Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
173. Sama-sama salah


__ADS_3

"Papi! Abi! Kenapa kalian berdua gundul?" tanya Joe yang langsung berlari menghampiri mereka berdua. "Dan kenapa juga, kalian diikat?"


"Maaf Pak Joe ... kami terpaksa mengikat mereka, karena mereka masih terus berkelahi." Pak RT yang menjawabnya.


"Tapi kenapa mereka bisa berkelahi, Pak?" tanya Joe heran.


"Maaf, saya izin menjawab ya, Pak Joe," ucap Ustad Yunus berbicara. Pria itu sejak tadi memang ada di dekat Abi Hamdan dan Papi Paul.


"Iya, Tad. Ceritakan saja." Joe menganggukkan kepalanya.


"Awal mereka berkelahi sih saya nggak lihat jelas, Pak. Tapi yang saya nggak sengaja dengar dari luar ... kalau mereka menyebut-nyebut nama Bapak. Kebetulan sebelum mereka berkelahi saya memang ada di rumah ini, hanya saja duduk di teras. Sedangkan mereka berkelahi di dalam rumah. Dan karena penasaran ... ditambah perkelahian mereka cukup keras, akhirnya saya masuk ke dalam rumah. Tapi dengan kondisi mereka yang sudah sama-sama gundul dengan posisi Pak Paul yang menindih tubuh Ustad Hamdan," jelas Ustad Yunus panjang lebar.


Yang terjadi memang seperti itu. Dan karena keduanya sudah sama-sama tersulut emosi, alhasil mereka secara tidak sadar saling mencukur rambut lawannya.


Namun, saat dipergoki Ustad Yunus dengan posisi keduanya sudah sama-sama botak—mereka bukannya berhenti berkelahi, tapi justru makin menjadi.


Ustad Yunus pun berinisiatif untuk meminta bantuan para warga, untuk membantunya memisahkan keduanya. Tapi agak sulit juga, karena keduanya masih terus memberontak. Hingga akhirnya, Pak RT datang dan mengusulkan jika mereka lebih baik diikat. Apalagi mengingat sudah ada korban yang pingsan dengan kepala bocor.


"Jelaskan sama Mami, Pi, penyebab Papi berkelahi sama Pak Hamdan itu apa? Sampai-sampai kepala kalian botak begini?" Mami Yeri mendekati suaminya, tapi wajahnya masih terlihat syok.


"Ini semua karena Pak Hamdan, Mi!" tuduh Papi Paul sambil menatap tajam besannya.


"Kok karena aku? Bapak yang mulai duluan, ya! Bapak yang ada niat mengunduliku dulu!" sembur Abi Hamdan membela diri.


"Kalau bukan awalnya Bapak tidak menggunduli Joe ... aku juga ggak akan melakukan hal ini, Pak!"


"Kan sudah kujelaskan! Kalau ini adalah hukuman! Suruh siapa dia—"


"Tunggu dulu ...!" Mami Yeri menyela ucapan besannya. "Tadi Papi bilang apa? Joe gundul? Benarkah?" Dia langsung menatap ke arah anaknya dengan raut bingung.


"Bener, Mi, dan Joe digundul karena mertuanya. Mertuanya yang gila ... memberikan Joe hukuman seperti itu!" tandas Papi Paul dengan penuh emosional.


"Benar itu, kamu gundul, Joe?" Tangan Mami Yeri sudah terangkat dan memegang peci di atas kepala anaknya. Tapi Joe langsung menahannya, ketika wanita itu akan menarik benda tersebut.


"Iya, Mi," jawab Joe dengan anggukan kepala. "Tapi nggak masalah kok, kalau aku digundul. Dan kenapa juga masalah ini musti dibesar-besarkan? Menurutku nggak perlu."

__ADS_1


"Kalau kamu dari awal mengizinkan Syifa untuk digundul ... Papi nggak akan melakukan hal ini, Joe!" teriak Papi Paul.


"Bapak jangan coba-coba melakukan hal itu!" balas Abi Hamdan yang terlihat terpancing karena membawa-bawa nama anaknya. "Aku nggak akan terima dunia akhirat kalau sampai Syifa sampai digundul!"


"Bapak memang egois! Yang salah disini mereka berdua, tapi justru hanya Joe yang dihukum dan mentang-mentang Syifa adalah anak Bapak ... jadi nggak Bapak hukum!"


"Papi, Abi ... udah cukup!" tegas Joe. Lama-lama dia jadi jengah, dan kalau seperti itu caranya bisa-bisa masalahnya ini tidak akan ada ujungnya. "Masalah yang terjadi ... yang aku alami, itu sudah selesai, Pi, Bi. Kalian nggak perlu berkelahi ... karena itu nggak ada manfaatnya. Coba lihat sekarang, apa yang kalian dapat? Nggak ada, kan?" Joe mencoba menasehati sambil mengontrol diri, supaya suaranya tak terdengar keras didengar oleh Papi dan mertuanya.


