
"Iya, kita tidur bertiga seperti biasa, Rob," balas Joe yang langsung merangkul bahu Syifa, kemudian mengajaknya untuk melangkah bersama pergi dari sana. Robert juga buru-buru ikut dan berjalan di sampingnya.
"Si Joe pelit banget ya, Mi. Masa kita mau tidur bareng Syifa aja nggak boleh? Nyebelin!" Papi Paul menggerutu kesal sambil memerhatikan anak dan menantunya menjauh.
"Iya. Tapi Mami punya ide, Pi."
"Ide apa, Mi?" Papi Paul menyorot dengan raut penasaran.
"Sekarang kita ke kamar tamu saja dulu buat mandi, nanti Mami akan beritahu apa idenya." Mami Yeri langsung menarik tangan suaminya, kemudian membawanya melangkah menuju lantai atas untuk masuk ke dalam kamar tamu.
*
"Kamu mau gosok gigi dulu apa mau langsung tidur, Yang?" tanya Joe ketika dia, Syifa dan Robert baru saja masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu.
"Gosok gigi, A. Tapi sebelum itu aku mau minum susu dulu, karena takut keburu dingin dan jadi nggak enak." Syifa perlahan mendudukkan bokongnya di atas kasur.
"Ini Mommy yang cantik. Tolong habis, kan, ya?" Robert memberikan minuman tersebut ke tangan Syifa sambil tersenyum manis.
"Terima kasih, Sayangnya Mommy."
"Sama-sama."
Syifa menenggak minuman itu sampai tandas, dan buru-buru Robert mengambil gelas kosongnya untuk dia taruh ke atas nakas, sebelum Syifa melakukannya sendiri.
"Manis banget kamu, Nak. Mommy ke kamar mandi dulu, ya?"
Syifa sudah berdiri, kemudian melangkah menuju kamar mandi. Namun, dilihat Joe dan Robert justru mengikutinya. Ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Lho, kok kalian ikut masuk? Mau gosok gigi juga?" tanya Syifa heran.
"Aku akan temani kamu sampai selesai gosok gigi, Yang," ucap Joe.
"Robert juga, Mommy," sahut Robert.
"Tapi kenapa musti ditungguin segala? Mommy 'kan bisa sendiri."
"Nggak apa-apa, Mommy." Robert meraih cangkir, kemudian mengisi air pada kran wastafel. "Ayok sekarang kumur-kumur, sebelum gosok gigi."
"Aku yang bukain pasta giginya, ya, Yang?" Joe mengambil sikat gigi milik Syifa, kemudian mengolesi pasta gigi secukupnya di atas bulu sikatnya.
__ADS_1
"Kalian ini terlalu berlebihan, sih. Padahal Mommy 'kan bisa sendiri," ucap Syifa yang tampak merona. Rasanya meleleh melihat hal kecil yang dilakukan oleh anak dan bapak itu.
"Nggak apa-apa Mommy Sayang. Mommy 'kan lagi hamil. Jadi nggak boleh capek, ya?" Robert dengan manisnya langsung mengelus perut Syifa, kemudian menciumnya.
"Gosok gigi doang nggak bakal buat capek, Nak. Kamu ini ada-ada aja, ya?" Syifa terkekeh, tapi dia menurut. Menerima semua apa yang dilakukan anak dan suaminya sampai proses sikat gigi itu selesai.
Ceklek~
Joe menutup pintu, saat ketiganya keluar dari kamar mandi.
Namun, sontak kedua matanya itu membulat sempurna kala melihat Mami Yeri dan Papi Paul sudah ada di dalam kamarnya. Tengah berbaring bersama di bawah beralaskan kasur lantai. Keduanya juga sama-sama memakai bantal dan berbalut selimut.
"Apa-apaan kalian? Kenapa ada di sini?" Joe yang melihatnya langsung emosi. Selain itu, mereka masuk juga tanpa izin.
"Joe ... udahlah, kita nggak perlu berantem. Ini sudah malam. Mami dan Papi ada di sini niatnya mau berdamai," ucap Mami Yeri dengan suara lembut dan senyuman manis. Sedangkan Papi Paul sejak tadi sudah nyengir kuda menatap anaknya.
"Berdamai gimana? Dan kenapa kalian masuk ke kamar tanpa izin? Walau bagaimanapun ini kamarku, Mi, Pi, kamar pribadiku!" tegas Joe. Dia pun mengajak Syifa untuk berbaring di atas kasur, kemudian menyelimutinya.
Robert juga bergegas ikut naik ke atas kasur, tapi dia memilih untuk memijat lengan Syifa dengan posisi duduk di sampingnya.
"Maaf. Tadi Mami dan Papi sempat ketok pintu kok, tapi kaliannya aja yang nggak membukanya. Iya, kan, Pi?" Mami Yeri menoleh ke arah suaminya. Dan pria itu langsung mengangguk cepat.
"Tapi, Pi, aku—"
"Aa ...," potong Syifa cepat, lalu meraih tangan suaminya yang terlihat sudah mengepal. "Udah nggak apa-apa, A. Memang lebih bagus begitu. Kita tidur berlima saja di sini."
