
"Di sini tidak ada keterangan yang mengambilnya siapa, Pak." Wanita itu menatap layar. Joe pun ikut melihatnya.
"Kok bisa nggak ada keterangan? Itu 'kan hasil penting dan aku suaminya, Bu."
"Coba Bapak tanya keluarga Bapak, barangkali ada yang sudah mengambilnya."
"Aku ingin tanya ke dokternya saja. Bisa Ibu tunjukkan, ruangan Dokter Spesialis Forensik di sini?"
"Bisa." Wanita itu mengangguk. "Mari ikut saya, Pak," ajaknya kemudian melangkah lebih dulu.
Joe pun segera menyusulnya. Mengikuti ke mana wanita itu pergi.
Tak berselang lama, Joe tiba di depan sebuah ruangan yang bertuliskan 'Dokter Spesial Forensik' segera, wanita bersanggul itu mengetuk pintu.
"Permisi, Dok! Saya dari resepsionis!" ucapnya sedikit kencang.
"Masuk!" Seseorang dari dalam menyeru. Perlahan wanita itu pun membuka pintu, lalu melebarkannya.
"Ada suami dari pasien yang ingin bertemu Dokter," ucap wanita bersanggul seraya menoleh kepada Joe. Pria bermata sipit itu langsung mengangguk sopan dan tersenyum tipis.
"Siang, Dok," sapanya, menatap Dokter wanita berambut kribo yang tengah duduk di kursi kerjanya.
"Siang. Silahkan masuk, Pak." Dokter wanita berambut kribo itu menunjuk ke arah kursi kosong di depan mejanya.
"Iya." Joe mengangguk, lantas melangkah mendekat dan duduk di sana. Sedangkan wanita bersanggul yang mengantarkannya itu langsung pamit, kemudian keluar dan menutup pintu.
"Ada keperluan apa, ya, Pak?" tanya Dokter itu sembari menatap Joe.
"Istriku kemarin malam melakukan visum. Dan kata Dokternya ... hasilnya sekarang keluar. Tapi masalahnya hasilnya itu udah diambil dan siapa yang mengambilnya kira-kira? Kan harusnya aku, aku suaminya, Dok." Joe menepuk pelan dadanya. Dia ingin, dialah orang yang pertama yang melihat hasil visum itu.
"Dokter mana yang melakukan visum pada istri Bapak?"
"Saya nggak tau, Dok." Joe menggeleng. "Saat itu istriku ada di UGD dan Umi Mertuaku yang menemaninya, terus Dokter dari UGD menyarankan untuk melakukan visum ... karena ada kemungkinan, istriku mengalami pelecehan sek*sual."
"Oh. Siapa nama istri Bapak?" Dokter itu langsung membuka laptopnya yang terlipat di atas meja.
"Syifa Sonjaya, dan walinya Hamdan Sonjaya, Dok."
Dokter itu lantas mengetik-ngetik keyboard laptopnya, mencari data diri Syifa di sana. Setelah membaca beberapa hal, dia lantas menatap ke arah Joe. "Ternyata saya yang melakukan visum atas nama Syifa Sonjaya, Pak."
"Syukurlah ...." Joe menghela napasnya dengan lega. "Lalu, siapa yang mengambil hasil itu, Dok? Dan apa Dokter tau, hasilnya?" tanya Joe penasaran.
"Kalau hasilnya saya nggak tau. Soalnya yang mengambil pihak polisi, Pak," jawab Dokter itu.
__ADS_1
"Lho, kok ke polisi-polisi?" Joe menatap dengan wajah bingung. Keningnya tampak mengernyit.
"Kemarin malam ... saat saya hendak melakukan visum, ada dua polisi datang dan meminta saya untuk melakukan visum atas nama Syifa Sonjaya. Katanya itu untuk menyelidikan kasus penculikan dan pemerkosaan, Pak," jelasnya panjang lebar.
Apa yang dikatakan Dokter itu jujur. Sebab kemarin malam memang ada dua polisi yang datang berkunjung ke rumah sakit.
"Tapi kok nggak izin dulu sama aku, atau sama pihak keluarga?" Wajah Joe terlihat merah. Dadanya juga terasa bergemuruh. Joe merasa kesal, sebab tanpa izin darinya—orang lain telah mengambil apa yang harusnya hanya dia yang memiliki.
"Mereka izin sama Ibunya Nona Syifa, dan dia mengizinkan, Pak. Sebentar ... ini ada kartu nama dari salah satu perwira polisi." Dokter itu menarik laci kecil pada meja kerjanya, kemudian mengambil kertas persegi dan memberikan kepada Joe. "Coba Bapak hubungi nomor teleponnya."
"Kapolsek Cengkareng." Joe membaca tulisan yang ada pada secarik kertas tersebut. Kemudian mengetik nomor ponsel yang ada di sana, lantas mencoba menghubungi.
"Selamat siang, dengan siapa dan apa ada yang bisa saya bantu?" tanya dengan ramah. Namun terdengar tegas.
"Aku Jonathan Anderson. Apa benar, Bapak yang mengambil hasil visum istriku yang bernama Syifa Sonjaya?" tanya Joe.
"Oh Pak Jonathan," ujarnya. "Benar, Pak, saya dan rekan yang mengambil, karena ini untuk menyelidikan kasus yang menimpa istri Bapak."
"Bapak harusnya izin dulu padaku, saat mau mengambil hasil itu. Kan aku suaminya!" Joe lebih dulu mengomel. Mengungkapkan rasa kesal di dadanya.