"Papi sudah berhasil mengunduli mertuamu, dan itu memang tujuan Papi, Joe!" sahut Papi Paul yang terdengar puas.


"Iya, memang Papi berhasil. Tapi coba lihat diri Papi sendiri?" Joe perlahan berjongkok, lalu mengelus kepala botak Papi Paul.


Tidak terasa licin sama sekali, malah botaknya pun jelek dan tidak beraturan. Sama saja dengan kepala Abi Hamdan.


"Papi juga sekarang sudah gundul. Jadi apa bedanya? Papi dan Abi sudah sama-sama gundul," tambah Joe melanjutkan.


"Papi nggak peduli. Yang terpenting mertuamu sudah Papi bikin gundul, Joe!"


"Sekarang kalian mau berdamai atau tidak?" tanya Pak RT sambil menggaruk kepala. Ikut pusing juga dia di sini, apalagi perkelahiannya ada diwilayahnya. "Ini sudah malam. Selain itu kalian adalah keluarga, nggak baik jika berkelahi seperti tadi."


"Aku siap berdamai, tapi Pak Paul yang harus duluan minta maaf," ucap Abi Hamdan sambil menatap sinis besannya.


"Ya jelas aku nyuruh Bapak. Karena Bapak 'kan salah di sini. Datang sebagai tamu, tapi ngajak ribut!"


"Aku ngajak ribut juga ada alasannya! Dan Bapak juga kenapa justru berbalik menggunduliku? Hah?" bentaknya.


"Ya masa aku diam saja ... ada orang yang mau menggunduliku? Mana Bapak juga bawa asisten segala lagi. Ya aku lawan lah!"


"Dia sopirku! Bukan asisten!" bantah Papi Paul.


"Sama saja. Intinya orang suruhan Bapak! Kalau memang Bapak jantan ... harusnya Bapak datang sendiri dong, tapi ini malah minta bantuan orang lain yang memegangi tanganku!" tantang Abi Hamdan sambil tersenyum miring.


"Tapi diawal perkelahian dia sudah pingsan duluan, dan kita berduel. Tapi aku pemenangnya!"


"Menang apanya? Jelas aku yang menang!"

__ADS_1


"Aku!"


"Aku apanya? Jelas aku!"


"Bapak 'kan sudah kubuat botak! Jadi aku yang menang!"


"Bapak juga botak, karena aku. Jadi aku dong yang menang!"


"Aku!"


"Aku!"


"Akuuuuu!!"


"Akkuuuu!!"


Suara keduanya terdengar begitu melengking, mengisi ruangan dan membuat gendang telinga semua orang berdengung. Jelas di sini jika keduanya itu sama-sama egois. Tak ada satu pun yang mengalah. Padahal keduanya tidak ada yang menang dan tidak ada pula yang kalah. Malahan seri, karena sama-sama sudah botak dan babak belur.


"Pak RT ...." Joe membuka suara sambil menatap kepada Pak RT. "Lebih baik, mereka berdua dibawa ke kantor polisi saja. Aku sakit kepala mendengar mereka terus berantem, Pak."


Mendengar apa yang Joe sampaikan, seketika kedua pria tua itu mengakhiri perdebatannya. Kemudian menatap kepadanya.


"Joe ... apa-apaan kamu? Papi nggak mau dibawa ke kantor polisi!" tegas Papi Paul dengan gelengan kepala.


"Abi juga nggak mau, Jon!" balas Abi Hamdan. "Di sini Abi nggak salah. Abi hanya jadi korban."


"Kalian berdua sama-sama salah!" tegas Joe. "Apalagi sudah memakan korban. Jadi lebih baik kalian dibawa saja ke polisi, biar polisi yang menangani."


"Udah Bapak-bapak ...." Pak RT berbicara sambil menatap beberapa warga di sekitarnya. "Tolong bawa Ustad Hamdan dan Pak Paul ke dalam mobil Pak Joe. Biar kita angkut dan bawa ke kantor polisi," tambahnya yang menyetujui usulan dari Joe.


"Baik, Pak!" Salah satu dari mereka mewakili untuk menjawab. Dan beberapa yang lainnya pun saling bergotong royong mengangkat tubuh Abi Hamdan dan Papi Paul untuk dibawa keluar rumah.


"Abi nggak mau masuk penjara, Jon! Jangan lakukan ini!" teriak Abi Hamdan memohon.


"Papi juga nggak mau, Joe! Nggak mau!" sahut Papi Paul yang ikut meraung-raung.

__ADS_1


Joe tidak peduli. Dia tetap akan membawa mereka berdua. Karena hanya dengan itu, mereka akan berdamai dan urusan ini selesai.


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2