Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
43. Si Jojon pelit


__ADS_3

"Tolong bungkuskan rendang, mau kubawa pulang," bisik Fahmi pelan dan nyaris tak terdengar.


Pelayan itu langsung menatap Fahmi, kemudian berbalik tanya. "Apa Bapak sudah mendaftarkan nama Bapak terlebih dahulu?"


"Mendaftar? Mendaftar bagaimana maksudmu?" tanya Fahmi bingung.


"Di sini kalau mau mengambil makanan atau minuman ... minimal Bapak daftar dulu ke sana." Pelayan itu menunjuk pada dua wanita berpakaian batik, yang tengah duduk di depan meja persegi panjang. Di atas meja tersebut ada kotak besar untuk tempat amplop dan keranjang besar berisi sovenir.


"Terus setelah daftar ... masukkan amplop, atau kalau bawa kado, bisa dititipkan ke sana. Dan bisa pula memberikannya langsung kepada pengantinnya. Nanti baru deh Bapak menikmati hidangan. Kalau mau dibawa pulang nanti saya bungkuskan," tambah pelayan itu.


Memang, semua tamu di sana diwajibkan untuk mendaftarkan nama serta alamat, sebelum menikmati hidangan apa pun itu. Sebab supaya nantinya tuan rumah yang mengadakan pesta tahu siapa saja tamunya, juga tak merasa rugi.


Maklum, semua tamu undangan rata-rata orang menengah ke atas. Jadi memang sudah dikonsep seperti itu.


"Ih ribet amat, padahal kamu 'kan bisa tinggal bungkuskan saja untukku dan pacarku supaya bisa dibawa pulang. Nggak perlu lah pakai daftar segala," gerutu Fahmi yang tampak enggan menuruti ucapan pelayan itu.


"Bukan masalah ribet nggak ribet, Pak, tapi memang peraturannya sudah seperti itu. Tamu boleh makan kalau sudah mendaftar."


"Kita langsung daftar saja, Kak," ajak Naya yang tampak tak masalah. Sebab dia sendiri hanya menjadi pendamping Fahmi. "Dan kita nggak perlu dibawa pulang. Malu ah nanti aku nenteng-nentengnya."


"Aku malas daftar," balas Fahmi dengan wajah kesal. "Kalau gitu kita langsung pulang saja deh, nggak perlu makan dan minum segala di sini."


Bukan, bukan dia tidak mau mendaftar. Alasan utamanya karena dia memang datang dengan membawa tangan kosong. Jangankan kado, amplop saja tidak.


Bukan dirinya tak punya uang, tapi semua itu dilakukan karena memang dia tak mau memberikan apapun.


Seperti niat awal dirinya datang, yakni mempermalukan Joe serta membuat Abi Hamdan menyesal. Dan kalau tentang makan dan minum, menurutnya itu sebagian dari rezeki. Sebab bisa makan dan minum gratis.


"Ya sudah kalau Kakak nggak mau daftar, biar aku saja yang daftar." Naya terlihat tak sabar ingin sekali mencicipi hidangan di sana. Mangkanya dia nekat melangkah cepat menuju dua wanita berbaju batik itu, dan ikut berbaris sebab ada banyak pula yang mengantre ingin daftar.

__ADS_1


"Apa kau membawa amplopnya, Nay?" tanya Fahmi yang tiba-tiba sudah berada di dekat Naya, lalu mencekal tangan kanannya.


"Itu amplop, Kak. Ngapain beli." Naya menunjuk sekotak amplop yang berada di atas meja, di dekat kotak besar.


"Tapi kau bawa uang, kan?"


"Buat apa nanyain uang segala?" Naya menoleh kepada Fahmi dengan wajah bingung.


"Ya buat ngisi amplopnya lah, gimana, sih?" Fahmi mendengkus kesal.


"Ya Kakak yang ngisi dong. Masa aku?"


"Kok aku?" Fahmi menunjuk wajahnya sendiri dengan geram. "Kan kamu yang sejak tadi bilang kepengen makan. Ya kamu lah."


"Dih. Kan Kakak yang mengajakku kondangan?! Aku mah cuma ngikut. Ya harusnya Kakak dong yang ngasih amplop."


"Silahkan daftar, Nona ... Pak." Seorang wanita berbaju batik menyodorkan sebuah buku tamu beserta pulpennya. Sekarang sudah tiba giliran mereka.


