
"Nggak, A," tolak Syifa sambil menggelengkan kepalanya. "Ngapain beli pesawat? Orang aku nggak bisa nyetirnya. Dan lagian mahal harganya."
"Nggak apa-apa. Nanti bayar pilot, Yang."
"Nggak usah deh, A." Syifa menggelengkan kepalanya lagi. "Ya kalau Aa mau beli buat Aa sendiri sih nggak apa-apa, tapi jangan buat aku."
"Kenapa memangnya?"
"Ya 'kan pasti Aa jauh lebih membutuhkan. Aa 'kan kerja di perusahaan. Sedangkan aku cuma guru."
"Nggak ada urusannya dengan pekerjaan, Yang. Lagian pesawat itu 'kan bisa kita pakai bersama ketika mau liburan ke luar negeri."
"Iya, sih, tapi jangan beli untukku. Aku nggak mau, A. Buat Aa sendiri saja," tolak Syifa.
Pesawat tentu adalah sebuah barang yang sangat mahal dan tidak terlalu penting juga menurut Syifa, jadi dia tidak ingin Joe membuang-buang uang membelikan barang itu untuknya. Lebih baik untuk dirinya sendiri saja yang memang membutuhkannya.
"Ya sudah deh kalau nggak mau. Aku nggak maksa." Joe tersenyum, kemudian mengecup kembali Syifa dan kali ini adalah bibirnya.
"Menyebalkan," gumam Papi Paul dengan bibir yang menggeriting.
Sejak tadi dia memerhatikan interaksi di antara Joe dan Syifa, yang mana membuat matanya terasa sakit disertai perut mual karena sebal dengan tingkah keduanya.
Padahal mereka berdua terlihat begitu harmonis dan sangat manis, tapi bisa-bisanya Papi Paul tak menyukai pemandangan seperti itu.
"Selain wajahnya yang mirip almarhumah Sonya, menurutmu ... apa kelebihan Syifa, San?" tanya Papi Paul meminta pendapat Sandi. Pria itu duduk di sampingnya dan tengah berfoto selfi.
Sandi langsung menoleh, kemudian menatap Papi Paul yang terlihat tak berkedip menyorot tajam kepada menantunya. "Mungkin karena Bu Syifa baik orangnya, Pak. Ditambah dia 'kan seorang guru. Jadi citranya terlihat bagus."
"Harusnya, si Robert kupindahkan saja awalnya, ya, biar sekolah SD di Korea. Jadi dia nggak akan bertemu Syifa."
"Namanya udah takdir, Pak. Mau gimana? Lagian Dek Robert kok yang awalnya memaksa Pak Joe buat nembak Bu Syifa."
__ADS_1
"Masa?"
"Iya, Pak." Sandi mengangguk cepat. "Bapak pasti kaget, kalau tau pas awal Pak Joe nembak Bu Syifa dengan bunga dan cincin yang dibelikan oleh Dek Robert. Itu karena sangking dia semangatnya, ingin Daddynya menikah lagi dengan Bu Syifa."
"Masa?" Papi Paul membulatkan matanya, merasa terkejut dengan apa yang Sandi katakan. "Si Robert yang belikan bunga sama cincin?"
"Iya, Pak." Sandi mengangguk semangat. "Dari uang tabungannya. Saya sih yang belikan, tapi atas perintah Dek Robert. Tapi sama saja, kan, itu berarti dia yang beli."
"Dapat ide darimana dia, sampai ingin membelikan bunga dan cincin segala? Apa kamu yang mengusulkannya?"
"Enggak, Pak," jawab Sandi sambil menggelengkan kepala. "Itu atas ide dia sendiri."
"Parah sih." Papi Paul hanya bisa geleng-geleng kepala.
***
Seoul, Korea Selatan.
Matanya terlihat terpejam. Dia ditemani oleh Mami Yeri dan Yumna, yang sejak tadi sibuk mengolesi minyak angin kepada kedua tangan, kaki, leher, dahi, tengkuk serta hidung Robert.
Usul dari Yumna, itu akan membuat bocah itu terbangun dari pingsannya. Sebab saat diperiksa oleh dokter, beliau mengatakan Robert tidak sakit apa-apa. Hanya berkemungkinan karena menangis yang menyebabkannya pingsan.
Tapi tanpa diketahui oleh orang-orang, ternyata Robert yang sebenarnya tak benar-benar pingsan.
Dia hanya berakting supaya bisa pulang dari Korea, karena merasa bingung sendiri. Meminta secara baik-baik pun nyatanya tidak didengar oleh Mami Yeri. Dia masih bersikukuh untuk menahannya tidak pulang, ditambah Joe juga tak tahu ada dimana sekarang. Jadi makin sulit untuk Robert bisa mengetahui kabar Syifa.
