Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 227


__ADS_3

"Daddy, apa kamu sudah yakin menikahkan Maria si usianya yang masih sangat muda? Usianya masih di bawah umur, Dad. Dia bahkan masih sangat polos," ucap Marissa sambil merapikan kemeja yang di kenakan oleh Marcelo.


"Memangnya kenapa kalau dia masih muda? Lagipula Maria dan anak lelaki Tuan Alfonso hanya bertunangan saja, nanti setelah usianya sudah mencukupi, baru mereka menikah."


"Ya, semoga saja Tuan Alfonso bisa sabar menunggu hingga dua tahun lagi."


Marcello terkekeh pelan. "Bukan masalah waktu yang aku khawatirkan, Marissa. Namun, lebih ke anak gadis kita. Aku berdoa semoga saja putra tunggal Tuan Alfonso mampu bertahan menghadapi sikap Maria."


Marissa menghembuskan napas panjang sambil menatap wajah Marcello. "Kamu benar, Daddy. Daddy saja kewalahan menghadapi sikap gadis itu, apalagi putra Tuan Alfonso. Tapi, semoga saja setelah bertunangan, Maria bisa berubah menjadi lebih dewasa," sahut Marissa.


"Ya, kuharap juga begitu."


Tepat di saat itu, pintu kamar utama di ketuk oleh seorang Pelayan dari luar ruangan.


Tok ... tok ... tok ....


"Tuan Marcello, tamu Anda sudah tiba dan mereka sedang menunggu di ruang utama," ucap Pelayan tersebut.


"Ya, baiklah. Aku akan segera kesana," sahut Marcello.


Huft!

__ADS_1


Terdengar suara hembusan napas berat Marcello. Ia menyerahkan lengannya kepada Marissa dan Marissa pun langsung melingkarkan tangannya sambil tersenyum hangat. Pasangan yang sudah tidak lagi muda tersebut, berjalan berdampingan dan terlihat begitu mesra.


Setibanya di ruang utama, ternyata Marvel sudah berada disana, menemani Tuan Alfonso dan Putranya. Lelaki itu tersenyum hangat ketika Tuan Marcello menghampirinya bersama sang Istri.


"Maaf karena sudah membuat Anda menunggu, Tuan Alfonso." Marcello duduk di sofa mewahnya kemudian disusul oleh Marissa.


"Tidak apa, Tuan Marcello. Santai saja," sahutnya.


"Oh ya, aku sampai lupa. Kenalkan ini Putra semata wayangku, namanya Aidan Tristan."


Anak lelaki Tuan Alfonso yang bernama Aidan tersebut mengulurkan tangannya kepada Tuan Marcello sambil tersenyum hangat. Begitupula Tuan Marcello, ia bergegas menyambut uluran tangan Aidan sambil membalas senyuman lelaki muda tersebut.


Tepat di saat itu, Maria hadir di tengah-tengah mereka. Tatapan Aidan dan Tuan Alfonso langsung tertuju pada sosok gadis cantik dan menggemaskan itu. Tersungging sebuah senyuman tipis di bibir lelaki yang kini berusia 27 tahun tersebut ketika menatap kedua bola mata Maria.


Maria pun segera mengulurkan tangannya kepada Tuan Alfonso kemudian Aidan dan disambut oleh mereka sambil tersenyum hangat.


Maria menjatuhkan dirinya di samping Marissa dan duduk disana dengan kepala tertunduk sambil memainkan ujung dressnya.


Aidan lelaki yang tampan, tetapi sayangnya hati Maria sudah terpaut pada seorang laki-laki dewasa yang katanya sudah menikah dan punya tiga anak.


Aidan meminta waktu untuk mengajak Maria bicara berdua agar mereka bisa saling mengenal satu sama lain dan Tuan Marcello pun dengan senang hati mengizinkannya.

__ADS_1


"Ajak Aidan berjalan-jalan mengelilingi mansion kita, Maria."


Mau tidak mau, Maria pun setuju walaupun sebenarnya ia benar-benar malas. Ia menuntun Aidan berjalan mengelilingi mansionnya sambil membicarakan masalah hubungan mereka.


"Maria, aku tidak tahu mengapa kedua orang tua kita begitu kekeh mengadakan acara perjodohan ini. Sebenarnya aku merasa lucu dengan perjodohan ini. Seolah-olah aku adalah lelaki yang tidak laku di luaran sana sehingga aku harus dijodohkan dengan gadis yang sama sekali tidak pernah aku kenal."


"Lalu kenapa Anda menerima perjodohan ini begitu saja, Tuan Aidan? Anda sebagai lelaki dewasa, saya rasa Anda bisa menolaknya dengan tegas dan saya juga yakin Tuan Alfonso pasti mengerti dengan alasan Anda. Berbeda dengan saya, saya tidak berdaya, Tuan Aidan. Saya selalu berada di bawah peraturan Daddy dan menolakpun rasanya percuma. Peraturan Daddy tidak bisa di ganggu gugat, jika dia bilang A, ya harus A! Tidak boleh B, apalagi C!"


Aidan tersenyum sambil melirik Maria yang terlihat kesal. Gadis itu berjalan di samping Aidan sambil menekuk wajah cantiknya dengan sempurna.


"Ya, aku memang berencana ingin menolaknya ...."


Belum habis Aidan berucap, Maria sudah menyambar ucapan lelaki itu.


"Nah, begitu donk, Tuan Aidan. Sekarang katakan pada Tuan Alfonso dan Tuan Marcello bahwa Anda menolak perjodohan ini!" sahut Maria dengan sangat antusias menatap Aidan yang masih menyunggingkan sebuah senyuman manis untuknya.


"Ya, aku memang berencana menolak perjodohan ini sebelum aku melihat dirimu, Maria. Dan setelah aku melihat dirimu dengan mata kepalaku sendiri, akhirnya aku setuju. Aku rasa, hanya laki-laki bodoh yang menolak di jodohkan denganmu."


Ucapan Aidan saat itu membuat kepala Maria mendidih. Ia kesal, marah, kecewa dan semuanya bercampur menjadi satu.


"Hhh, menyebalkan!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2