Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
221. Memecahkan balon


__ADS_3

"Iya, Pak?" tanya Syifa.


"Suruh keluarga Ibu hompipah saja. Biar adil," sarannya, lalu menunjuk pada arloji miliknya. Bukan maksud ingin pamer, tapi dia ingin memperlihatkan waktu yang terus bergulir. "Durasi lho, Bu. Masih banyak anak-anak lain juga yang belum ikut lomba."


"Iya, Pak." Syifa mengangguk, kemudian langkah cepat menghampiri keluarganya yang masih rebutan balon. Bahkan tiga balon sudah menjadi korban karena meletus. "Aa, Mami, Papi, Abi dan Umi ... ayok sekarang kalian hompipah," titahnya kemudian.


"Ayok!" Mereka semua terlihat setuju, karena memang dengan begitu semuanya adil.


"Hompipah!"


"Hompipah!"


"Hompipah!"


"Hompipah!"


"Hore!! Umi menang!" Umi Maryam langsung berjingkrak-jingkrak, karena memang dialah yang menang.


"Aahhh ...." Yang lain langsung mendesaah berat, karena kecewa melihatnya.


"Yang kalah tadi ayok ke pinggir lapangan," titah Syifa yang sudah menarik tangan Joe, kemudian Mami Yeri, Papi Paul dan Abi Hamdan pun mengikutinya dengan langkah lesu.


Umi Maryam langsung diberikan lagi sebuah balon dengan tali berjumlah 5 oleh panitia lomba, kemudian berdiri di dekat tiang bendera bersama wali orang tua peserta lain.


"Oke semuanya, dengarkan Ibu baik-baik. Ibu akan menjelaskannya," ucap Gisel yang mana membuat para peserta itu menatap ke arahnya. "Dari sini kalian lari menghampiri orang tua untuk mengambil satu balon. Lalu balik lagi lari ke sini untuk memecahnya dengan bokong kalian. Ingat, dengan bokong, ya! Bukan dengan gigi atau kuku!"


"Iya, Bu!" Semua bocah itu bersorak tanda mengerti. Tapi justru, mendadak Robert menjadi gelisah lantaran mengingat akan kondisi bokongnya yang sudah rembes.


'Duh ... mana ampasku udah keluar lagi sedikit. Gimana dong ini?' batinnya bingung, lalu menyentuh celana olahraganya yang terasa basah.


"Kali ini kamu pasti juara, Rob! Kamu pasti bisa memecahkannya lebih cepat daripada yang lain!" Joe menyeru dengan gerakan tangan. Masih terus menyemangati anaknya supaya kali ini mendapatkan juara satu.


"Buktikan kalau kamu bisa, Nak! Kali ini kamu akan juara satu!" seru Abi Hamdan yang terlihat begitu yakin.


Melihat orang-orang yang Robert sayang masih terus mendukung, seketika membuat rasa semangatnya menjadi dua kali lipat. Dan sepertinya untuk kali ini, dia harus mengabaikan kondisi bokongnya.


'Udahlah biarin. Toh nggak ada yang tau ini kalau aku kapicirit dicelana,' batin Robert dengan anggukan cepat.

__ADS_1


"Ibu ulangi, ya, peraturannya supaya kalian makin paham," ucap Gisel lagi yang memberikan instruksi. "Jadi kalian dari sini berlari untuk mengambil satu balon. Lalu lari lagi ke tempat ini untuk memecahkannya dengan bokong. Dan ulangi terus sampai balon kelima pecah, karena itu akan menentukan pemenangnya," tambahnya dengan gerakan tangan.


"Lakukan yang cepat ya, anak-anak. Tapi ingat ... jangan curang mainnya. Karena selain ada juri yang menilai, lomba ini bisa dilihat dari kamera." Syifa menunjuk ke arah kamera kecil yang terpasang pada tiang bendera. Dan semua orang di sana baru mengetahui, jika memang ada kamera yang mengintai.


