
"Opa ... tapi Daddy bilang, dia mau nyuntik Mommy." Robert berlari menghampiri Abi Hamdan, bersama dengan Umi Maryam.
Dia sengaja memberitahukan sebab takutnya Joe belum berhasil menyuntik Syifa. Robert merasa kasihan pada adik bayinya yang belum mendapatkan vitamin.
Pria tua itu lantas menoleh dan langsung menatap sang cucu dengan kening yang mengerenyit. "Menyuntik?! Nyuntik apa, Rob?" tanyanya bingung.
"Nyuntik vitamin, buat adik bayi supaya sehat."
"Adik bayi, supaya sehat?" Abi Hamdan mengulang ucapan sang cucu dengan tampak masih tak paham. "Memangnya ...." Ucapan pria tua itu seketika terhenti lantaran terdengar suara pintu yang baru saja dibuka.
Ceklek~
Keluarlah Syifa, dia sudah memakai kembali pakaian serta kerudungnya. Hanya saja penampilannya tampak berantakan, begitu pun dengan wajahnya yang merah dan berkeringat.
"Syifa, ada apa denganmu? Kamu kenapa?" tanya Abi Hamdan dengan panik. Dia langsung menyentuh kedua bahu anaknya, lalu memerhatikan tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Memastikan apa ada yang terluka atau tidak.
"Apa Joe menyuntikmu sangat keras, sampai kamu menjerit kesakitan?" Sekarang yang bertanya Umi Maryam.
Sama halnya seperti sang suami, dia juga khawatir. Matanya langsung menelisik ke dalam kamar untuk mencari keberadaan Joez hendak bertanya padanya.
__ADS_1
Namun, pria itu justru tak ada di sana, dan pandangan Umi pun seketika tertuju pada kasur yang tampak begitu berantakan. Selimut serta bantal berjatuhan di lantai.
"Kasurmu juga berantakan, ada apa sebenarnya, Fa?" tanya Umi Maryam sekali lagi. Sebab belum mendengar jawaban dari anaknya.
Sebenarnya bukan Syifa tak mau menjawab, hanya saja dia bingung untuk menjawab apa. Selain itu, pertanyaan Umi dan Abinya yang membahas masalah menyuntik membuatnya bertambah bingung.
"Bilang sama Abi, kalau si Jojon menyakitimu, Fa! Abi akan hajar dia!" seru Abi Hamdan dengan rahang yang mengeras.
"A Joe nggak menyakitiku, Bi. Aku juga baik-baik saja," jawab Syifa sambil tersenyum kecil.
"Baik-baik saja kok tadi kamu menjerit kesakitan?" tanya Umi Maryam penasaran.
"Gara-gara Jojon, ya? Apa dia sengaja mendorongmu?" tebak Abi Hamdan. Kedua orang tua itu terlihat sedang mengintimidasi Syifa.
"Nggak kok, Bi. Aku jatuh sendiri dan malah Aa yang menolongku," jawab Syifa secara asal.
"Terus ... apa Mommy sudah selesai disuntiknya? Kata Daddy, Mommy mau disuntik biar Adik bayi sehat," tanya Robert dengan polosnya. Mungkin hanya dia satu-satunya orang yang bertanya dengan raut santai, tidak seperti Umi Maryam dan Abi Hamdan yang terlihat seperti orang yang panik.
"Ah iya, udah kok tadi," jawab Syifa sambil tersenyum aneh. 'Menyuntik apa yang mereka maksud? Apa maksudnya, bercinta? Tapi ... kenapa Aa memberitahukan semua orang di sini? Kan aku malu,' batinnya dan seketika wajahnya memerah.
__ADS_1
"Sekarang di mana si Jojonnya? Kok nggak kelihatan?" tanya Abi Hamdan penasaran. Dia menyelonong masuk ke dalam kamar itu, dan tiba-tiba saja terdengar suara isak tangis yang berasal dari dalam kamar mandi.
"Hiks! Hiks! Hiks!" Suaranya lirih, tapi seperti suara laki-laki. Dan Abi Hamdan tentu mengenal kalau itu adalah suara milik menantu semata wayangnya.
"Jon ... apa kau ada di dalam kamar mandi?!" tanya Abi Hamdan setengah berteriak. Merasa penasaran akhirnya dia mendekat ke arah pintu kamar mandi lalu mengetuknya. "Jon! Kenapa kau menangis?! Ada apa?" pekiknya sekali lagi.
Abi Hamdan meraih gagang pintu, lalu memutar-mutarnya. Tapi terasa susah sekali, sepertinya memang terkunci dari dalam.
"Si Jojon kenapa menangis, Fa?" Abi Hamdan bertanya pada sang anak, saat baru saja melihat Syifa melangkah mendekat bersama Robert dan Umi Maryam.
"Masa, sih, Daddy nangis, Opa?" tanya Robert heran. Dia pun langsung ikut mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, ikut penasaran dan kemudian berteriak. "Kenapa Daddy yang nangis? Kan yang disuntik Mommy? Gimana, sih?!"
"Daddy gagal menyuntiknya, Rob!" balas Joe dari dalam. Suaranya terdengar bergetar karena tangisnya.
"Lho, tadi kata Mommy ... Daddy udah menyuntiknya. Yang benar siapa?!" pekik Robert bingung. Lantas dia pun menempelkan telinga kanannya ke arah pintu, supaya dapat mendengar jelas jawaban dari Joe.
"Baru setengah, Rob, setengah, hiks! Tapi Opa keburu menggedor-gedor pintu. Jadi gagal, belum berhasil nyuntik!" sahut Joe sambil sesenggukan.
...Ya ampun Om, sangking merananya sampai nangis di kamar mandi 🤣...
__ADS_1