Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 129


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Jie pun tiba di halaman Mansion. Lagi-lagi, Sofia bergumam ria dengan mata membulat sempurna setelah melihat kemegahan bangunan itu.


"Wah, Tuan! Ini namanya apaan? Rumah, gedung atau apa?"


"Terserah apa katamu, sekarang cepat keluar!" titah Joe.


Sofia pun segera keluar dari mobil kemudian mengikuti Joe yang berjalan mendahuluinya memasuki Mansion. Langkah Joe yang panjang, membuat Sofia kewalahan ketika mengikutinya.


"Ya ampun, Tuan! Tidak bisakah kamu jalan perlahan agar aku tidak kesulitan mengikutimu?" gumamnya dengan setengah berlari.


Ketika melewati ruang utama, mereka bertemu dengan Marissa. Saat itu Marissa ingin menemui Ibunya, ada sesuatu hal yang ingin ia bicarakan.


"Nona Marissa," sapa Joe sambil membungkuk hormat kepada Marissa.


Sofia menghampiri Joe dengan mata membulat menatap Marissa.


"Tuan, siapa wanita cantik itu? Dia manusia atau boneka Barbie? Cantik sekali!" kata Sofia dengan setengah berbisik kepada Joe.


"Apa yang aku katakan barusan kepadamu?!" kesal Joe.


Sofia teringat akan pesan lelaki itu bahwa dia tidak boleh banyak bicara. Hanya boleh bicara yang penting-penting saja. Sofia menutup bibirnya rapat dan meminta maaf kepada Joe dengan bahasa isyarat.


"Ada apa, Om? Dan-- dia siapa?" tanya Marissa sembari memperhatikan Sofia yang berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk.


"Dia Pelayan baru disini, Nona. Namanya--" Joe bahkan lupa siapa nama gadis itu. "eh, siapa namamu? Perkenalkan dirimu kepada Nona Marissa," sambung Joe.


Sofia mengangkat kepalanya kemudian tersenyum kepada Marissa dan Marissa pun membalas senyuman manis gadis itu.


"Nama saya Sofia, Nona. Usia saya baru genap 20 tahun dan pekerjaan saya sebelumnya berjualan kue keliling," ucap Sofia dengan wajah semringah memperkenalkan dirinya kepada Marissa.


Marissa kembali tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Wah, kita hampir seumuran, ya. Dan itu apa?" Marissa menunjuk keranjang kue yang sejak tadi di tenteng oleh Sofia.


"Ini keranjang kue saya, Nona."


Marissa mengintip isi keranjang kue milik Sofia dan entah mengapa ia penasaran kue apa yang dijual oleh gadis itu.


"Sepertinya masih ada kuenya, ya? Boleh aku lihat kuenya?"


Dengan ragu-ragu, Sofia mengeluarkan isi keranjangnya. Ia mengeluarkan beberapa buah kue bolu kukus berwarna-warni yang dibungkus plastik.


"Tadi saya sempat di palak oleh beberapa orang preman, Nona. Mereka melemparkan keranjang kue saya dan ini adalah sisa kue yang masih bisa di makan dan saya berencana akan membawanya pulang," lirih Sofia dengan wajah sedih menatap kue-kuenya.


Marissa menghampiri Sofia kemudian merengkuh pundak gadis itu.


"Om Joe, tinggalkan dia disini. Aku masih ingin bicara dengannya," titah Marissa.


"Baik, Nona."


"Kemarilah, Sofia."


Marissa menuntun Sofia duduk di kursi yang ada di ruang utama bersamanya.


"Tidak, Nona. Sebaiknya saya duduk di bawah saja," tolak Sofia.


"Tidak apa-apa, Sofia. Ini perintahku dan kamu tidak boleh menolak," jawab Marissa.


Mau tidak mau, Sofia pun terpaksa duduk di sofa tersebut bersama Marissa. Padahal ia sangat malu. Ia merasa bahwa dirinya tidak pantas duduk bersama seorang wanita cantik dan kaya raya seperti Marissa.


"Sini, mana kuenya tadi? Boleh 'kan aku minta satu?" pinta Marissa sambil mengulurkan tangannya kepada Sofia.


"Tapi-- kuenya sudah jatuh ke tanah, Nona. Saya takut kuenya kotor," jawab Sofia.

__ADS_1


"Tidak apa, 'kan masih terbungkus plastik. Lagipula kamu tidak boleh menolak keinginanku, loh. Nanti bayiku ileran," ucap Marissa sambil terkekeh.


"Hah?! Maafkan saya, Nona! Saya benar-benar lupa bahwa Anda sedang hamil muda," sahut Sofia sambil meneluarkan isi keranjang kuenya.


Marissa meraih kue bolu berwarna hijau dengan varian rasa pandan. Ia membuka bungkusnya kemudian mulai mencicipi kue tersebut.


"Ini buatanmu sendiri, Sofia?" tanya Marissa sambil menikmati kue tersebut.


"Ya, Nona. Bagaimana rasanya?"


Dengan wajah cemas, Sofia menatap wajah Marissa dan ia ingin tahu bagaimana pendapat Marissa soal kue buatannya.


"Kuemu enak, Sofia. Dan aku suka," jawab Marissa.


Sofia menghembuskan napas lega sambil tersenyum hangat kepada bumil cantik itu. Sofia bahkan tak hentinya menatap wajah cantik Marissa.


"Orang tuamu masih ada, Sofia?" tanya Marissa lagi.


Setelah menghabiskan satu buah kue bolu berwarna hijau, kini ia meraih kue berwarna merah dengan varian rasa strawberry.


"Hanya tersisa Ibu, Nona. Ayah saya sudah pergi meninggalkan kami entah kemana. Mungkin ia sudah bahagia bersama keluarga barunya, entahlah. Sedangkan Ibu-- Ibu sedang sakit dan hanya saya harapan Ibu satu-satunya," tutur Sofia.


Tiba-tiba Marissa teringat akan masa lalunya. Dimana ia juga pernah berada di posisi Sofia. Saat Melinda sakit-sakitan dan hanya berharap pada dirinya serta Marcello yang hidup mewah dan menikmatinya bersama wanita lain. Walaupun Melinda dan Marcello hanyalah orang tua angkat, tetapi ia tahu apa yang di rasakan oleh Sofia saat ini.


"Yang sabar ya, Sofia. Sepertinya kita bisa menjadi teman baik setelah ini. Karena aku juga pernah berada di posisimu, persis."


"Benarkah, Nona?"


"Ya,"


...***...

__ADS_1


__ADS_2