Selain untuk mengetahui siapa-siapa yang curang, kamera itu juga digunakan untuk mengabadikan momen disetiap tahunnya, karena hampir tak pernah telat mengadakan lomba agustusan.


Beberapa orang pun banyak juga yang memvideokan lomba-lomba itu, jadi akan mudah terlihat jika siapa saja yang berlaku curang.


"Baik, Bu!" Semua peserta menyeru dengan anggukan kepala. Sepertinya mereka sudah paham.


"Siap, ya, anak-anak ...," kata Syifa dan beberapa peserta itu sudah berancang-ancang akan berlari menghampiri walinya. "Ibu akan hitung dari tiga ... dua ... satu ... mulai!"


Segerombolan peserta itu langsung berlari untuk mengambil balon. Dan balik lagi untuk memecahkannya dengan bokong.


"Robert! Robert! Robert!"


"Juara! Juara!"


"Ayok semangat! Semangat!"


"Jangan menyerah! Jangan menyerah!"


Sebenarnya banyak sekali para orang tua yang menyemangati anak-anaknya. Terus bersorak-sorai tak terhenti.


Namun, karena hanya Robert satu-satunya peserta yang menyewa suporter—jadilah namanya yang lebih kencang disebut. Bahkan sekarang Abi Hamdan pun menggunakan toa, untuk menyemangati sang cucu yang sibuk memetuskan balon.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Beberapa balon itu sudah banyak yang pecah, dan kali ini di kelas satu Leon lah yang terlihat lebih memimpin karena sudah memecahkan tiga balon.


'Kali ini aku pasti menang,' batin Leon penuh semangat. Namun tak berselang lama, dia pun mendadak mencium aroma tidak sedap yang seketika membuat perutnya mual. "Uueekk!!"

__ADS_1


"Uuueekk! Uuueekk!" Juna bahkan sudah muntah-muntah duluan.


"Lho, Leon, Juna ... kalian kenapa?" tanya Syifa yang terlihat khawatir. Dia langsung mendekati Juna karena bocah itu yang muntah sedangkan Leon hanya menutup hidungnya.


"Bau, Bu. Juna enek ... Uuuekk!" Ketiga Kalinya, Juna muntah. Tian—sang Papi, langsung berlari menghampiri anaknya karena merasa khawatir.


"Bau banget, Bu! Sumpah!" Maira menyeru sambil menutup hidung dan lidahnya pun terasa begitu pahit.


"Pak! Bagaimana ini, Pak?" Syifa terlihat sudah gelagapan menatap ke arah Pak Bambang.


Jujur, dia bingung harus bagaimana sekarang dan sebenarnya dia juga sudah mencium aroma tidak sedap ketika diawal permainan itu dimulai. Hanya saja dia memilih untuk mengabaikannya, karena berpikir positif pasti cuma aroma gas kentut.


Padahal sebenarnya, bukan sekedar kentut semata.


Bruk!!


Bruk!!


Bruk!!


Bruk!!


Tak berselang lama, tanpa diduga ada empat peserta yang sudah pingsan. Dua diantaranya adalah Atta dan Leon, dan dua lagi dari kelas dua.


"Astaghfirullah Pak Bambang!" Syifa menjerit kencang, karena kali ini dia sangat syok melihatnya. Kedua matanya sontak membulat sempurna.


"Ya Allah!" Pak Bambang dan kedua juri lainnya itu langsung berlari ke lapangan. Para orang tua yang anaknya menjadi korban pun ikut berkumpul demi menyelamatkan.


Namun disisi lain, Robert justru sudah mencapai kemenangannya karena telah berhasil memecahkan kelima balon lebih dulu.


Dor!!


"Hore!! Robert menang!" serunya sambil melompat-lompat.


Sayangnya, pergerakan tubuhnya itu langsung membuat pusat perhatian, karena seketika semuanya mencium semerbak asal muasal bau yang membuat peserta lain keracunan. Yakni dari bokong Robert yang terlihat sudah basah dan berwarna agak coklat.


...Sekalinya menang teman-temannya KO, Rob 🤣🤣...

__ADS_1


__ADS_2