
Perlahan Marissa menghampiri wanita itu dan duduk di sampingnya. Marissa mencoba melemparkan senyuman hangatnya untuk Sarrah walaupun ia ragu bahwa wanita itu bersedia berdamai dengannya.
Mengingat hubungannya dengan wanita itu tidak pernah baik. Setiap hari mereka bergumul bagaikan kucing dan anjing, selalu bertengkar dan tidak pernah berdamai.
Pada awalnya Sarrah pun nampak canggung saat Marissa mendekatinya. Ada rasa malu dan juga rasa bersalah yang terlintas dalam hati kecilnya. Ia menatap lekat wanita canktik itu dan mencoba tersenyum kepadanya.
"Marissa, maafkan aku," lirih Sarrah.
Marissa tersenyum lebar kemudian memeluk wanita itu dengan erat. "Aku juga ingin meminta maaf padamu, Sarrah. Apa kamu ingat, aku selalu menjahilimu," sahut Marissa dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, aku ingat. Kamu memang gadis ternakal yang pernah aku temui," sahut Sarrah sambil menyeka air matanya.
Maria begitu terharu melihat kebersamaan Mommy dan Sarrah. Dengan mata berkaca-kaca, Maria menghampiri Dylan kemudian memeluk lelaki itu dari samping.
Marcello yang saat itu larut dalam rasa haru, tiba-tiba saja membulatkan mata saat melihat anak gadisnya terlihat centil, memeluk-meluk tubuh Dylan.
"Heh, belum saatnya!" kesal Marcello sembari menarik tubuh Maria dari pelukan Dylan. "Peluk Daddy saja sini!" titahnya.
"Ish, Daddy!"
Maria menekuk wajahnya, tetapi ia menurut saja apapun yang diperintahkan oleh sang Daddy. Ia memeluk lelaki tua itu dengan erat sambil sesekali melirik Dylan.
"Sarrah, apa kamu ingin bertemu dengan kedua putri kembarmu?" tanya Marcello seraya melerai pelukannya bersama Maria.
Sarrah menatap Marcello dengan mata membulat sempurna. "Kamu tahu dimana kedua putri kembarku berada?" Sarrah balik bertanya.
Marcello menganggukkan kepalanya pelan. "Ya," jawabnya.
Sarrah menoleh kepada Marissa yang masih duduk di sampingnya sambil tersenyum penuh haru. "Dia tidak membohongiku 'kan, Marissa?"
__ADS_1
Marissa menggelengkan kepalanya sambil membalas senyuman wanita itu. "Tidak, Sarrah. Tuan Marcello mengatakan yang sesungguhnya," sahut Marissa.
Marcello meraih ponselnya kemudian menghubungi Marvel dan Melvin yang masih berada di kantornya. Marcello memerintahkan kedua anak lelakinya itu untuk membawa Shakila dan Aira ke kediaman Dylan.
Walaupun Marvel dan Melvin nampak bingung dengan perintah sang Daddy, tetapi mereka tidak ingin banyak bertanya dan segera melakukan perintah lelaki itu.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di kediaman Dylan. Marvel bersama Shakila dan Melvin bersama Aira, si penari erotis yang sudah insyaf.
"Sebenarnya ada apa ini, Melvin? Kenapa Tuan Marcello memerintahkan kita berkumpul di kediaman Tuan Dylan?" tanya Aira sambil memperhatikan ruangan demi ruangan yang ia lewati ketika menuju kamar Sarrah.
"Entahlah, Aira. Aku sendiri tidak tahu kenapa Daddy memerintahkan kita untuk berkumpul disini."
"Kenapa kamu tidak bertanya?" tanya gadis itu lagi.
"Karena aku tidak sama seperti dirimu yang suka banyak tanya," sahut Melvin sambil mengulum senyum.
