Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
183. Meminta izin


__ADS_3

"Oh ini ...." Joe perlahan menyentuh kepalanya sendiri. "Aku memang sengaja dibotak, Yum."


"Kenapa? Kan aneh jadinya, Kak." Yumna tampak bergidik, lantas melangkah masuk dengan ragu.


Joe memang masih terlihat tampan dan menawan meskipun dengan keadaan botak. Hanya saja, Yumna tidak suka dengan pria berkepala botak.


"Ya lagi kepengen aja. Kenapa sih tanya-tanya?" Joe mendengkus. "Terus kamu kenapa ada di sini?"


"Maaf Pak Bos. Sebenarnya Nona Yumna ini sudah menjadi model Bapak," ucap Imel memberitahu.


"Modelku? Sejak kapan?" Joe tampak terkejut.


"Tiga hari yang lalu, Pak."


"Lho, kok bisa ... dia langsung jadi modelku? Dan kamu kenapa nggak ada cerita apa-apa sama aku, Mel?"


"Maafkan saya, Pak. Tapi Bu Yeri yang memaksa."


"Bu Yeri?"


"Iya." Imel mengangguk cepat dengan kepala yang menunduk. "Bu Yeri memaksa supaya saya menerima Nona Yumna. Jadi saya terpaksa menerimanya meskipun tanpa izin dari Bapak."


"Tapi 'kan nggak bisa begitu, Mel. Dimana-mana itu musti ada izin dariku. Dan kamu sendiri yang mengatakan ... kalau model yang kita punya sudah banyak. Iya, kan?"


"Iya." Imel mengangguk lagi. "Kalau sekarang sih terserah Bapak. Kalau Nona Yumna ingin dipecat, tinggal dipecat saja, Pak."


"Enak saja dipecat!" Yumna langsung membuka suara, lantaran kaget bercampur tak terima mendengar hal itu. "Kakak jangan pecat aku dong, Kak. Aku sudah menjadi model Kakak sekarang."


"Maaf, Yum. Tapi berhubung sudah banyak model di sini. Aku nggak bisa mempekerjakanmu. Lagian ... aku juga nggak mau, kalau kehadiranmu nanti akan membuat Syifa cemburu."


"Aku 'kan kerja di sini cuma jadi model. Bukan mau menggoda Kakak. Jangan sangkut pautkan hubungan pekerjaan dengan urusan pribadi, Kak!" tegas Yumna.


"Apa pun itu aku nggak peduli!" Joe menggelengkan kepalanya dengan acuh tak acuh. "Intinya sekarang kamu aku pecat. Tapi berhubung kamu sudah tiga hari kerja ... jadi akan ada uang kompensasi untukmu."


"Mohon maaf, silahkan Nona keluar sekarang dari ruangan Pak Bos." Imel membuka pintu ruangan Joe dengan lebar, berniat mengusir Yumna untuk pergi.


Perempuan itu mengepalkan kedua tangannya sembari menatap Joe dengan tajam. "Kakak pasti akan menyesal! Karena telah memacatku begini! Aku ini cukup terkenal tau, Kak!" geramnya.


Setelah mengatakan hal itu dengan penuh emosional, Yumna pun melangkah keluar dari ruangan Joe dengan hentakkan sepatu high heels yang cukup keras.


"Menyebalkan sekali Kak Joe. Masa aku dipecat? Dan yang lebih menyebalkannya lagi kenapa sih ... dia pakai botakin rambut segala? Kan jadi aneh. Dan aku paling nggak suka sama pria yang hidup tanpa rambut!"


Yumna terus menggerutu sampai tak terasa dia sudah benar-benar keluar dari kantor Joe.


"Kalau udah begini terus bagaimana? Makin susah dong buat deketin Kak Joenya. Ditambah dia juga nggak ada rambut, bikin males!" Yumna menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal, sambil mulai berpikir.


"Yumna!"


Seseorang dari belakang tiba-tiba memanggil namanya, bertepatan saat dirinya hendak menyetopkan taksi yang baru saja lewat.


Yumna pun berbalik badan, dan secara tiba-tiba seorang pria langsung memeluk tubuhnya.

__ADS_1


"Ternyata benar ... kamu Yumna. Aku rindu sekali sama kamu. Udah lama kita nggak ketemu, ya?"


Yumna gegas mendorong tubuh pria tersebut, sebab penasaran dengan siapakah dia. Dan sontak kedua matanya itu membulat, karena ternyata orang tersebut adalah Glenn—mantan pacarnya.


***


Teeeettt ... Teeeettt ... Teeeettt.


Terdengar bunyi bel sekolah, tanda jika jam pelajaran sudah usai.


Seluruh murid-murid dikelas langsung sibuk membereskan alat tulisnya masing-masing, memasukkannya ke dalam tas.


"Jadi 'kan temen-temen ... kita cukur gundulnya?" tanya Atta yang mulai membahas rencana konyol mereka. "Tapi mending kita cukurnya ditempat yang sama aja, seperti Robert. Biar cukuran rambut kita sama."


"Jadi. Tapi aku musti ngomong dulu sama Papaku, Ta," sahut Baim.


"Ngapain izin? Langsung aja otewe, pulang dari sini."


"Jangan, Ta!" larang Robert. "Sebaiknya, kalian itu izin dulu sama orang tua kalian masing-masing."


"Takutnya kalau izin malah nggak boleh, Rob," sahut Atta.