Berdecak, lalu membatin dalam hati. 'Cih! Siapa juga yang mau mengosongkan amplop.'


Fahmi pun mengambil dompet kulitnya di dalam kantong celana jeans, lalu membukanya diam-diam bahkan di bawah meja. Supaya tak ketahuan oleh orang kain jika dirinya ingin memasukkan uang sebesar 5 ribu rupiah ke dalam amplop.


Namun, wanita berbatik itu lagi-lagi berkata, "Jangan lupa juga, berikan nama di atas amplopnya, ya, Pak, Nona ... biar sesuai dengan nama yang daftar."


'Ah bodo amat deh. Orang aku mau ngasih amplopnya goceng. Lagian ... masih untung juga, daripada kosong. Iya, kan?' batinnya.


Ternyata selain sombong, Fahmi juga pelit.


Setelah Naya mendaftar, kini Fahmi lah yang menuliskan namanya dibuku tamu. Dan barulah menulis namanya di atas amplop, lalu melipat benda itu jadi dua dan memasukkan ke dalam kotak besar.

__ADS_1


"Silahkan ambil suvenirnya," ucap wanita berbatik sambil menunjuk keranjang suvenir yang berada di dekatnya.


"Lho, apa ini beneran emas, Mbak?" Naya tampak antusias mengambil satu suvenir di dalam keranjang. Lantaran suvenir tersebut berupa logam mulia dengan berat 1 gram.


"Emas asli dong, Nona. Masa imitasi," jawab wanita berbatik itu.


"Ah masa? Nggak percaya aku." Fahmi mengambil salah satu dan menatap benda tersebut begitu dekat dengan mata yang memicing. Memastikan jika memang benda itu benar-benar emas asli atau bukan. 'Masa emas? Baru lihat aku ada orang ngasih suvenir emas. Kurasa ini imitasi, Jojon nggak mungkinlah sekaya itu sampai suvenir pernikahannya emas. Kalau pun memang benar, pasti ini emas hasil curian.'


"Kalau kalian nggak percaya, besok atau pulang dari sini bisa pergi ke toko emas. Untuk mengeceknya. 1 gram ini setara dengan 1 juta, lho."


"Wah ... benarkah?" Naya membulatkan matanya dengan lebar. Tampak jelas dia juga berbinar, merasa senang dan tak menyangka. "Kalau begitu apa boleh aku mengambilnya 10 suvenir, Mbak?"


"Nggak boleh, Nona," tolak wanita itu. Kemudian mengambil salah satu souvernir yang berada di tangan Fahmi, dan menaruhnya kembali ke dalam keranjang.


"Lho, kenapa suvenirku diambil, Mbak?" tanya Fahmi.


"Satu suvenir untuk satu amplop dan satu undangan, Pak," jawab wanita itu, kemudian menunjuk ke arah prasmanan. "Silahkan ... Bapak dan Nona menikmati hidangan yang tersedia."


"Terima kasih, Mbak." Naya mengangguk semangat. Dia pun menaruh benda itu ke dalam tasnya, kemudian berlari menuju prasmanan di mana letak rendang itu berada.


Meja prasmanan itu dibagi menjadi dua, yakni untuk makanan Indonesia dan makanan Korea.


"Kenapa pelit sekali? Masa suvenirnya cuma satu?" omel Fahmi yang tampak kesal. Asli, dia menginginkan juga benda itu. Dan penasaran ingin cepat membawanya ke toko emas. Benar atau tidaknya itu emas asli.


Lumayan juga, kan, kalau memang benar asli. Ada untungnya dia datang ke pesta itu. Apalagi hanya memberikan uang 5 ribu di dalam amplop.


"Maaf, Pak. Tapi ini sudah peraturannya."


"Ah si Jojon pelit. Kusumpahin biar menduda lagi dia, terus nggak akan ada yang mau! Orang pelit itu kuburannya sempit tau, nggak! Rezekinya pun dijamin seret!" Fahmi berlalu pergi sambil menggerutu, kemudian menghampiri Naya.

__ADS_1


...Lha, ngomelin diri sendiri itu, nggak ngaca 🤣🤣...


...Oh ya, hari Senin nih. Yuk pada kasih vote sama hadiahnya, biar Authornya semangat. kalau yang pada pelit nggak ngasih berarti temennya Bang Fahmi 🤣🤣...


__ADS_2