
"Lho, ada apa itu? Kok rame-rame?"
Joe menatap heran beberapa orang yang berlarian ke arah parkiran, juga dengan sebuah mobil berwarna hitam mengkilap yang datang. Bahkan di atas mobil itu masih tersemat sebuah pita besar.
"Itu mobil dompresnya bukan, ya? Tapi ada ap—eh, Yang!" Joe langsung menyeru ketika melihat istrinya ternyata menjadi salah satu orang yang berlarian di sana. Perempuan itu juga bersama Robert yang tengah digandeng.
"Aa! Ayok kita ke rumah sakit, A!" Sebelum Joe keluar dari mobil, Syifa lebih dulu masuk bersama Robert. Deru napasnya terdengar terengah-engah sekali.
"Rumah sakit?" Joe membulatkan mata, lalu kedua tangannya itu langsung menyentuh perut Syifa. Dia berpikir jika alasan Syifa memintanya pergi ke rumah sakit adalah karena kandungannya. "Mau ngapain, Yang? Apa kamu sakit perut?"
"Bukan sakit perut, Dad. Tapi Opa pingsan!" Robert langsung menjawab dengan cepat. Bocah itu sekarang sudah duduk dipangkuan Syifa. Telunjuk kecilnya itu lantas menunjuk mobil baru di depan sana. "Cepat kejar mobil itu, Dad! Di dalam sana ada Opa Hamdan dan Oma Maryam."
"Opa dan Oma?!" Joe terlihat terkejut, matanya membulat sempurna. Tapi dia buru-buru menyalakan mesin mobilnya, lalu berkendara mengikuti mobil di depannya. "Kenapa Opa bisa pingsan, Rob?" tanyanya seraya menoleh sebentar kepada sang anak. "Dan tolong kamu ambilkan air mineral disisi pintu, lalu berikan kepada Mommy," titahnya kemudian.
Dilihat memang wajah Syifa tampak tegang dan begitu khawatir, Joe jadi mencemaskannya.
"Robert juga nggak tau, Dad, alasan Opa pingsan. Soalnya itu tiba-tiba banget," sahutnya, lalu mengambil air mineral dan membukakan tutup botolnya. Setelah itu menyerahkan kepada Syifa. "Mommy minum dulu, Mommy nggak perlu khawatirin Opa. Kan sekarang kita menuju ke rumah sakit."
"Iya, Nak." Syifa mengangguk, lalu meraih botol dari tangan anaknya dan menenggaknya hingga tandas. Selain memang dia benar-benar khawatir, Syifa juga begitu haus saat ini.
*
*
Sekarang, Umi Maryam, Joe, Syifa dan Robert berada diluar ruangan UGD. Tengah duduk menunggu Abi Hamdan yang diperiksa di dalam sana.
Sebelum memutuskan dibawa ke rumah sakit, Abi Hamdan sebetulnya sudah dibawa ke UKS sekolah. Tapi berhubung tak kunjung sadar meskipun sudah diolesi minyak angin, Syifa pun akhirnya membawanya ke sana.
Pak Bambang pun mengusulkan untuk langsung memasukkan pria itu ke dalam mobil barunya, karena situasi begitu genting. Jadilah pria tua itu beserta istrinya pergi menggunakan mobil baru dengan ditemani Pak Bambang yang mengemudi.
"Bu Syifa ...," panggil pria itu yang datang menghampiri Syifa sambil membawa map coklat di tangannya.
__ADS_1
"Iya, Pak?" Syifa langsung berdiri, begitu pun dengan Joe.
Sedangkan Robert sendiri tengah sibuk memeluk tubuh Umi Maryam, sambil mengusap punggungnya.
Bocah itu terlihat begitu pengertian sekali dengan apa yang terjadi, sampai-sampai dia berusaha menenangkan Umi Maryam.
"Ambil ini, Bu." Pak Bambang menyerahkan map itu ke tangan Syifa. "Di dalamnya berisi kunci mobil, surat kendaraan dan beberapa berkas yang lain, yang musti Pak Hamdan tanda tangani dan lengkapi. Tolong berikan padanya setelah dia sadar."
"Baik, Pak, terima kasih," Jawab Syifa dengan anggukan kepala. "Dan apakah ini artinya penyerahan dompres sudah dilakukan? Abiku sudah berhak mendapatkan serta memakai hadiahnya?"
"Abi Ibu tentu sudah berhak memiliki mobil itu sejak menang hompipah. Tapi sebaiknya, tanda tangani beserta lengkapi dulu apa yang saya berikan tadi. Sebelum beliau memakainya, ya, Bu."