"Ya dicoba dulu, nanya dulu. Mangkanya jangan langsung ... nanti bisa-bisa diomelin kalau nggak boleh. Kamu memangnya mau, diomelin sama Papa dan Mamamu?"


"Enggak." Atta menggelengkan kepalanya.


"Ada benernya apa yang dikatakan Robert, Ta." Juna menyahut dan terlihat setuju pada Robert. "Mending begini saja. Pulang dari sini ... kita langsung minta izin. Terus habis itu kita saling menghubungi saja, biar enak. Kalau semuanya dapat izin kita langsung atur jam deh, biar bisa ketemuan di tempat cukur."


"Oke." Robert mengangguk. "Nanti aku akan beritahu dimana tempat tukang cukurnya. Kebetulan dia temannya Daddyku."


"Tapi kamu 'kan nggak punya hape, Jun, gimana itu?" tanya Baim kepada Juna.


"Pulang dari sini aku langsung minta dibelikan hape. Dan nanti aku langsung hubungi kalian semua. Kan nomor kalian ada kontak hape Mamiku."


"Oke, oke." Baim mengangguk-nganggukkan kepalanya.


*


*


*


Sekarang, para bocil absurd itu pulang ke tujuannya masing-masing. Dan akan berusaha meminta izin kepada orang tuanya.


Yang pertama kita lihat dari Atta dulu. Karena dialah orang yang pertama memberikan ide untuk bisa cukur bareng pas jam pulang sekolah.


"Assalamualaikum Papa!"


Atta menyeru saat turun dari mobil, kemudian menghamburkan pelukan dari belakang tubuh Papanya yang bernama Ammar. Pria itu memang kebetulan tidak kerja hari ini dan sedang menyiram beberapa tamanan cabe dihalaman rumahnya.


"Walaikum salam," jawab Ammar kemudian melepaskan lengan anaknya, lalu mematikan kran air dan mengajak Atta untuk masuk ke dalam rumah besar mereka.

__ADS_1


"Mama ke mana, Pa?" Atta menatap sekeliling rumahnya, mencari-cari keberadaan sang Mama tercinta.


"Mama pergi arisan," jawab Ammar. "Kamu ganti baju dulu ke kamar, ya? Nanti Papa siapkan makan siang untuk kita berdua."


"Atta mau bicara dulu sama Papa," pintanya. "Tadinya sih sama Mama juga. Tapi berhubung hanya ada Papa sekarang ... ya sudah Papa aja deh."


"Bicara apa? Ngomong aja langsung, Ta."


Atta menarik tangan Papanya, membawanya menuju ruang keluarga dan mereka pun duduk bersama pad salah satu sofa panjang yang ada di sana.


"Boleh nggak, Pa, kalau misalkan Atta digundul?" tanyanya yang langsung to the poin.


"Digundul?" Kening Ammar tampak mengerenyit. "Kenapa memangnya, Ta? Kok tiba-tiba kepengen digundul?"


"Lagi nge-trend, Pa. Si Robert juga sampai digundul sekeluarga. Papa tau Robert, kan?"


"Tau." Ammar menganggukkan kepalanya. "Tapi mana ada nge-trend digundul begitu? Papa baru denger tuh." Dia tampak tak percaya.


"Ya Papa 'kan setiap hari kerja, jadi kuper. Mangkanya nggak tau. Jadi wajar."


"Apaan kuper?"


"Kurang pergaulan," jawab Atta sambil berdecak. "Papa katro deh, masa begitu saja nggak tau."


"Tapi nggak usah deh ikut trend kayak gitu. Lagian malu juga kali, punya kepala botak." Ammar tampak tak setuju.


"Ngapain malu? Orang lagi nge-trend. Papa ngerti nge-trend nggak, sih?" Atta tampak mulai emosi.


"Tau. Tapi di kantor Papa nggak ada tuh yang gundul."


"Ya mungkin nge-trendnya bukan dilingkungan kantor. Tapi sekolah, Pa."


"Itu tadi kamu bilang keluarganya si Robert sampai digundul semua. Sedangkan trend itu ada di sekolah? Gimana konsepnya coba, Ta? Bisa saja si Robert dan keluarganya itu digundul karena banyak kutunya. Bukan karena trend."


"Papa sembarangan deh. Mana mungkin Robert dan Daddynya banyak kutu? Daddynya 'kan bos skincare. Produk apa saja dia punya, jadi nggak mungkin!" tegas Atta.


"Tapi Papa nggak setuju. Kamu digundul, Ta."


"Papa harus setuju lah. Kan katanya Papa sayang sama Atta."


"Papa memang sayang kamu. Tapi daripada mikirin digundul ... mending kamu mikirin sunat saja, Ta. Kemarin Papa padahal udah daftarin kamu ke tempat sunat. Tapi kamu malah nangis karena nggak mau."


Terkadang memang anak-anak selalu aneh. Hal yang penting tidak mau, justru yang tidak penting malah direngekin.


"Ya udah, kali ini Atta mau deh disunat. Asal digundul dulu." Atta memberikan negosiasi.


"Ah jangan bohong kamu. Nanti nangis lagi."


"Beneeerr ... kali ini Atta nggak bakal nangis. Tapi asalkan digundul dulu, ya, Pa?" rayu Atta yang langsung menggenggam tangan Ammar, sambil memasang wajah memelas.


...Bohong ... Jangan mau Om. Atta 'kan doyan kibul anaknya 🤣...

__ADS_1


__ADS_2