Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
24. Berhelm serta lucu


__ADS_3

"Kenapa? Kamu takut tidur sama aku, hmmm?" Joe memiringkan kepalanya. Syifa terdiam mematung, hanya menatapnya saja. "Tenang saja, Yang ... aku nggak akan ngapa-ngapain kamu kok."


"Bagaimana aku bisa percaya?" Alis mata Syifa tampak bertaut.


"Kamu bisa pukul aku dan berteriak. Kalau aku ngapain-ngapin kamu. Aku akan melakukannya, kalau kamu mengizinkan." Joe ingin segera buka puasa. Tapi kalau terlalu buru-buru rasanya tidak bagus untuk mental Syifa.


Seperti apa yang dikatakan dokter sebelumnya, Joe harus melakukannya secara perlahan dan dengan pemanasan.


"Melakukan apa yang Aa maksud?"


"Kenapa kamu musti bertanya? Kamu sendiri pasti sudah tau jawabannya." Joe berdiri, kemudian melangkah mendekat, lalu merangkul bahu Syifa dan mengajaknya ke kasur. Buket bunga yang berada di tangan gadis itu langsung Joe taruh di atas nakas.


Barulah setelah itu, dia membantu Syifa untuk berbaring, lalu menyelimuti tubuhnya dan Robert.


Sebentar Joe rasakan, tubuh gadis itu bergetar.


"Santai saja, Yang. Aku nggak gigit kok, tenang saja," ujar Joe lembut, lalu mengusap puncak kerudung Syifa. "Dan apa kalau tidur pun, kamu tetap memakai hijab? Nggak gerah?"


"Nggak." Syifa menggeleng. "Aku udah biasa tidur pakai hijab, A," tambahnya. Syifa pun menggeser tubuhnya untuk lebih dekat ke arah Robert, kemudian memeluk tubuh bocah yang tidur dengan posisi tengkurap itu.


"Apa aku nggak salah dengar ... kamu memanggilku dengan sebutan Aa?"

__ADS_1


"Abi dan Umi yang minta," jawab Syifa pelan. "Memangnya kenapa? Kalau nggak suka, nanti aku ganti dengan panggilan lain."


"Nggak, suka kok. Terdengar manis didengar. Tapi artinya apa kira-kira?" Panggilan itu terdengar jarang didengar oleh Joe, apalagi dia juga bukan asli orang Jakarta.


"Sama seperti Mas, Abang dan Kakak."


"Oh begitu. Tapi terdengar lebih manis, ya, aku menyukai panggilan baruku, Yang."


"Iya."


"Ya sudah ... selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah. Aku mencintaimu." Kedua kali, Joe mengusap puncak kerudung Syifa.


"Iya." Hanya kata singkat itu yang keluar dari bibir ranum Syifa. Perlahan, dia meringkuk ke arah Robert.


Perlahan, Joe pun merebahkan tubuhnya. Kemudian meringkuk ke arah Syifa dan tersenyum memandangi tubuhnya itu. Ingin rasanya Joe mendekapnya dari belakang. Hanya saja dia tidak cukup berani. Takut Syifa menolak dan marah-marah.


Lagian, dia juga sudah mengatakan jika tak akan berbuat apa pun tanpa izin dari Syifa. Ucapan pria sejati adalah seperti sebuah janji. Masa iya, dia melanggar? Tidak mungkin, kan?


'Terima kasih ya, Allah. Setelah 7 tahun lamanya ... akhirnya aku bisa tidur bersama seorang perempuan lagi yang menjadi istriku. Ini keinginan Robert sejak dulu dan aku pun ikut senang,' batin Joe, lalu merogoh sarung yang dia kenakan saat ini dan menyentuh miliknya yang mengeras sejak tadi. 'Harapanku sekarang hanya satu. Yakni ingin mendapatkan Syifa seutuhnya menjadi milikku. Tolong buat hatinya luluh, ya Allah ... supaya mau aku ajak bercinta. Tongkat bisbolku sudah nggak tahan rasanya, dia ingin muntah darah putih.'


Setelah mengoceh dalam hati, Joe pun memutuskan untuk memejamkan mata. Mencoba tidur dan melupakan pikiran kotornya yang sekarang sedang merajalela.

__ADS_1


Namun berbeda. Sejak dirinya berbaring, Syifa tak kunjung bisa memejamkan mata. Bukan tak mau tidur, hanya saja jantungnya yang berdegup kencang itu membuatnya terganggu. Dan tidak biasa seperti itu.


Degh!


Degh!


Degh!


'Ah ... kalau begini bagaimana aku bisa tidur?' Syifa membatin seraya membuang napasnya dengan kasar. 'Jantungku terus berdebar. Tapi kenapa kira-kira? Apa karena ada Aa Joe di sampingku?' tebaknya.


Lantas, Syifa membalik tubuhnya secara perlahan. Kemudian menoleh ke arah Joe. Pria tampan bermata sipit itu terlihat tenang dengan mata yang tertutup. Sepertinya, dia sudah tertidur sekarang.


'Udah tidur ternyata, cepet banget. Kukira dia juga nggak bisa tidur, sama sepertiku.' Syifa langsung menurunkan pandangan dan sontak, dia terbelalak.


Sorotan matanya itu terjatuh pada sarung berwarna biru navy yang Joe kenakan. Benda itu menyingkap sampai paha atas sehingga membuat sesuatu yang panjang di dalam sana menyembul keluar.


Syifa terkejut bukan hanya karena melihat penampakannya, tapi juga melihat bentuknya yang berbeda dengan yang dulu. Tentunya, dia juga pernah melihat tongkat bisbol Joe sebelum disunat dan sekarang sudah banyak sekali perubahan.


Seketika, Syifa pun teringat ucapan seorang dokter yang menangani keadaan Joe ketika mengalami insiden kebakaran. Hingga akhirnya harus disunat.


'Ternyata benar apa yang Dokter katakan. Tongkat A' Joe jauh lebih bagus ketimbang dulu. Dan sekarang sudah tak berkuncup, tapi berhelm serta lucu,' batinnya. Semakin lama dilihat, Syifa justru menelan ludahnya dengan kasar.

__ADS_1


Kemudian entah mengapa dia menjadi merinding sendiri, hanya bedanya bukan diarea tubuh. Tapi hanya pada inti tubuhnya saja.


...Jangan lupa kasih vote dan hadiahnya, ya, Guys, biar Author semangat up-nya 🙏☺️...


__ADS_2