
"Dimana Tuan Dylan?" tanya Mac kepada salah satu pelayan yang ia jumpai pertama kali di kediaman mewah milik Dylan.
"Sepertinya masih di kamarnya, Tuan. Apa Tuan ingin saya panggilkan?" tanya Pelayan itu sambil mengikuti langkah kaki Mac dari belakang.
"Tidak usah, biar aku saja."
Mac meneruskan langkahnya menuju kamar utama, dimana Dylan masih tertidur pulas. Setibanya di depan kamar Dylan, Mac segera mengetuk pintu di hadapannya seraya memanggil nama lelaki itu.
Tok ... tok ... tok ....
"Tuan Dylan?"
Samar-samar Dylan mendengar namanya dipanggil. Ia segera membuka mata dan menguceknya perlahan.
"Siapa?"
"Ini saya Mac, Tuan."
"Sebentar,"
Dylan bangkit dari tempat tidurnya kemudian berjalan menuju pintu kamar. Ia membuka pintu tersebut dan nampaklah Mac yang berdiri di depan pintu dengan penampilan rapi sama seperti biasanya.
"Mac? Pukul berapa sekarang?"
Dylan menautkan kedua alisnya sambil memperhatikan penampilan Mac yag tiada cela, rapi dan bersih.
Begitupula Mac, ia memperhatikan penampilan Dylan yang terlihat sangat manis dengan piyama tidur bermotif kartun tersebut. Ingin sekali Mac tertawa, tetapi ia tidak berani melakukannya dan dengan terpaksa, Mac hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar tawanya tidak pecah begitu saja.
"Sekarang sudah pukul 09.00 pagi, Tuan," jawab Mac sembari melirik jam tangan mewahnya.
"Apa?!" pekik Dylan.
__ADS_1
Dylan panik, ia bergegas kembali memasuki ruang kamarnya kemudian melepaskan piyama tidur berwarna putih biru dengan motif Doraemon tersebut dan meletakkannya ke keranjang pakaian kotor. Sebelum Dylan memasuki kamar mandi, ia sempat memberitahu Mac soal piyama tersebut.
"Oh ya, Mac! Katakan pada Pelayan yang bertugas mencuci piyama tidurku. Hati-hati mencuci pakaian itu, jangan sampai lecet, karena piyama itu sangat istimewa!" ucap Dylan dengan menegaskan kata istimewa kepada Mac.
"Baik, Tuan."
Mac memperhatikan piyama tidur milik Dylan yang kini teronggok di keranjang pakaian kotor. Ia terkekeh sambil menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar oleh lelaki itu.
"Astaga, Tuan Dylan? Sebenarnya ada apa denganmu?" gumamnya.
Tidak berselang lama, seorang Pelayan tiba di kamar Dylan untuk mengambil pakaian kotor. Disaat Pelayan meraih piyama milik Dylan, Pelayan sempat terkekeh dan Mac melihatnya.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Mac sambil memperhatikan ekspresi wajah Pelayan itu.
"Ehm, maafkan saya, Tuan."
Karena merasa bersalah sudah berani menertawakan Tuan Dylan, Pelayan itupun meminta maaf kepada Mac.
"Anda benar, Tuan. Saya tidak mengerti mengapa Tuan Dylan akhir-akhir ini terlihat sangat manis."
"Hmm, sudahlah. Lanjutkan pekerjaanmu dan ingat cuci piyama itu dengan sangat hati-hati karena piyama itu, piyama istimewa milik Tuan Dylan," titah Mac sembari menghentikan tawanya.
"Baik, Tuan."
Dua jam kemudian.
"Ya, Tuhan! Ini sudah pukul 11.00, aku baru saja tiba di kantor," gumam Dylan sembari melangkah menuju ruangannya. Sebelum Dylan memasuki ruangan tersebut, seorang Sekretaris cantik menghampirinya.
"Ehm, Tuan Dylan. Barusan Tuan Aidan berkunjung kesini. Namun, karena Tuan Dylan sedang tidak ada di tempat, Tuan Aidan keluar sebentar dan akan kembali lagi."
"Aidan? Ehm, baiklah. Jika dia sudah kembali, suruh saja dia masuk ke ruanganku," sahut Dylan.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Setelah memasuki ruangan itu, Dylan pun segera memulai pekerjaan yang sudah menumpuk.
Tidak berselang lama, pintu ruangan Dylan terbuka dan nampaklah seorang Pemuda dengan penampilan keren, memasuki ruangannya sambil tersenyum hangat.
"Hai, Dylan! Apa kabar, Sobat! Sudah lama kita tidak bertemu," ucap Aidan Tristan sambil mengulurkan tangannya kepada Dylan.
Dylan segera bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Aidan dan menyambut kedatangan sahabatnya itu.
"Hmm, aku tahu kamu sangat sibuk. Makanya aku tidak ingin mengganggumu," goda Dylan sambil terkekeh pelan.
"Bagaimana kabarmu, Bro?" Aidan menjatuhkan dirinya di sofa bersama Dylan.
"Baik, kamu?"
"Baik, sangat baik malah. Oh ya, apakah aku sudah bercerita padamu bahwa aku akan segera bertunangan?" ucap Aidan dengan wajah semringah menatap Dylan.
"Benarkah?!" pekik Dylan dengan mata membulat. "Jahat kamu, Aidan! Aku lebih tua darimu, tapi kamu malah mencuri start dariku! Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan mendahului aku," lanjut Dylan sambil terkekeh.
"Sebenarnya bukan begitu, Dylan. Aku dan gadis itu dijodohkan oleh kedua orang tua kami. Daddyku dan Daddynya memang sudah berencana menjodohkan kami tanpa sepengetahuan kami sebelumnya."
"Dan kalian berdua menyetujuinya? Kalian memang keren!" sahut Dylan.
Aidan tersenyum tipis. "Aku rasa gadis itu tidak setuju tapi dia tidak berani berontak pada Daddynya. Akupun sebelumnya tidak setuju, tetapi setelah melihat gadis itu, akupun setuju!"
"Hmm, aku yakin pasti gadis itu cantik hingga kamu tidak bisa menolaknya, ya 'kan?" goda Dylan.
"Bukan lagi, Dylan. Dia tidak hanya cantik tapi juga menggemaskan."
Mendengar kata menggemaskan, Dylan tersenyum karena tiba-tiba saja ia teringat akan bocah ingusannya, Maria Silvana Alexander.
__ADS_1