"Maaf, Pak. Soalnya Bapak nggak ada. Tapi kebetulan kemarin malam saat saya meminta Nona Syifa untuk divisum ... ada Ibunya, dan dia mengizinkan."
"Apa Umi dan Abinya Syifa sudah tau, dengan hasil itu?"
"Sepertinya belum. Soalnya sudah saya bawa."
"Baik, Pak."
Joe langsung mematikan sambungan telepon. Dan hanya dalam waktu 5 menit, foto itu berhasil masuk pada ponselnya.
Dia lantas memberikan ponselnya kepada Dokter di depan, sebab supaya tahu bagaimana detailnya dari hasil itu.
"Ini, Dok. Bisa Dokter jelaskan secara rinci ... bagaimana hasilnya?" tanya Joe.
"Bisa." Dokter itu mengangguk, kemudian mengambil ponsel tersebut dan memerhatikan gambar. Joe langsung memasang telinga, dan menatapnya dengan fokus. "Dari hasil visum ... Nona Syifa mengalami percobaan pemerkosaan, Pak," ucapnya, yang mana membuat Joe membelalakkan mata. Dadanya sontak berdenyut terasa ngilu.
"Jadi Syifa beneran diper*kosa, Dok?" Sekujur tubuhnya mendadak terasa lemas, bola matanya juga ikut berair.
Meskipun kemarin-kemarin Syifa selalu menyebutkan bahwa dia diper*kosa—tapi nyatanya Joe tetap sakit mendengarnya.
"Nggak sampai diper*kosa, Pak, baru percobaan." Dokter menjelaskan, supaya Joe tak salah mengartikan. "Bapak mengerti, kan, maksud dari percobaan?"
"Maksudnya, Beni mencoba, tapi nggak berhasil masuk?" tebak Joe dan entah mengapa tiba-tiba ada perasaan lega sedikit di dalam dadanya.
__ADS_1
"Itu benar." Dokter itu mengangguk cepat. Dan Joe yang melihatnya langsung mengulum senyum. Hatinya berubah menjadi berbunga-bunga.
"Jadi Syifa masih perawan, Dok?"
"Kalau tentang perawan tidaknya saya belum bisa memastikan," jawab Dokter itu masih membaca hasil pada layar ponsel.
"Kok belum bisa memastikan? Memangnya nggak terlihat, Dok?" tanya Joe bingung.
"Soalnya di sini area luar va*gina Nona Syifa mengalami lecet, Pak. Mungkin ... si lelaki itu mencoba secara paksa hingga melukainya, meskipun ternyata tidak berhasil masuk."
"Oh. Tapi kira-kira ... bagaimana cara supaya mengetahui Syifa masih perawan atau tidaknya, Dok? Apa musti melakukan tes keperawanan?" Joe hanya ingin membuktikan kepada Syifa, kalau dirinya benar-benar masih suci. Mungkin dengan begitu, rasa trauma yang dialami Syifa akan sedikit berkurang.
"Bisa. Tapi katanya Bapak ini suaminya, kan?"
"Iya. Aku memang suaminya, Dok. Kenapa memangnya?"
"Kenapa nggak Bapak saja yang cek sendiri? Kan bisa, jadi nggak perlu pakai tes keperawanan segala," saran Dokter itu.
"Ah iya juga, ya, Dok." Kedua pipi Joe langsung memerah. Dan secara tiba-tiba miliknya berdenyut serta terasa mengeras di dalam sana. Tampaknya, dia paham dengan apa yang Dokter itu sampaikan.
"Sudah selesai 'kan masalahnya?" Dokter itu perlahan mengulurkan tangannya, memberikan benda pipih itu ke tangan Joe
"Belum, Dok." Joe menggelengkan kepala.
"Kok belum? Memangnya ... ada lagi?"
"Masalahnya, Syifa itu mengalami trauma dengan apa yang telah dia alami, Dok. Dia malahan takut ... pas aku mengajaknya bercinta," keluh Joe.
"Bapak ngajaknya jangan terburu-buru. Pelan-pelan dan pakai pemanasan," saran Dokter itu. Secara tidak langsung, Joe jadi curhat kepadanya.
"Gimana mau pemanasan, didekati saja dia kayaknya nggak mau, Dok." Joe mengerucutkan bibirnya dengan wajah lesu.
"Kan saya sudah bilang. Jangan terburu-buru, Pak," ujar Dokter sambil menghela napas. "Bapak bisa melakukan hal yang buat dia nyaman dan aman, jika berada di dekat Bapak. Jangan lupa kasih rayuan maut juga."
"Rayuan maut? Seperti apa contohnya, Dok?"
"Bapak 'kan pria. Masa Bapak nggak tau?"
"Memang nggak tau aku, Dok. Coba Dokter beritahu."
"Ah, lebih baik Bapak coba tanya pada sesama pria saja." Dokter itu lantas berdiri. Bukannya tak ingin memberikan saran, hanya saja dia masih punya banyak pekerjaan ditambang kalau tentang rayu merayu—seorang pria lah yang paling jago, bukan dirinya yang perempuan. "Saya masih banyak pekerjaan, sebaiknya Bapak keluar dari sini."
"Kok aku diusir? Kan aku belum selesai, Dok," keluh Joe sedih. "Bagaimana caranya supaya Syifa mau aku ajak bercinta? Ya minimal ciuman kek dulu."
__ADS_1
Dokter wanita itu mengusap wajahnya, lalu geleng-geleng kepala.
...Udah jelas ya, Guys, Bu Syifa ga berhasil diperkosa. Kalau tentang masih perawan nggaknya biar Om Joe aja yang buktiin sendiri 🤣...