Bukan maksud ingin membela Papi Paul, hanya saja menurut Syifa apa yang diucapkan mertuanya itu ada benarnya. Dan yang terpenting dia bisa cepat istirahat karena memang sudah mengantuk.
"Jangan egois lah, Joe. Turuti apa kata Papi dan Mami. Lagian Mami dan Papi juga nggak setiap hari merengek ingin tidur bersama Syifa," ucap Mami Yeri merayu.
"Janji awas, ya, Papi jangan berbuat macam-macam. Aku akan awasi Papi dari sini!" ancam Joe sambil melotot, kemudian berbaring di samping Syifa dan memindahkan kepalanya untuk menyanggah pada lengannya.
"Iya, Papi janji," jawab Papi Paul dengan sungguh-sungguh dan anggukan kepala.
"Udah sekarang Papi dan Mami merem, tidur. Katanya 'kan yang penting tidur bareng Syifa!" perintah Joe.
"Iya. Ini Mami merem kok." Mami Yeri sudah memejamkan mata. "Selamat malam, Syifa, selamat tidur. Semoga mimpi indah."
"Malam juga, Mi. Selamat tidur dan mimpi indah juga," sahut Syifa.
__ADS_1
"Besok kamu kepengen sarapan apa, Fa? Biar Papi belikan," tanya Papi Paul. Tapi matanya sudah ikut memejamkan mata.
"Tidur juga belum, udah nanyain sarapan!" omel Joe yang jelas tidak suka karena cemburu.
Selain itu dia juga belum sepenuhnya percaya, kalau niat Papinya ingin tidur bersama Syifa hanya karena perempuan itu hamil cucu keduanya. Bisa saja, pria tua itu ada niatan yang lain, tapi sedang menutupinya.
"Galak amat sih, Joe. Orang nanya doang memang nggak boleh, ya?" Papi Paul mendengkus dengan bibir yang mengerucut.
"Jelas nggak bolehlah!" tegas Joe. "Lagian Syifa 'kan istriku, jadi kalau pun dia kepengen sarapan yang nggak ada di rumah ini ... aku adalah orang pertama yang akan membelikannya, bukan Papi!"
"Iya, iya, seluruh dunia juga tau kali ... Syifa itu istrimu. Sewot amat, Papi 'kan cuma ada niatan baik. Itu aja kok." Bibir Papi Paul menggeriting.
"Niat baik apa niat terselubung? Aku nggak percaya tuh sama Papi," sindir Joe.
"Udah sih, kalian kok berdebatnya nggak selesai-selesai?" Mami Yeri akhirnya membuka matanya lagi, padahal dia sudah hampir masuk ke alam mimpi. Perdebatan mereka cukup nyaring terdengar, dan membuatnya terusik. "Udah malem lho, ini ... Syifa juga pasti ngantuk. Bagaimana bisa dia tidur kalau kalian berdebat mulu?"
"Aku mau tidur. Udah Papi diem!" Joe langsung membalik tubuhnya, membelakangi orangnya dengan acuh.
"Dih, orang Papi ... eeemmpptt!" Ucapan Papi Paul seketika terhenti, kala tangan kanan istrinya telah membungkam bibirnya.
"Udah diem, Pi! Nggak usah dijawab lagi. Tidur!" titah Mami Yeri sambil menggertakkan gigi. Suaminya itu langsung mengangguk cepat.
"Udah, Nak ... Kamu sekarang tidur di samping Mommy." Syifa mengelus lembut pipi kanan anaknya, memintanya untuk menghentikan gerakan tangan kecilnya yang sejak tadi tengah memijat.
"Mommynya udah nggak pegal-pegal lagi? Kakinya pegal nggak, Mom?" tanya Robert penuh perhatian. Mungkin hanya dia di sini yang sejak tadi begitu kalem.
"Mommy perasaan nggak bilang pegal-pegal deh, Nak." Syifa terkekeh, lalu menepuk bantal kecil di samping. "Udah tidur, Nak. Nanti besok kamu bisa-bisa kesiangan," titahnya lagu.
"Oke Mommy yang cantik." Robert dengan patuhnya merebahkan tubuh di samping Syifa, lalu memeluknya. "Selamat malam. Robert sayang Mommy dan Adik Bayi."
"Selamat malam juga. Mommy dan Adik Bayi tentu sayang juga sama kamu," balas Syifa.
Perlahan dia pun menatap ke arah Joe terlebih dahulu sebelum hendak memejamkan mata. Dan setelah melihat mata suaminya terpejam, Syifa pun ikut memejamkan mata.
Namun, Joe sebenarnya tidak beneran tidur saat ini. Dia hanya sekedar merem untuk berpura-pura tidur. Itu semua demi dirinya bisa tahu niat terselubung dari Papinya.
'Aku harus awasi Papi terus sampai pagi. Jangan sampai kecolongan. Awas saja kalau Papi berani menyentuh Syifa ... aku akan langsung menyunat tongkatnya dan mengunduli bulunya. Supaya sama-sama botak seperti kepalanya,' batin Joe penuh tekad.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1