Berbeda dengan pasangan itu, Marvel dan Shakila lebih banyak diam dan mereka tetap melangkah menuju kamar Sarrah. Setibanya di ruangan tersebut, Joe segera membukakan pintu kamar tersebut untuk kedua pasangan itu.
"Masuklah, Tuan Muda."
Melvin dan Aira masuk terlebih dahulu kemudian disusul oleh pasangan Marvel dan Shakila. Shakila sempat berhenti dan bertanya kepada Joe.
"Sebenarnya ada apa ini, Dad? Kenapa Tuan Marcello menyuruh kami berkumpul disini?" tanya Shakila kepada Tuan Joe yang sejak tadi menunggu di depan pintu kamar Sarrah.
Tuan Joe tersenyum hangat kepada Shakila kemudian mengelus pipi gadis itu dengan lembut. "Sebaiknya kamu masuk saja, Nak. Nanti kamu akan tahu semuanya," sahut Joe.
Walaupun sebenarnya Shakila masih sangat penasaran, tetapi ia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Ia menganggukkan kepalanya pelan kemudian masuk ke dalam ruangan itu menyusul Marvel yang sudah berada di dalam ruangan tersebut.
Sarrah nampak heran melihat pasangan kembar yang kini berkumpul di kamarnya. Bukan hanya Sarrah, Pasangan kembar itupun tidak kalah heran. Mereka saling tatap satu sama lain dengan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
"Apakah kedua gadis kembar itu adalah anak dari Kak Sarrah yang selama ini menghilang?" gumam Dylan sambil menatap kedua gadis kembar yang kini berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
Maria menyandarkan kepalanya ke lengen kekar Dylan sambil menunggu kejadian selanjutnya yang akan terjadi di ruangan itu.
"Siapa mereka?" tanya Sarrah kepada Marissa dan Marcello dengan wajah heran menatap kedua pasangan kembar yang sedang berdiri di hadapannya.
"Kedua lelaki ini adalah putra kembar kami, Sarrah, Marvel dan Melvin. Sedangkan kedua gadis kembar yang cantik-cantik itu adalah bayi kembarmu yang kini sudah tumbuh dewasa," tutur Marissa dengan mata berkaca-kaca menatap Sarrah.
"Ka-kamu serius? Ja-jadi mereka adalah bayiku yang selama ini menghilang?" ucap Sarrah dengan terbata-bata.
Shakila dan Aira begitu shok setelah mengatahui bahwa wanita yang sedang duduk di tepian tempat tidur tersebut adalah Ibu kandung mereka. Perlahan Sarrah bangkit kemudian menghampiri kedua gadis kembar tersebut sambil menitikkan air matanya.
"Ya, Tuhan! Ini benar-benar sebuah keajaiban. Aku kira, aku tidak akan pernah bertemu dengan kalian lagi," tutur Sarrah dengan bibir bergetar menatap kedua anak perempuannya.
"Ja-jadi Nyonya ini adalah Ibu kandung Kila dan Aira?" tanya Shakila kepada Tuan Marcello yang sejak tadi hanya diam dan tersenyum.
"Ya, Kila. Dialah Ibu kandung kalian selama ini," jawab Marcello.
Ketiga wanita itupun berpelukan. Mereka menangis haru sembari melepas rindu setelah 20 tahun lamanya mereka hidup terpisah.
"Sekarang aku benar-benar bingung, Om," ucap Maria.
"Bingung kenapa?" tanya Dylan sambil memperhatikan wajah gadis itu.
"Hubungan kita begitu rumit. Coba Om bayangkan, Kak Marvel dan Melvin akan menikah dengan Shakila dan Aira yang ternyata adalah anak dari Kak Sarrah. Sedangkan aku akan menjadi istri dari Om-nya Kakak-kakak iparku. Jadi kita-kita ini harus memanggil apa? Duh, mumet ya!"
Dylan terkekeh pelan kemudian mengacak pelan puncak kepala Maria. "Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik jalani saja," sahut Dylan.
...***...
__ADS_1