
"Ehm, sepertinya itu mobil si Hot Daddy, deh! Ah, benar itu mobil mereka! Gawat, mereka mengikutiku!" gumam Erika sembari memperhatikan mobil yang sedang melaju tepat dibelakang mobilnya dari kaca spion.
"Ya, Tuhan ... bagaimana ini!"
Dalam keadaan panik, Erika masih ingat akan ponselnya. "Hapus! Hapus! Hapus!!!"
Sambil melajukan mobilnya, ia menghapus chat dan kontak milik Fattan dari ponselnya. Tangannya gemetar, bahkan ponsel itu hampir saja terjatuh. Tepat disaat Erika selesai menghapus semua yang berhubungan dengan Marissa dan Fattan, mobil yang sedang melaju dibelakangnya berhasil menyalip mobilnya.
"O M G!!!" pekiknya.
Kini mobil itu berhenti tepat didepan mobil Erika. Seorang Bodyguard bertubuh besar dan berwajah sangar keluar dari dalam mobil kemudian melangkah menghampiri mobilnya. Seperkian detik berikutnya, beberapa Bodyguard lainnya menyusul Bodyguard pertama.
"Mati aku!" gumam Erika.
Tok ... tok ... tok ...
Bodyguard pertama mengetuk kaca pintu mobilnya dengan sangat kasar dan memerintahkan Erika untuk membuka kaca mobilnya.
"Buka!!!"
Perlahan, Erika mulai membuka kaca mobilnya. Ia mencoba tersenyum semanis mungkin agar mereka tidak mencurigai gelagatnya.
"Maaf, ada apa ya, Tuan?" tanya Erika.
"Keluar!" titah Bodyguard pertama.
Erika menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak, aku tidak mau! Kalian mau apa? Jangan macam-macam, ya, atau aku akan berteriak, sekencang-kencangnya!" ancam Erika dengan mata membulat menatap Bodyguard itu.
Tepat disaat itu Marcello dan Joe juga menghampiri mobilnya.
"Keluarlah, Erika. Ada yang ingin aku bicarakan," sela Marcello dengan nada yang lebih pelan agar Erika tidak ketakutan kepadanya.
__ADS_1
Erika menatap para lelaki yang sedang berdiri disamping mobilnya secara bergantian. Marcello, Joe dan para Bodyguard yang mengerikan itu. Didalam otaknya, Erika terus berpikir bagaimana caranya berbohong kepada Marcello dan membuat lelaki itu percaya bahwa dirinya sama sekali tidak tahu dimana Marissa sekarang.
"Anda Tuan Marcello, 'kan? Daddynya Icha? Loh, dimana Icha? Apa dia ikut Om kesini?" tanya Erika sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah ia sedang mencari keberadaan Marissa.
Perlahan, Erika keluar dari mobilnya. Ia kembali menyunggingkan sebuah senyuman kepada Marcello kemudian bersandar disamping mobilnya agar tubuhnya sedikit rileks. Karena saat ini Erika benar-benar ketakutan, lututnya saja bergetar dan terasa tidak mampu untuk menopang tubuhnya ketika berdiri.
"Justru aku ingin menanyakan tentang keberadaan Marissa kepadamu. Kamu adalah sahabat dekatnya, Erika. Aku yakin kamu pasti tau dimana Marissa sekarang berada, iya 'kan?" ucap Marcello.
Marcello menatap Erika dengan mata elangnya dan hal itu membuat nyalinya benar-benar menciut.
"I-Icha hilang? Yang bener, Om?!"
"Tidak usah berpura-pura, Erika. Katakan saja yang sebenarnya, jangan berpura-pura tidak tahu," lanjut Marcello dengan wajah malas.
"Serius loh, Om!"
"Lalu apa yang kamu lakukan di kediaman Marissa barusan? Apa kamu memata-matai kami?!" sela Joe dengan wajah memerah.
"Sini, mana ponselmu!"
Marcello mengulurkan tangannya kepada Erika dan meminta Gadis itu untuk menyerahkan ponselnya kepada lelaki itu.
"Untuk apa, Om?"
"Sudah sini? Kamu tidak mau, 'kan nih Om-Om sangar ini menggeledah isi mobilmu?!" ucap Marcello sambil mengangkat sebelah alisnya.
Lagi-lagi Erika ketakutan. Ia segera meraih benda pipih tersebut dari saku celana jeans yang ia kenakan, kemudian menyerahkannya kepada Marcello dengan tangan gemetar.
Marcello menyunggingkan sebuah senyuman tipis kepada Erika sembari meraih ponsel tersebut.
"Kenapa gemetar, Erika? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dibalik ponsel ini?!"
__ADS_1
"Tidak, tidak, Om! Aku hanya ketakutan karena mendengar ancaman Om tadi," jawab Erika sembari menggelengkan kepalanya.
Baru saja Marcello ingin membuka ponsel Erika, ternyata ponsel tersebut menggunakan sandi dan lelaki itu tidak dapat membukanya.
"Sandi!" ucapnya
"1213!" sahut Erika
Marcello pun segera membuka ponsel itu dengan sandi yang diucapkan oleh gadis tersebut.
Erika menelan salivanya dengan susah payah. Matanya masih tertuju pada ponselnya yang kini ada di genggaman lelaki itu.
"Ya, Tuhan! Semoga saja semua yang berhubungan dengan Icha sudah terhapus semua!" batinnya.
Marcello terus mengecek ponsel milik Erika dan kini wajah lelaki itu kembali masam. Ia sama sekali tidak menemukan apapun tentang Marissa disana.
"Kamu selamat, Erika. Semoga saja kamu benar-benar tidak mengetahui tentang keberadaan Icha kecilku. Karena jika kamu mengetahui tentang dirinya dan kamu menutupinya dariku, maka aku tidak akan segan-segan menuntutmu jika sesuatu terjadi padanya!!!" tegas Marcello sembari mengembalikan ponsel itu kembali ke tangan Erika yang terasa sangat dingin.
"I-iya, Om!" sahut Erika sembari memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celananya.
Marcello melangkah kembali menuju mobil dan meninggalkan Erika yang masih shok. Sedangkan Joe dan para Bodyguardnya segera mengikuti lelaki itu.
Ketika mobil yang ditumpangi oleh Marcello melewatinya, Gadis itu masih sempatnya tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Bye, Om!"
Hingga mobil para lelaki itupun berlalu. Erika kembali menyandarkan tubuhnya ke samping mobil sambil mengelus dada.
"Fiuhhh ... hampir saja!" gumamnya.
...***...
__ADS_1