Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 134


__ADS_3

"Daddy, ya?! Pliss ...," rengek Marissa sambil terus melangkah bersama Marcello menuju halaman depan.


Marcello hanya bisa menggelengkan kepala mendengar permintaan aneh sang istri, menjodohkan sang Assisten dan seorang Pelayan.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Joe sambil membungkuk hormat kepada Marcello dan Marissa yang kini berdiri di hadapannya.


Begitupula para Bodyguard yang berkumpul di sana. Merekapun turut membungkuk hormat dan mengucapkan 'selamat pagi' untuk Big Boss mereka.


"Joe, apa kau dengar rengekan Icha-ku? Dia meminta agar aku menjodohkanmu dengan pelayan baru itu, si Susi," ucap Marcello tanpa mempedulikan ekspresi Marissa saat itu.


Marissa membulatkan matanya kemudian memukul lengan kekar Marcello sambil menggerutu.


"Ish, Daddy kenapa dibilangin!!! Lagian nama gadis itu bukan Susi, Dad! Namanya Sofia, S-o-f-i-a!!!" kesal Marissa sampai-sampai ia mengeja nama gadis itu.


"Ya, itu. Siapapun namanya, terserah," jawab Marcello tak acuh.


Joe terkekeh pelan mendengar perdebatan kecil yang terjadi antara Marcello dan Marissa. Padahal tadinya ia sempat bingung mendengar dirinya akan di jodohkan bersama seorang pelayan bernama Susi.


Ya, memang benar. Di Mansion tersebut ada seorang Pelayan yang bernama Susi, seorang janda yang usianya pun sudah tidak muda lagi. Jauh di atas Joe. Masa iya, ia harus berjodoh dengan wanita itu, begitulah pikir Joe.


"Nah, Joe. Bagaimana? Apa kamu setuju dijodohkan bersama gadis yang bernama Sofia?" tanya Marcello masih dengan ekspresi malasnya.

__ADS_1


Joe menyunggingkan sebuah senyuman untuk pasangan itu kemudian berucap.


"Maafkan saya, Tuan. Bukan maksud saya menolak keinginan Nona Marissa. Tetapi, Sofia bukanlah tipe saya. Dia masih terlalu muda dan sangat polos. Dan sepertinya dia lebih cocok menjadi anak gadis saya, bukan sebagai pasangan hidup saya," jawab Joe dengan senyuman yang terus mengambang di wajahnya.


"Nah, Cha. Tugasku selesai dan kamu sudah dengar sendiri 'kan bahwa Joe tidak bisa menerima permintaan anehmu itu," ucap Marcello sambil tersenyum tipis menatap wajah kesal Marissa.


"Awas saja kamu ya, Om Joe! Nanti jika suatu saat Om jatuh cinta pada gadis itu, Icha sumpahin biar Om Joe bucin akut sekalian!"


Marissa kesal kemudian melenggang meninggalkan kumpulan para lelaki itu. Joe dan Marcello saling tatap dan mereka sama-sama menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan Marissa.


"Sebenarnya aku takut, Tuan Marcello. Aku takut menjadi bodoh sama seperti Anda. Mendadak bodoh setelah jatuh cinta pada seorang gadis ingusan, seperti Nona Marissa," batin Joe.


. . .


"Sebentar lagi," jawab Marissa sembari memoleskan lipstik berwarna nude di bibir seksinya.


Marcello menghampiri Marissa yang sedang bersolek di depan cermin rias. Ia memperhatikan wajah cantik sang Istri dari dalam cermin sambil tersenyum.


"Kamu cantik sekali, Mommy. Bolehkah aku mencicipi bibir seksi itu?" goda Marcello.


"Tentu saja boleh, Daddy."

__ADS_1


Marissa membalikkan badan kemudian bengkit dan mengalungkan tangannya ke tengkuk Marcello. Sedangkan tangan Marcello melingkar tepat di pinggul sang Istri. Mata pasangan itu saling bertaut, hingga akhirnya Marcello tidak tahan lagi untuk tidak mencicipi bibir seksi milik Marissa.


Ehmm ...


Ehmm ...


Untuk beberapa saat mereka terlena dengan ciuman panas serta liar yang mereka lakukan. Melumatt bibir atas dan bawah serta menautkan lidah-lidah mereka. Ciuman panas itu bahkan membuat Marcello dan Marissa lupa akan tujuan mereka setelah ini. Pergi ke Dokter Kandungan langganan Marissa untuk memeriksakan kandungannya.


"Ehm, Dad." Marissa menghentikan aksi panas mereka kemudian tersenyum kepada lelaki itu. "bukankah kita ingin cek ke Dokter? Kalau seperti ini terus, yang ada kita berakhir ke atas tempat tidur dan bukan ke Dokter Kandungan," lanjut Marissa.


Marcello terkekeh kemudian mengelus lembut pipi Marissa. "Kamu benar, sebaiknya kita berangkat sekarang."


Marissa kembali merapikan lipstiknya dan setelah rapi, ia pun segera memeluk lengan kekar itu kemudian melangkah bersama menuju halaman depan, dimana Joe sudah menunggu kehadiran mereka.


Joe tersenyum hangat menyambut kedatangan pasangan itu dan segera membukakan pintu mobilnya. Setelah kedua Majikannya tersebut duduk dengan nyaman di dalam sana, Joe pun segera melajukan mobilnya meninggalkan Mansion dan menuju tempat praktek Dokter Kandungan terbaik langganan Marissa.


"Semoga bayi kita baik-baik saja ya, Cha," ucap Marcello sambil mengusap lembut perut Marissa.


"Ya, Dad. Semoga ia selalu sehat hingga hari H-nya nanti," jawab Marissa sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


Di sepanjang perjalanan Marcello terus mengusap lembut perut Marissa. Dan kadang ia mengajaknya bicara dengan bahasa anak kecil. Marissa tidak hentinya terkekeh mendengar ocehan sang Suami yang sudah tidak sabar menimang anak. Karena di usianya yang sudah hampir menyentuh kepala empat, baru sekarang lelaki itu merasakan menjadi seorang calon Ayah.

__ADS_1


Joe pun beberapa kali melirik pasangan itu melalui kaca spion. Perasaan Joe campur aduk, antara senang dan juga kasihan melihat sang Majikan. Dan ia pun berharap bisa merasakan apa yang Marcello rasakan sekarang, walaupun ia tidak tahu entah kapan jodohnya datang.


...***...


__ADS_2