
"Nah, Maria sayang ... sekarang katakanlah dengan jelas dan lantang, siapa di antara kami yang akan kamu pilih menjadi calon pasangan hidupmu?" ucap Aidan dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi.
"Maria, tolong dengarkan aku," pinta Dylan sembari meraih tangan Maria yang masih asik memperhatikan satu set perhiasan mahal yang sedang berada di tangannya.
Perhatian Maria teralihkan pada sosok tampan yang sedang menatapnya dengan tatapan memelas. Ia meletakkan kotak perhiasan tersebut ke atas meja kemudian mencoba mendengarkan perkataan Dylan.
"Nona Maria, mungkin aku tidak bisa menjanjikan kehidupan mewah kepadamu, sama seperti janji Tuan Aidan. Tetapi, aku berjanji akan berusaha membahagiakanmu semampuku dan aku juga bersedia menggila bersamamu," ucap Dylan sembari mengeluarkan sebuah bola kristal salju mini, yang didalamnya terdapat boneka Hello Kitty yang sedang menari.
Maria tersenyum lebar sembari menyambut bola kristal tersebut kemudian menyalakan musiknya. Kini boneka Hello Kitty kecil yang terdapat di dalam bola kristal tersebut berputar-putar dengan lincahnya, mengikuti alunan musik.
Aidan tertawa pelan melihat rayuan Dylan yang menurutnya begitu kekanak-kanakan. Ia yakin Maria lebih tertarik pada perhiasan mahalnya daripada benda kecil yang sama sekali tidak berharga tersebut.
"Hadiah macam apa itu?" gumam Aidan.
"Baiklah, aku akan memilih salah satu di antara kalian dan aku harap kalian bisa menerima apapun keputusanku!" ucap Maria sambil menatap kedua lelaki itu secara bergantian.
Aidan merapikan setelan jas yang sedang ia kenakan dengan kepala terangkat, ia sangat yakin bahwa kali ini ia akan membawa pulang Maria bersamanya.
"Katakanlah dengan lantang, Maria," ucap Aidan.
Setelah mematikan musik di bola kristal pemberian Dylan, Maria pun bangkit dari tempat duduknya sambil tersenyum. Sedangkan Dylan hanya bisa menarik napas dalam kemudian mengembuskannya dengan perlahan. Ia pasrah dan mencoba iklas, apapun keputusan gadis itu.
__ADS_1
Perlahan Maria menghampiri Dylan kemudian mengulurkan tangannya kepada lelaki itu.
"Aku memilihmu, Om. Bukankah sudah aku katakan padamu bahwa aku bersedia hidup denganmu apapun keadaanmu. Tapi, janji ya Om bahwa kamu bersedia menggila bersamaku," ucap Maria sambil mengoyangkan bola kristal yang masih ia pegang sejak tadi.
Dylan tersenyum puas dengan mata berkaca-kaca. "Ya, Nona Maria. Aku bersedia menggila bersamamu," jawabnya sembari merengkuh tubuh mungil gadis itu.
Aidan sangat marah. Ia tidak terima bahwa perhiasan mahalnya kalah dengan barang yang ia anggap tidak berharga itu.
"Kamu pasti sudah gila, Maria! Kamu lebih memilih barang rongsokan itu ketimbang perhiasan mahalku?!" geram Aidan dengan wajah memerah menatap lekat Maria dan Dylan yang berdiri tepat di hadapannya.
"Maafkan aku, Tuan Aidan. Sepertinya kali ini kamu salah orang. Aku sama sekali tidak tertarik dengan harta kekayaanmu karena apa? Karena Daddyku bisa memberikan kemewahan itu bahkan lebih dari yang bisa kamu berikan kepadaku. Aku lebih memilih rasa nyaman, Tuan Aidan dan aku merasa nyaman ketika bersama Om Udin daripada saat aku bersamamu," sahut Maria sembari mengajak Dylan meninggalkan restoran mewah itu.
Aidan tidak terima karena sudah ditolak mentah-mentah oleh Maria. Ia menghamburkan apa saja yang berada di atas meja, termasuk perhiasan mahal miliknya.
Dylan tidak hentinya tersenyum. Ia tidak percaya bahwa gadis pengganggu itu akhirnya memilih dirinya dari pada Aidan. Ia merasa sangat puas dengan keputusan Maria yang sudah mempercayai dirinya untuk menjadi pasangan hidup.
"Kamu serius dengan pilihanmu ini 'kan, Nona Maria?" tanya Dylan yang pasrah kemanapun Maria menuntunnya.
"Ya, Om! Tentu saja," jawab Maria sembari meleparkan senyuman manisnya kepada lelaki itu.
Setibanya di tempat parkir, Maria mengajak Dylan untuk segera membawanya menjauh dari tempat itu.
__ADS_1
"Nona Maria, bukankah katanya kamu sudah lapar?" tanya Dylan sembari melajukan mobilnya.
"Ya, Om. Maria sangat lapar." Maria menepuk perutnya yang kini malah berbunyi dengan nyaring.
Krrukkk ... kruukkk ...
"Nah, 'kan?"
Dylan terkekeh kemudian mengusap lembut perut Maria.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kamu bakal di isi kok," ucap Dylan.
"Baiklah, karena aku sedang bahagia hari ini, maka aku akan mentraktir kamu makan, Om!" ucap Maria.
"Tidak usah, Nona. Biarkan aku saja yang mentraktirmu. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena sudah bersedia menerimaku apa adanya," sahut Dylan.
"Sebenarnya bukan begitu, Om. Aku tergiur dengan janjimu yang katanya ingin menggila bersamaku. Jadi hari ini aku ingin membuktikan ucapanmu itu." Maria menyeringai dan membuat Dylan sedikit ngeri melihat seringaian gadis itu.
Dylan menghembuskan napas berat kemudian memalingkan wajahnya. "Hmm, aku rasa akan terjadi sesuatu yang memalukan padaku hari ini," gumamnya tanpa terdengar di telinga gadis itu.
"Kenapa, Om? Om tidak setuju?" Maria mulai menekuk wajahnya.
__ADS_1
"Tentu saja aku setuju, Nona. Lakukanlah apapun yang kamu suka," sahutnya sambil tersenyum kecut menatap gadis itu.
...***...