Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 269


__ADS_3

Dylan mengajak Maria mengelilingi kediaman mewahnya sambil bercerita-cerita tentang kehidupannya di masa lalu. Maria mendengarkan cerita kisah hidup Dylan dengan seksama.


"Kamu tahu, Maria. Sebenarnya aku bukanlah orang yang berada. Kami hidup dengan serba kekurangan. Apalagi setelah Ayahku meninggal dunia, aku dan Ibuku hidup luntang-lantung tak tentu arah. Beruntung kakakku bersedia menjadi tulang punggung untuk kami," tutur Dylan sambil mengingat-ngingat kisah hidupnya di masa lalu.


"Lalu ... bagaimana ceritanya hingga kamu bisa sesukses ini? Apakah ini juga karena Kakakmu?" tanya Maria penasaran.


Dylan tersenyum getir. "Setelah sesuatu terjadi pada Kakakku, aku terpaksa banting tulang sambil melanjutkan sekolahku. Disitulah masa-masa terburuk dalam hidupku. Aku berjuang keras dari nol hingga menjadi seperti sekarang."


Maria menautkan kedua alisnya sambil menatap Dylan yang berjalan di sampingnya. "Kalau boleh aku tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Kakakmu? Apa dia juga tinggal disini?"


Dylan terdiam sejenak seraya membalas tatapan Maria saat itu. "Saat ini Kakakku--"


"Tuan, Tuan! Kakak Anda ...."


Seorang pelayan berlari menghampiri Dylan dan Maria. Ia ingin memberitahukan bahwa Kakaknya kembali histeris. Namun, Pelayan itu segera menghentikan ucapannya setelah menyadari bahwa Maria yang sedang berdiri di samping Dylan.


Dylan memperhatikan wajah pelayan yang nampak cemas dan ia tahu bahwa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada kakak perempuannya itu.


"Baiklah, aku akan segera kesana!"


Setelah mendengar jawaban dari Dylan, pelayan itu segera kembali. Kini tinggal Dylan dan Maria yang sama-sama kebingungan. Dylan bingung bagaimana cara memberitahukan hal itu kepada Maria. Sedangkan Maria bingung karena tidak tahu apa yang sedang terjadi.


"Ehm, Maria ... maukah kamu menungguku disini? Aku berjanji tidak akan lama. Ada sesuatu yang harus aku lakukan sekarang dan ini sangatlah penting," ucap Dylan sambil memegang kedua belah pipi Maria.


Maria mulai merasa bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Dylan saat itu. Namun, Maria sadar bahwa itu adalah hak Dylan untuk tidak memberitahukannya.

__ADS_1


"Ya, pergilah." Maria mencoba tersenyum semanis mungkin kepada lelaki itu.


Dylan pun segera meninggalkan Maria di tempat itu dan segera menuju ke kamar Kakak perempuannya. Sepeninggal Dylan, Maria malah meneruskan perjalanannya mengelilingi rumah mewah Dylan.


Walaupun kediaman Dylan tidak seberapa jika dibandingkan dengan mansion milik Daddy Marcello, tetapi Maria tetap menyukainya.


"Wah, sepertinya disini akan sangat bagus jika di letakkan koleksi Kitty-Kitty-ku. Kemudian disini juga dan disana juga!" gumamnya sambil membayangkan jika koleksi Kitty-Kittynya diletakkan di ruangan itu.


Maria tersenyum lebar saat mengkhayalkan kediaman mewah Dylan akan segera menjadi rumah baru untuk semua koleksi kucing jepang kesayangannya.


Maria memperhatikan setiap sudut ruangan sambil melangkah mundur. Ketika ia masih asik dengan dunia khayalnya, tiba-tiba saja ia ditabrak oleh seseorang dari belakang dan membuat Maria hampir saja terjerembab ke lantai ruangan itu.


"Aww!" pekik Maria.


"Ya, tidak apa-apa," sahut Maria dengan wajah heran menatap pelayan yang sedang ketakutan tersebut.


"Ehm, maaf. Saya permisi dulu, Nona."


Pelayan itu melanjutkan langkahnya dengan cepat dan meningkatkan Maria dengan seribu pertanyaan di kepalanya.


"Sebenarnya mereka kenapa?" gumam Maria.


Rasa penasarannya yang begitu besar membuat Maria ingin mencari tahu apa yang sedang terjadi di tempat itu. Perlahan ia menelusuri ruangan demi ruangan dan memperhatikannya dengan seksama hingga akhirnya ia menemukan sebuah ruangan kamar yang tidak tertutup rapat.


Samar-samar, Maria mendengar ada suara Dylan dari dalam ruangan itu. Bukan hanya suara Dylan, ada beberapa orang yang sedang bicara bersama Dylan. Dan yang paling mengejutkan, Maria mendengar suara seorang wanita yang sedang menjerit ketakutan.

__ADS_1


Maria mulai memfokuskan pendengarannya, ia begitu penasaran dengan apa yang terjadi di ruangan itu. Perlahan Maria menghampiri ruangan yang tidak lain adalah kamar Kakak perempuan Dylan dan mulai mengintip dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.


Maria membulatkan matanya dengan sempurna ketika ia melihat seorang wanita yang kini sedang berada di pelukan Dylan. Wanita itu menjerit ketakutan dan wajahnya terlihat memucat.


"Siapa dia?" gumam Maria.


Tiba-tiba saja tubuh Maria oleng dan membuat pintu yang tadinya hanya sedikit terbuka, kini malah terbuka lebar dan membuat dirinya terlihat jelas oleh orang-orang yang sedang berada di ruangan itu, termasuk Dylan.


"Maria!" pekik Dylan.


Maria tersenyum kecut seraya memperhatikan orang-orang yang sedang menatapnya dengan heran.


"Maafkan aku ... aku tidak sengaja," lirih Maria sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dylan menghembuskan napas berat kemudian memanggil Maria untuk mendekat padanya.


"Kemarilah, Maria."


Karena sudah terlanjur ketahuan, Dylan pun akhirnya memutuskan untuk menceritakan siapa sebenarnya wanita yang sedang menangis di dalam pelukannya kepada Maria.


"Maria, wanita ini adalah Kakak kandungku. Wanita yang selama ini menjadi tulang punggung untuk aku dan Ibuku," lirih Dylan.


Maria memperhatikan wanita itu dengan seksama. Wanita bertubuh kurus, tetapi tetap terlihat cantik. Wanita yang mungkin usianya lebih tua dari Mommy-nya, Nyonya Marissa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2