Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 74


__ADS_3

Marcello bergegas keluar dari kamar dan menuju ruang pribadinya. Setibanya disana, Ia duduk di kursi kerajaannya sambil menyentuh bibirnya yang baru saja menikmati keindahan bibir Marissa.


"Ya Tuhan, ada apa denganku?" gumamnya.


Tepat diwaktu yang sama, Joe masuk kedalam ruangan itu. "Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


"Kemarilah, Joe! Aku butuh teman bicara sekarang," jawabnya. 


Joe pun segera menghampiri laki-laki itu dan duduk tepat di depannya. "Ada apa, Tuan? Apa ada masalah dengan Nona Marissa?"


"Ya, Joe. Aku bingung, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Jujur, sebagai seorang laki-laki, aku juga ingin melakukan hubungan itu. Tapi, jika aku teringat akan dirinya ketika masih bayi, aku tidak sanggup melakukan itu, Joe! Aku adalah orang pertama yang menyambutnya dan membawanya memasuki kediaman kami. Dan sekarang, pantaskah aku menyentuhnya sebagai seorang suami?" keluh Marcello sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Sementara Marcello masih memikirkan tentang perasaannya, Marissa malah sedang frustrasi di dalam kamarnya.


"Sekarang apalagi yang harus aku lakukan, ha?" gumamnya.


Marissa kembali meraih kimono tidurnya dan memilih keluar dari kamar. Ia jalan-jalan mengelilingi Mansion untuk mengurangi rasa kecewanya terhadap lelaki itu.


ketika melewati halaman depan Mansion, Marissa melihat perkumpulan para Bodyguard yang sedang berjaga disana. Ia menghampiri perkumpulan lelaki sangar tersebut kemudian duduk di antara mereka.


"Nona Marissa, Anda sedang apa disini?" tanya salah seorang Bodyguard sambil menatap heran kepada gadis itu.


"Cari angin. Aku bete di kamar terus," sahutnya sambil memperhatikan deretan gelas minum yang tertata di atas meja.


Karena merasa kehausan, Marissa meraih salah satu gelas tersebut kemudian meneguknya sampai tetes terakhir. Wajah Marissa kusut setelah meneguk minuman tersebut, ia memperhatikan gelas yang ia raih kemudian bertanya kepada para Bodyguard yang sedang menatap dirinya dengan mata membulat.


"Minuman apa ini? Rasanya aneh sekali?!"

__ADS_1


Para Bodyguard saling tatap, mereka bingung harus berkata apa. Sebab minuman yang diteguk oleh gadis itu adalah minuman beralkohol yang digunakan para Bodyguard untuk menghangatkan tubuh mereka.


"Sebenarnya itu--"


Belum habis Bodyguard itu bicara, Marissa kembali meraih minuman itu kemudian meneguknya lagi. Walaupun rasanya aneh dan memuakkan, tetapi Marissa tidak peduli. Rasa kesal yang ia rasakan menurutnya lebih mengerikan daripada rasa minuman itu.


Ia bangkit dari tempat duduknya dengan wajah kusut. "Terima kasih minumannya," ucap Marissa sembari melangkahkan kakinya memasuki Mansion.


"Bagaimana ini?" gumam Bodyguard itu.


"Sepertinya kita dalam masalah besar," sahut yang lainnya.


Setibanya didalam kamar, Marissa segera melepaskan kimono tidur yang menutupi lingerie seksinya. Kemudian ia melemparkan benda itu ke sembarang arah. Tiba-tiba saja tubuhnya terasa sangat panas dan gerah padahal AC di ruangan itu selalu dalam keadaan On.


"Ada apa denganku?!" gumamnya karena saat itu kepalanya tiba-tiba ikutan pusing.


Disaat Marissa masih setengah sadar, Marcello kembali ke kamarnya dan berharap si gadis kecilnya sudah tidur, tetapi ia salah. Gadis itu masih belum tidur dan kelakuannya terlihat agak aneh.


"Ahh, Daddy kemarilah!!!"


Marissa yang sudah dibawah pengaruh minuman memabukkan itu meraih tubuh Marcello kemudian membawanya ke atas tempat tidur mereka.


"Daddy, temani aku malam ini," desisnya disamping telinga Marcello.


Marcello merasa curiga melihat gelagat aneh gadis itu. Selain aroma mulutnya yang tercium bau alkohol, kelakuannya pun lebih ekstrim dari biasanya. Gadis itu sudah berani menindihnya dan tidak membiarkan dirinya pergi dari tempat itu.


"Cha, seperti kamu sedang mabuk," ucap Marcello panik.

__ADS_1


"Tidak juga!"


Perlahan Marissa melepaskan lingerie yang sedang ia kenakan kemudian melemparnya ke samping tempat tidur. Kini nampaklah tubuh polosnya tanpa sehelai benang pun.


Marcello yang masih dalam kungkungan gadis itu tidak berdaya, apalagi harus dihadapkan dengan bulatan kenyal ekstra besar yang kini berada tepat di depan wajahnya. Bulatan besar yang dulu menempel di dadanya, kini terpampang nyata di depan matanya. Chocochip berwarna merah muda yang berada di puncak bulatan tersebut begitu menantang untuk dimainkan.


Detak jantung lelaki itu berpacu dengan sangat cepat. Tubuhnya terasa panas dingin dan jangan lupakan tangannya yang sudah gatal ingin meremaas kedua bulatan dengan size ekstra tersebut. Bahkan sesuatu sedang bergerak-gerak di bawah sana, meminta hak nya.


"Cha, lepaskan Daddy!"


"No!"


Dengan garangnya, Marissa melepaskan kancing baju tidur yang sedang dikenakan oleh Marcello. Satu persatu, hingga ia berhasil melepaskan baju tidur tersebut dari tubuh lelaki itu.


Marissa tersenyum puas ketika melihat tubuh Marcello yang sudah setengah telanjaang. "Kini tinggal celanamu, Tuan Marcello!"


Marcello pasrah dan membiarkan gadis itu melakukan apa yang dia inginkan diatas tubuhnya. Lagipula senjata andalannya pun sudah bangkit sejak tadi dan tak mungkin ia kendalikan lagi.


Marissa semakin bersemangat, ia melepaskan celana yang sedang dikenakan oleh Tuan Marcello hingga lelaki itu pun bertubuh polos, sama seperti dirinya.


"Biarkan aku yang memulainya, Cha!" tutur Marcello sembari mengambil alih permainan mereka. Ia membalikkan posisi mereka dan kini ia yang menjadi leader ditempat itu.


.


.


.

__ADS_1


...***...


Maafkan author 🙏🙏🙏 bagian Hareudangnya besok aja, ya! Soalnya dari tadi ngetik di gangguin sama bocil mulu. Jadi gak konsen 😅😅😅 hehe jangan bully otor, yeee


__ADS_2