Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 270


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang terjadi pada Kakakmu?"


Perlahan Maria menghampiri Dylan yang masih memeluk kakak perempuannya. Ia memberanikan diri untuk duduk di samping wanita itu walaupun sebenarnya ia merasa takut.


"Aku tidak tahu pasti apa yang sebenarnya pada Kakakku. Saat pertama kali aku bertemu dengannya, keadaannya sudah seperti ini," jawab Dylan.


"Siapa gadis ini, Dylan?" tanya wanita itu.


Ia memperhatikan wajah Maria dengan seksama seraya melerai pelukannya bersama Dylan. Wanita itu menatap lekat wajah Maria kemudian menyentuh kedua pipi gadis itu.


Maria terperanjat, ia takut wanita itu akan menyakiti dirinya. Namun, setelah melihat ke dalam matanya, Maria yakin bahwa wanita itu tidak akan melakukan hal buruk kepada dirinya.


"Kamu cantik sekali. Entah kenapa aku teringat akan wajah seseorang tapi aku tidak tahu siapa," ucapnya sambil menatap lekat wajah Maria.


Dylan meraih kedua tangan Kakaknya yang masih memegang wajah Maria kemudian mengajak wanita itu untuk kembali beristirahat.


Wanita itu terlihat sangat kelelahan setelah kejadian barusan. Dimana dia mencoba menyakiti dirinya sendiri dan juga para perawat yang sedang merawatnya.


"Sebaiknya Kakak istirahat saja, ya?" ajak Dylan.


"Dylan, tetaplah disini. Temani Kakak," lirih wanita itu sambil memegang tangan Dylan dengan sangat erat.


Dylan menghembuskan napas berat. Ia menatap Maria dengan tatapan sendu. Namun, saat itu Maria mengerti posisi Dylan. Ia menganggukkan kepalanya pelan kemudian membiarkan Dylan tetap berada di ruangan itu.


"Ehm, sebaiknya aku pulang saja. Aku yakin Mommy dan Daddy sudah mulai mencemaskan aku, Om."


"Aku akan mengantarkanmu," ucap Dylan.


"Tidak usah, biar Pak Udin aja yang nganterin Maria pulang. Sebaiknya Om disini saja, temenin Kakaknya Om," sahut Maria sembari melemparkan senyuman manisnya kepada lelaki itu.


"Apa kamu yakin, Maria?"


"Ya, sangat yakin," sahut Maria mantap.

__ADS_1


Akhirnya Dylan pun menganggukkan kepalanya. Ia meminta Pak Udin untuk mengantarkan Maria pulang. Sebelum Maria benar-benar pergi, ia sempat berpamitan kepada Kakak perempuan Dylan


"Maria pulang dulu ya, Kak?"


Maria terdiam sejenak. Mulutnya terasa kaku ketika harus memanggil wanita itu dengan sebutan Kakak. Bagaimana tidak, bisa jadi usia wanita itu lebih tua dari Mommynya.


"Kamu kenapa, Nak?"


Wanita itu tersenyum kemudian mengelus pipi Maria dengan lembut.


"Bukan apa-apa," sahut Maria, membalas senyuman wanita itu.


"Nanti main lagi kesini, ya. Temani Tante," ucapnya.


"Ehm, ya! Tentu saja, Maria janji!" seru Maria sambil membungkuk hormat kepada wanita itu.


Dylan pun tersenyum kemudian mengantarkan Maria hingga ke depan pintu kamar.


"Ehm ...." Maria mencubit pelan perut Dylan. Ia merasa lucu ketika Dylan menyebutnya dengan sebutan Nyonya Kitty. "Baiklah kalau begitu. Kalau aku adalah Nyonya Kitty, berarti kamu adalah Tuan Emon-ku."


"Dasar!" Dylan mengacak pelan puncak kepala Maria sambil tertawa pelan.


"Baiklah, aku pergi dulu. Bye!"


Maria melambaikan tangannya sambil tersenyum manis kepada Dylan. Dylan pun membalas lambaian tangan gadis itu. Namun, ia heran karena gadis itu tidak juga bergerak dari posisinya.


Dylan mengerutkan kedua alisnya. "Sekarang apa lagi?"


"Kiss ...." Maria memonyongkan bibirnya dengan mata terpejam kepada Dylan.


Dylan menarik tubuh gadis itu kemudian menyandarkannya ke dinding luar kamar. Ia mengungkung tubuh Maria dan membuat gadis itu kesusahan bergerak.


Dylan memegang kedua tangan Maria dengan erat. Tubuh kekar milik Dylan menempel sempurna dengan tubuh mungil gadis itu. Bahkan bulatan kenyal dengan ukuran ekstra itu kini terhimpit di antara tubuh keduanya.

__ADS_1


Maria memejamkan mata dan yang ada di pikirkannya saat itu adalah Dylan akan memberikan ciuman pertama untuknya. Namun ternyata dia salah, Dylan malah memilih mencium puncak kepalanya berkali-kali.


"Ish!" kesal Maria sambil menekuk wajahnya.


Ia membuka mata dan kini tatapan gadis itu fokus pada Dylan yang sedang tertawa, menertawakan dirinya yang sedang kesal.


"Kenapa kesal, Nona Kitty? Bukankah tadi kamu meminta kiss kepadaku dan sekarang aku sudah memberikan kamu kiss, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali."


Jawaban yang membuat Maria sangat kesal. "Hah, ya sudahlah! Terserah kamu saja."


Maria melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu dan juga Dylan yang masih terkekeh sambil memperhatikan Maria yang terus berjalan hingga menghilang dari tatapannya.


Setibanya di halaman depan rumah megah itu, Maria disambut oleh Pak Udin. Lelaki paruh baya yang sempat ia sangka Tuan Dylan itupun tersenyum sambil membukakan pintu mobil untuknya.


"Silakan masuk, Nona Maria."


"Terima kasih, Pak."


Setelah Maria masuk ke dalam mobil tersebut, Pak Udin pun segera melajukan mobilnya menuju mansion milik Tuan Marcello.


Di perjalanan.


"Pak Udin, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Ya, tentu saja, Nona," jawab Pak Udin yang masih fokus pada kemudinya.


"Apa Bapak tau kenapa Kakaknya Tuan Dylan bisa jadi seperti itu? Pak Udin pasti tahu karena Pak Udin 'kan sudah lama bekerja bersama Tuan Dylan," tanya Maria yang nampak ragu-ragu.


"Saya kurang tahu juga, Nona. Cuma yang saya dengar semua itu berkaitan dengan kejadian di masa lalunya. Namun, sayangnya Kakak Tuan Dylan ini susah di ajak ngomong. Kadang nyambung dan lebih sering gak nyambung. Sebab itulah, hingga saat ini Tuan Dylan pun tidak tahu apa yang membuat Kakaknya menjadi seperti itu. Semuanya hanya menduga-duga," tutur Pak Udin.


"Oh ...." Maria pun terdiam walaupun jauh di lubuk hatinya ia masih sangat penasaran.


...***...

__ADS_1


__ADS_2