
"Ya, aku pasti akan menerimanya," jawab Shakila.
Marvel tersenyum puas mendengar jawaban dari gadis itu. "Shakila, sebenarnya aku--"
"Shakila, apa yang kamu lakukan disini? Bukankah ini sudah larut malam. Apa kamu tidak masuk kuliah besok pagi hingga kamu bergadang sampai jam segini?"
Joe tiba-tiba saja keluar dari rumahnya dan menghampiri Shakila. Shakila nampak ketakutan, ia menundukkan kepalanya kemudian menunduk hormat kepada Marvel.
"Aku permisi dulu, Tuan Muda."
Shakila segera beranjak dari tempat itu dan meninggalkan Marvel di teras rumahnya bersama Daddy-nya.
"Maafkan Shakila, Tuan Muda. Mungkin dia sudah menganggu kenyamanan Anda," ucap Joe.
"Om, sebenarnya Shakila tidak pernah menggangguku. Dia gadis yang baik dan aku menyukainya," ucap Marvel.
Setelah mengucapkan hal itu, Marvel segera pergi dan kembali memasuki mansionnya.
Joe menghembuskan napas berat sambil memperhatikan Marvel yang terus berjalan menjauhinya. Ia sudah menduga akan hal ini sebelumnya. Dan hal ini pula lah yang dikhawatirkan oleh Joe. Kedua saudara kembar itu menyukai satu gadis yang sama dan Joe takut akan terjadi perselisihan diantara mereka.
"Apakah aku harus menjauhkan Shakila dari mereka?" gumam Joe sambil mengelus tengkuknya.
Tanpa sepengetahuan Marvel, ternyata Melvin melihat kebersamaan saudara kembarnya dan Shakila pada saat itu di balik jendela kamarnya. Tiba-tiba saja terbesit rasa cemburu sekaligus curiga di hati Melvin.
"Apa mungkin Marvel juga menyukai Shakila? Tapi, selama ini Marvel tidak pernah menampakkan perasaan apapun kepada gadis itu. Dia nampak biasa-biasa saja. Atau mungkin Marvel memang sengaja menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya?"
__ADS_1
Melvin nampak gelisah. Ia mondar-mandir di kamarnya sambil memikirkan perasaan Marvel yang sebenarnya.
. . .
Keesokan harinya.
Setelah selesai sarapan, para generasi penerus Marcello pun bersiap berangkat ke tujuan mereka masing-masing. Jika Marvel dan Melvin berangkat menuju kantor, si bontot Maria bersiap melaju bersama motor matic bermotif Hello Kitty kesayangannya menuju sekolah.
"Bye, Dad. Maria berangkat dulu, ya."
Maria menghampiri Marcello yang berdiri di depan mansion bersama Marissa untuk mengantarkan keberangkatan anak-anaknya. Gadis cantik itu memeluk tubuh tua Marcello kemudian menciumi kedua pipinya.
"Kamu tidak melupakan pena dan bukumu lagi 'kan, Gadis Daddy?" tanya Marcello sambil mengacak pelan puncak kepala anak gadisnya.
"Bawa kok, Dad. Lihat ini!"
"Baguslah kalau begitu, paling tidak tensi darah Daddy tidak akan naik untuk hari ini," ucap Marcello.
"Ah, Daddy."
Setelah berpamitan pada Marcello, Maria juga berpamitan kepada sang Mommy yang sejak tadi hanya tersenyum menatapnya.
"Maria berangkat dulu ya, Mom."
"Ya! Hati-hati di jalan ya, Sayang."
__ADS_1
Setelah menghidupkan mesin motor kesayangannya, Maria pun segera melaju bersama benda tersebut memecah keramaian kota.
Namun, baru setengah perjalanan menuju sekolahnya, tiba-tiba ban belakang motor kesayangannya bocor. Maria sempat panik saat itu, tetapi hanya sebentar. Beruntung ia sempat mencengkeram rem motor maticnya dengan cepat.
"Ah, sialan! Hei Kitty, kenapa kamu malah mogoknya disini? Kenapa tidak di depan sekolah saja?" gerutu Maria sambil menepuk-nepuk jok motornya yang juga bermotif kucing jepang fenomenal itu.
Maria memperhatikan sekelilingnya dan setahu Maria di daerah itu tidak ada bengkel motor. Jangankan bengkel motor, rumah penduduk pun masih belum ramai di tempat itu.
"Apa aku telepon Daddy saja, ya? Atau Om Joe, atau salah satu Bodyguard?" gumamnya.
Maria meraih ponsel miliknya dari dalam saku roknya kemudian mulai membuka daftar kontak. Maria terkekeh pelan saat ia melihat nama Om Udin terselip di antara banyaknya daftar kontak di ponsel tersebut.
"Astaga, aku hampir saja melupakan Om Udin. Apa sebaiknya aku menghubungi nomor ponsel Om Udin aja, ya? Ya, hitung-hitung buat potongan ganti rugi," gumamnya lagi.
Maria mencoba menghubungi nomor tersebut. Ponsel itu berdering cukup lama, tetapi dibiarkan begitu saja dan hal itu membuat Maria menjadi kesal.
"Kan, apa kubilang! Lelaki itu memang tidak berniat bertanggung jawab padaku," gerutunya.
Namun, di detik-detik terakhir, seseorang menerima panggilan Maria.
"Hallo. Selamat pagi. Maaf, kalau boleh saya tahu, saya bicara dengan siapa?" tanya seseorang dari seberang telepon.
Maria mendengarkan dengan seksama suara lelaki yang sedang bicara dengannya di seberang telepon. Suaranya terdengar seperti suara orang tua. Ya, kira-kira hampir seusia Daddy Marcello. Maria semakin curiga, entah mengapa ia merasa lelaki yang mengaku sebagai Om Udin itu sudah menipunya.
"Ini saya, Om. Maria," ucap Maria.
__ADS_1
"Maria? Maria siapa, ya???"
...***...