Syifa mengangguk lagi. "Baik, Pak, saya akan meminta Abi untuk melengkapinya."
"Kalau begitu saya permisi, Bu, Pak Joe, Bu Maryam dan Robert." Pak Bambang menatap mereka bergantian.
"Biar aku antar pulang ya, Pak, Bapak pasti nggak bawa mobil, kan?" tawar Joe.
Sejujurnya Joe ingin mengantarkannya pulang. Namun berhubung sudah ditolak, jadi dia menuruti. Tidak mungkin juga Joe mencoba untuk memaksa pria itu, kalau memang beliaunya sendiri tidak mau.
"Walaikum salam." Yang menjawab hanya Syifa dan Joe. Sedangkan Umi Maryam dan Robert terlihat sibuk memikirkan Abi Hamdan di dalam sana.
Tak berselang lama kepergian Pak Bambang, kini pintu ruangan UGD itu dibuka. Keluarlah seorang dokter pria berewokan yang kini menghampiri mereka.
"Dokter, bagaimana keadaan suamiku?" tanya Umi Maryam cepat sembari berdiri dan menggendong cucunya.
Joe dan Syifa pun langsung menatap ke arah dokter dengan raut penasaran.
"Pak Hamdan mengalami sesak napas, Bu. Untung saja kalian cepat membawanya kemari. Karena kondisinya cukup mengkhawatirkan," jawab Dokter itu.
"Ya Allah ... separah itu kah, Dok?" Syifa terlihat terkejut mendengarnya. Raut kecemasannya itu kini tergabung dengan rona kesedihan.
__ADS_1
"Iya, Nona." Dokter itu mengangguk samar. "Saat ini Pak Hamdan bernapas dengan dibantu oleh ventilator oksigen. Dan saya minta untuk sementara waktu beliau dirawat dulu, sampai benar-benar pulih."
"Tapi, Dok, alasan suamiku sesak napas itu apa? Karena setauku ... dia nggak ada riwayat sakit asma," tanya Umi Maryam penasaran.
Sama halnya seperti Syifa, dia juga begitu sedih mendengar kabar suaminya. Bahkan kedua bola matanya itu sudah becek sekarang.
"Seseorang yang sesak napas bukan berarti mempunyai riwayat sakit asma, Bu. Sesak napas itu bisa terjadi jika contohnya kita berada diruangan yang sempit dan minim udara. Bisa juga karena keterkejutan, efek obat, kehamilan, kecapekan dan sebagainya," jelas dokter itu panjang lebar, lalu masih melanjutkan. "Banyak sekali faktor yang memengaruhi. Tapi saya disini tidak bisa mendeteksi penyebabnya. Tapi apakah saya boleh tau ... aktivitas apa yang dilakukan Pak Hamdan sebelumnya?"
"Sebelum semua terjadi ... Abi baru saja ikut lomba panjat pinang, Dok," jawab Syifa memberitahu. "Dan bisa dibilang, ini pertama kalinya Abi ikut lomba panjat pinang," tambahnya kemudian.
"Oh ... berarti saat beliau pingsan, beliau itu sedang lomba, Nona?"
"Sesudah lomba, Dok."
"Lebih tepatnya saat penyerahan hadiah, Mom." Robert menimpali. "Opa pingsannya pas melihat mobil barunya datang."
"Hadiah lombanya mobil, Dek?" tanya Dokter menatap Robert.
"Iya, Om Dokter." Bocah itu mengangguk.
Bola mata dokter itu sontak berbinar. "Keren amat. Om rasanya baru denger ... kalau ada lomba panjat pinang hadiahnya mobil. Tau gitu Om ikutan, ya, siapa tau menang dan dapat mobil."
"Om Dokter nggak boleh ikutan," jawab Robert dengan gelengan kepala. "karena yang boleh ikut adalah orang tua atau keluarga dari anak-anak SD dan TK yang sekolah di sana, Om."
"Memangnya perlombaan itu adanya di sekolah?"
"Iya." Robert mengangguk.
"Memang, kamu sekolah dimana, Dek? Nanti keponakan Om mau Om masukin ah, ke san—"
"Lho, Dok, kok malah bahas lomba, sih?" potong Joe cepat yang terlihat heran. Aneh memang, padahal situasinya cukup genting dan dia masih penasaran dengan kondisi mertuanya. Tapi bisa-bisanya pria bergelar dokter itu bertanya hal lain, ditambah Robert juga ikut meladeni. "Jadi bagaimana dengan Abiku? Apa alasan dia pingsan?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
...Karena dapat mobil lah, Om 🤣...