
"Sudah, jangan banyak omong. Apa kamu tidak merasakan bahwa di bawah sana 'King Cobra' ku sudah bangkit?" ucap Marcello.
"Ih, Daddy. Masa kita melakukannya disini?"
Wajah Marissa merona. Memang sudah sejak tadi Marissa merasakan King Cobra milik sang Daddy berkeliaran di bawahnya.
"Kenapa tidak? Bukankah kita sudah sering melakukannya di tempat ini?" jawab Marcello yang kini memutar balikkan tubuhnya dan kini posisinya berada di atas Marissa. Marcello mengurangi volume air di bath up sebelum mereka memulai aksi panas mereka.
"Aku akan melakukannya dengan perlahan," ucap Marcello sembari memasukkan King Cobra ke sarangnya. Perlahan tapi pasti, King Cobra yang sudah jarang bertemu dengan goanya, begitu bersemangat keluar dan masuk.
"Tidak sakit, 'kan?"
Marissa menggelengkan kepalanya dengan wajah merona menatap sang suami yang sedang berada di atas tubuhnya. Ia mengalungkan tangannya ke tengkuk Marcello kemudian menenggelamkan wajah lelaki itu ke dadanya.
Cukup lama mereka bergelut didalam bath up hingga Marissa mulai merasakan kram pada perutnya.
"Uh!"
Marcello yang masih asik memacu 'King Cobra'nya, mendadak berhenti dan mulai panik.
"Kamu tidak apa-apa, Cha?"
Marissa mengelus lembut perutnya yang terasa kencang dan membuat ia merasa tidak nyaman. Marcello yang terserang panik, segera mengangkat tubuh Marissa dan membawanya kembali ke kamar. Dengan perlahan ia meletakkan tubuh Marissa dan ikut mengelus perut Istrinya tersebut.
"Masih sakit? Apa perlu kita ke Rumah Sakit?" tanya Marcello yang masih panik.
Marissa tersenyum kecut sambil mengelus perutnya yang masih terasa kencang.
__ADS_1
"Mungkin posisi kita ada yang salah, Dad, makanya berpengaruh pada perutku. Mungkin dengan beristirahat sebentar, perutku akan kembali seperti semula," sahut Marissa, mencoba menenangkan Marcello.
"Benarkah? Kamu yakin begitu?"
Marissa menganggukkan kepalanya. "Ya!"
"Maafkan aku, Cha. Sepertinya aku tidak akan melakukannya lagi,"
Marcello meraih tubuh Marissa kemudian melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala istrinya itu. Marissa memperhatikan ekspresi wajah panik Marcello dan ia sempat terkekeh, apalagi setelah mendengar ucapan lelaki itu barusan.
"Daddy tidak usah sepanik itu. Percayalah aku dan bayimu akan baik-baik saja. Mungkin Marcello dan Marissa Junior sedikit shock karena King Cobra milik sang Daddy menjenguk mereka," tutur Marissa.
"Tapi aku takut, Cha. Ini anak pertama kita dan aku terjadi apa-apa dengan kalian, kamu dan anak kita. Sebaiknya kita cek kandunganmu besok," ucap Marcello.
Lelaki itu bangkit kemudian berjalan menuju ruangan tempat ia menyimpan pakaiannya. Ia meraih piyama tidur dan segera mengenakannya.
"Kita harus kuat, Boy! Demi Marcello Junior. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada bayiku," gumam Marcello sembari mengelus 'King Cobra'nya yang sudah loyo.
"Yuk, kita pelukan!" ajak Marcello sembari meraih tubuh Marissa ke dalam pelukannya.
. . .
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.00. Di saat penghuni Mansion sudah mulai larut di alam mimpi mereka, Dian terbangun dari tidurnya dan entah mengapa saat itu ia merasa sangat haus. Ia ingin minum sesuatu tetapi di dalam kamarnya stok air minum sudah habis. Terpaksa Dian pun harus berjuang menuju dapur.
Setibanya di dapur, Dian berencana membuat secangkir teh hangat. Ketika ia sedang membuat teh tersebut tiba-tiba Joe sudah berada didalam ruangan itu.
"Akh! Tuan Joe!?" pekik Dian yang begitu terkejut melihat Joe berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Nyonya Dian, karena sudah mengagetkanmu. Aku baru saja berkeliling, memantau keadaan Mansion dan tiba-tiba aku melihatmu di sini," ucap Joe.
"Duduklah, Tuan Joe. Akan kubuatkan teh hangat untukmu," ajak Dian.
"Tidak perlu, Nyonya Dian. Aku--"
Belum selesai Joe bicara, teh hangat sudah tersedia di atas meja.
"Mari minum."
Dian tersenyum sembari duduk disalah satu kursi kemudian mempersilakan Joe untuk duduk bersamanya. Joe pun akhirnya setuju. Ia meraih kursi yang letaknya tepat berseberangan dengan tempat duduk Dian.
"Terima kasih, Nyonya Dian."
"Sama-sama."
Joe mulai menyeruput teh hangat buatan Dian dan sejenak ruangan tersebut kembali hening. Hanya terdengar suara Dian dan Joe yang bergantian menyeruput teh tersebut.
"Selamat ya, Nyonya Dian. Tinggal beberapa hari lagi pernikahanmu dan Tuan Riyadh akan segera dilaksanakan. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Joe seraya meletakkan cangkir tehnya ke atas meja.
"Terima kasih, Tuan Joe. Dan maafkan aku, jika aku sudah membuatmu kecewa," tutur Dian dengan kepala tertunduk. Ia tidak berani menatap wajah Joe saat itu.
Joe tersenyum kemudian kembali meraih teh hangat buatan Dian dan menyeruputnya lagi. "Tidak, Nyonya Dian. Aku tidak kecewa karena aku memang tidak pernah berharap lebih."
Dian mengangkat kepala dan menatap lelaki di hadapannya. Lelaki itu tersenyum saat menatapnya.
"Semoga kamu mendapatkan seorang wanita yang baik, Tuan Joe. Wanita yang akan selalu setia menemani hari-harimu,"
__ADS_1
"Amin," jawab Joe. Entah mengapa, tepat disaat itu wajah polos Sofia tiba-tiba saja terlintas dipikirkannya.
...***...