadapannya.


"Apakah yang dikatakan oleh Mama itu benar, Papa ingin segera menceraikannya?" tanya Zaid serius.


Riyadh menghembuskan napas kasar kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi kerajaannya.


"Ya, Zaid. Itu benar."


"Tapi kenapa, Pah? Apakah masalah kalian tidak bisa dibicarakan secara baik-baik, tanpa harus adanya perpisahan?" kesal Zaid dengan wajah memerah menatap Riyadh.


Riyadh mencoba menyunggingkan sebuah senyuman tipis untuk anak lelakinya itu. Walaupun Zaid tidak berkeinginan untuk membalas senyumannya.

__ADS_1


"Begini, Zaid. Berhubung kamu sudah dewasa, Papa akan menceritakan semuanya. Semuanya, tanpa ada yang harus ditutupi lagi."


Sorot tajam dari kedua bola mata Zaid kini tertuju pada sang Ayah. Ia sudah tidak sabar menunggu penjelasan dari lelaki itu.


"Dulu ketika kamu masih kecil, secara tidak sengaja Papa memergoki Mamamu sedang bercinta dengan seorang laki-laki--"


"Jangan mencoba memutar balikkan fakta, Pah!" sela Zaid dengan wajah memerah menatap sang Ayah. Ia tidak terima ketika Ibunya di fitnah seperti itu oleh Riyadh.


"Dengarkan cerita Papa, Zaid. Dengarkan hingga selesai, setelah itu kamu bisa menyimpulkan siapa yang salah dan siapa yang benar," ucap Riyadh sambil mengelus tangan Zaid yang sudah mengepal sempurna di atas meja kerjanya.


Zaid menarik napas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan untuk mengontrol emosinya.


"Baiklah, lanjutkan."


"Malam itu adalah malam yang benar-benar naas buat Papa. Setelah memergoki Mamamu berselingkuh, kami pun bertengkar hebat. Mungkin perselingkuhan itu terjadi bukan semata karena kesalahan Mamamu. Mungkin juga karena kesalahan Papa yang begitu terlena pada dunia bisnis dan karier Papa, hingga Mamamu merasa terabaikan. Ia memilih bersenang-senang dengan lelaki lain karena Papa yang tak pernah memiliki waktu untuknya dan juga dirimu saat itu. Setelah pertengkaran itu, Mamamu memilih pergi dari rumah. Sedangkan Papa, menghabiskan waktu dengan mengurung diri di ruang kerja sambil menenggak minuman sialan itu."


Mata Riyadh terlihat berkaca-kaca, rasa sakit yang ia pendam selama bertahun-tahun lamanya, sekarang kembali menyeruak dan membuat dadanya terasa sesak.


Ekspresi Zaid pun mulai berubah. Yang tadinya ia terlihat sangat marah dan kesal, perlahan melunak. Bahkan ada rasa iba terbesit di hatinya ketika mendengar penuturan sang Ayah.


"Saat itu kamu dirawat oleh seorang gadis belia yang baru berusia 17 tahun. Walaupun usianya masih sangat muda, tetapi dia benar-benar bisa diandalkan. Dia gadis yang baik dan sangat sopan."


"Dian?" sela Zaid.

__ADS_1


"Ya, namanya Dian," jawab Riyadh yang kembali terdiam sejenak sembari mengingat-ingat kejadian di malam naas itu.


"Malam itu Papa berniat menjengukmu, Zaid. Dengan tergopoh-gopoh, Papa melangkah menuju kamarmu dan ternyata kamu tidak sendirian. Ada Dian yang juga tertidur disamping tempat tidurmu. Entah setan apa yang merasuki pikiranku, malam itu kuhancurkan masa depan gadis itu dalam sekejap mata,"


Riyadh kembali terdiam, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ingatan mengerikan itu seakan kembali menghantui pikirannya.


"Karena merasa bersalah, Papa berniat bertanggung jawab dan ingin menikahi gadis itu. Papa pun sudah mencoba ikhlas dengan perselingkuhan yang dilakukan oleh Mamamu asalkan dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Papa terus membujuk Mamamu agar dia memberiku izin untuk menikahi gadis itu, tetapi Mamamu tetap bersikeras dengan pendiriannya. Selama dua bulan semenjak kejadian itu, kami terus bertengkar setiap kali Papa mengatakan keinginan untuk menikahi Dian. Hingga akhirnya Dian menghilang dari kehidupan kami,"


"Kemana dia? Apakah dia lari darimu atau," tanya Zaid penasaran.


Riyadh tersenyum sinis menatap Zaid. "Menurutmu?"


"Entahlah," jawabnya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Menurut Dian, Mamamu menyewa dua orang laki-laki untuk menyingkirkannya di malam itu. Beruntung, Dian selamat karena berhasil kabur dari mereka."


"Tidak mungkin!" Zaid kembali tidak terima.


"Tidak mungkin Mama sejahat itu! Bisa saja 'kan wanita itu hanya membohongimu, Pah!" kesal Zaid.


"Papa masih menyelidiki semuanya, Zaid. Dan maaf, jika Mamamu benar-benar melakukan seperti apa yang di ucapkan oleh Dian, maka Papa akan melaporkan perbuatannya kepada yang berwajib."


Zaid terdiam, sekarang ia benar-benar dilema. Omongan siapa yang harus ia percaya sekarang, Papa atau Mamanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2