Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 216


__ADS_3

"Maafkan aku, Nona Maria. Aku sedang sibuk mengantarkan Tuan Dylan. Aku tidak bisa menerima panggilanmu di saat aku sedang bekerja. Bisa-bisa Tuan Dylan marah dan memotong gajiku," jawab Dylan sambil memejamkan mata, merasakan sensasi di perutnya.


"Oh, begitu ya. Ya, sudah. Maafkan aku."


Suara gadis itu terdengar lirih dan entah mengapa Dylan menjadi iba mendengarnya.


"Sebenarnya ada apa, Nona Maria? Ada yang bisa aku bantu?"


"Sebenarnya aku ingin jalan-jalan sama motor baruku, Om. Daddy baru saja mengganti motor bututku dengan motor yang baru. Lebih keren dan pastinya lebih bagus dari motorku sebelumnya. Tapi, sayangnya aku tidak punya teman untuk diajak jalan."


"Heh, semoga saja stikernya bukan kucing fenomenal itu lagi," gumam Dylan pelan. 


"Apa? Om ngomong apa, aku tidak dengar!"


"Bukan apa-apa. Ya, baguslah kalau begitu. Itu artinya motor barumu tidak akan menyusahkan kamu lagi, 'kan?"


"Ya, Om. Itu benar," jawab Maria semringah.


"Mungkin nanti jika aku punya waktu luang, aku akan menemanimu jalan, Nona Maria. Tapi, untuk sekarang aku tidak bisa. Aku tidak ingin Tuan Dylan memecatku."


"Ya, sudah kalau begitu. Selamat bekerja ya, Om. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup. Bye!"


"Bye."


Ucapan manis Maria membuat Dylan tersenyum. Ia tidak percaya gadis itu ternyata begitu perhatian kepadanya. Pak Udin memperhatikan Bossnya sambil ikut tersenyum karena selama ia bekerja bersama Tuan Dylan, Pak Udin tidak pernah melihatnya tersenyum seperti itu.


"Pasti Nona Maria itu manis sekali ya, Tuan," ucap Pak Udin sembari menyambut ponsel bututnya dari tangan Dylan.

__ADS_1


"Ya, dia manis dan sangat menggemaskan, Pak."


. . .


Dua hari kemudian.


Beruntung Dylan sudah sembuh dan ia pun bisa beraktifitas lagi, sama seperti biasanya. Setelah berpakaian rapi, Dylan pun bersiap menuju ruang makan.


"Selamat pagi, Tuan Dylan," sapa Mac yang baru saja tiba di kediaman Dylan.


"Selamat pagi juga, Mac."


Dylan terus melangkahkan kakinya menuju ruang makan bersama Mac yang mengikutinya dari belakang.


"Oh ya, Mac. Hari ini aku ingin pulang cepat. Aku ingin mengunjungi Kakakku di Rumah Sakit. Kata Dokter kesehatan Kakak semakin menurun beberapa hari ini," ucap Dylan dengan wajah yang nampak cemas.


"Aku sedih, Mac. Aku tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini selain Kakakku. Aku tidak ingin kehilangan dia," lirih Dylan.


"Ya, Tuan. Anda benar."


Setibanya di ruang makan, Dylan segera duduk di kursi miliknya.


"Mac, duduklah. Kita sarapan bersama," ucap Dylan sambil mempersilakan Assistennya itu untuk sarapan bersamanya.


"Tidak. Terima kasih, Tuan Dylan. Saya sudah sarapan," sahut Mac.


"Kalau begitu duduklah dan lihat aku sarapan," ucap Dylan sambil tersenyum.

__ADS_1


Mac pun duduk disalah satu kursi dan membiarkan Dylan menikmati sarapan sehatnya. Beberapa kali Mac memperhatikan Dylan yang begitu lahap menyantap sarapan paginya.


Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Mac merasa Iba melihat Dylan. Di usianya yang sudah menginjak 32 tahun, Dylan tidak pernah berpikir untuk menikah. Jangankan bermimpi untuk berumah tangga seperti laki-laki lainnya, Dylan bahkan tidak pernah berpikir untuk mendekati seorang wanita.


Selama ini Dylan hanya fokus pada Kakaknya yang sedang dirawat di sebuah Rumah Sakit dan terus mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhannya.


Selang beberapa saat, sarapan sehat ala Dylan pun selesai dan merekapun segera berangkat ke kantor.


Saat di perjalanan.


Mac menghentikan laju mobilnya karena lampu lalu lintas berwarna merah sedang menyala di depannya. Dengan sabar, Mac dan beberapa pengemudi lainnya menunggu lampu tersebut berubah menjadi hijau.


Sedangkan Dylan duduk termenung di kursi belakang sambil memangku dagunya. Ia memperhatikan orang-orang di samping mobilnya dengan tatapan kosong menerawang.


Namun, tiba-tiba saja sebuah scooter matic berwarna pink dengan motif Hello Kitty berhenti tepat di samping mobilnya. Lamunan Dylan buyar dan ia pun panik seketika setelah sadar siapa yang sedang berhenti di samping mobilnya.


"Itu Maria! Wah, gawat! Semoga dia tidak lihat!" gumam Dylan sembari menggelar horden kaca mobil untuk melindungi dirinya agar gadis berhelm Hello Kitty tersebut tidak melihatnya.


Maria memperhatikan mobil mewah berwarna hitam di sampingnya dengan seksama. Entah mengapa ia merasa tidak asing dengan mobil itu.


"Mobil siapa ini, ya? Perasaan aku pernah melihatnya. Tapi, dimana ya? Aku lupa," gumam Maria.


Dylan mengintip Maria di balik hordennya sambil tersenyum tipis. Gadis itu terlihat sangat manis dan juga menggemaskan. Dylan juga memperhatikan motor baru gadis itu. Ya, Maria sudah mengganti motor bututnya dengan motor yang baru, tetapi yang bikin Dylan menggelengkan kepalanya adalah motif kucing fenomenal itu. Ternyata kucing imut itu juga menempel di motor baru Maria.


"Hmmm, sepertinya aku harus punya muka tebal jika harus jalan bersama gadis ini. Bagaimana tidak, gadis ini akan menghancurkan citraku sebagai seorang lelaki keren menjadi lelaki yang lucu dan menggemaskan sama seperti dirinya," gumam Dylan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2