'Nggak apa-apa deh, nggak bisa pulang. Yang penting Mommy yang ke sini bareng Daddy,' batin Robert dengan hati yang berbunga, mengingat saat dimana dia mendengar langsung Mami Yeri menelepon Papi Paul dengan panik. Mengatakan jika meminta supaya Syifa dan Joe tak jadi berpisah.
Tapi jujur saja, Robert sendiri sempat syok mendengarnya. Sebab baru tahu jika Opa dan Omanya itu memiliki niat jahat seperti itu.
Memang ada untungnya dia pura-pura pingsan sekarang, meskipun sejujurnya dia cukup pegal juga. Karena posisinya yang harus diam ditempat, ditambah perutnya pun ikut keruyukan lantaran lapar.
__ADS_1
'Tapi ngomong-ngomong ... kenapa Tante Yumna masih ada di sini, sih? Kapan dia pulang?' Robert membuka sedikit kelopak matanya, untuk melirik Yumna yang baru saja mengajak Mami Yeri duduk pada sofa di dekat ranjangnya.
Perempuan itu juga kini tengah mengelus bahu Mami Yeri yang terlihat masih bersedih, karena mungkin karena dirinya yang belum sadarkan diri.
"Tante yang sabar, ya? Robert sebentar lagi pasti bangun kok. Dokter 'kan sudah bilang dia nggak kenapa-kenapa," ujar Yumna menenangkan, dengan masih mengelus bahu Mami Yeri. Bahkan sekarang mengusap kedua pipi Mami Yeri juga, yang basah karena air mata kesedihan.
"Iya, Yum. Semoga saja," jawab Mami Yeri sambil menganggukkan kepalanya. Dia pun menoleh, lalu menatap Yumna. "Oh ya, Tante minta maaf banget ya, Yum, sama kamu. Lagi-lagi kamu nggak jadi menikah sama Joe. Tante jadi nggak enak sama Mamimu, karena udah sering PHP-in. Tante kira ... Robert akan setuju, kalau kamu menjadi Mommy sambungnya. Padahal Joe sendiri sudah setuju berpisah dengan istrinya."
"Nggak apa-apa kok, Tan, santai saja." Yumna tersenyum, lalu mengenggam tangan Mami Yeri dengan lembut.
"Kamu memang anak yang manis dan baik." Mami Yeri langsung tersenyum manis. "Padahal ... semenjak Sonya nggak ada, Tante sangat ingin kamu yang menjadi menantu Tante, Yum, bukan Syifa."
'Oma keterlaluan sekali! Bisa-bisanya bilang kayak gitu!' Robert yang masih berbaring mendengar jelas apa yang mereka berdua katakan. Hatinya pun terasa kesal dan sakit, mendengar apa yang Mami Yeri ungkapkan. 'Kalau Mommy denger langsung, pasti dia akan sakit hati. Kasihan Mommy ... nggak seharusnya Oma mengatakan hal itu meskipun sekarang Mommy nggak ada di sini.'
"Iya, Tan, aku tau itu kok," jawab Yumna yang kembali tersenyum. "Aku juga dari dulu penasaran sama Kak Joe, karena dari dulu hanya lihat dari foto yang Tante tunjukkan. Harusnya ... pas Kak Joe menikah kemarin, aku datang, ya? Biar bisa ketemu dengannya."
"Iya, padahal Tante 'kan undang kamu juga. Tante juga sempat nungguin, kok kamu nggak datang-datang, eh ternyata memang yang datang cuma Mami dan Papimu doang."
"Iya, aku minta maaf, Tan. Soalnya lagi padat syuting. Mau ditinggal tapi udah ada kontrak."
Yumna memang bekerja sebagai model iklan, sekaligus selebgram yang aktif di sosial media. Dia juga hobi traveling dan belanja.
"Sekarang jadi model apa saja kamu, Yum? Apa hanya kosmetik?"
"Banyak sih, Tan. Nggak hanya kosmetik. Aku sendiri 'kan nggak pilih-pilih kalau nerima tawaran iklan. Yang penting nyaman dan sesuai bayarannya aja."
"Nanti Tante tanya Joe, ya, Yum, siapa tau perusahaannya butuh tambahan model. Kayaknya kamu cocok deh ... kalau jadi model prodak skincare-nya Joe." Mami Yeri memerhatikan Yumna lekat-lekat, sampai pada ujung rambut panjangnya yang terlihat lurus dan begitu sehat.
"Boleh tuh, Tan." Yumna menganggukkan kepalanya. "Aku malah seneng kalau bisa dikasih kesempatan untuk bekerjasama dengan Kak Joe. Lagian aku juga lebih betah tinggal di Indonesia kayaknya, ketimbang di Korea."
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1