Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
231. Pemenang panjat pinang


__ADS_3

"Biar aku yang manjat ke puncak ya, Pak! Jangan Bapak!" pinta Papi Paul cepat kepada Abi Hamdan.


Besannya itu langsung mengangguk. Dia akan menuruti apa yang Papi Paul katakan, yang terpenting sekarang Abi Hamdan bisa ikut lomba dan mempunyai kesempatan mendapatkan dompres.


"Pak Paul!"


"Pak Paul!"


"Menang!"


"Menang!"


Seperti biasa, suporter bayaran Robert itu kini meneriaki nama Papi Paul. Mami Yeri yang menonton bersama Umi Maryam pun terlihat begitu girang sekali, melihat suaminya akan berlomba.


"Pasti grup suami kita menang sih, Bu. Suamiku yang ganteng itu pandai manjat pohon soalnya," ucap Mami Yeri yang berbicara kepada besannya sambil lompat-lompat.


"Amin, Bu." Umi Maryam tersenyum dengan anggukan kecil.


Sama hal seperti grup-grup lain, urutan memanjat bambu itu dilihat dari postur tubuh dan tinggi.


Abi Hamdan pun mendapatkan urutan keempat untuk naik, karena atas permintaan Papi Paul.


"Siap ya, Bapak-bapak!" seru Papi Paul memberikan aba-aba. "Meskipun grup kita memiliki anggota yang paling tua. Tapi jangan sampai kita kalah!"


"Siap, Pak!" sahut beberapa peserta itu penuh semangat.


Setelah melihat anggota grup itu siap dengan saling memeluk bambu, kini terakhir tinggal Papi Paul lah yang memanjat.


"Ih! Itu Opa, Dad!"


Dari kejauhan di dalam mobil, Robert dapat melihat kedua Opanya yang berjuang di atas bambu.


Kedua matanya itu seketika berbinar, ketika Opa Paul tengah berusaha naik ke atas pundak Abi Hamdan. Pria tua itu juga terlihat begitu cekatan sekali.


"Opa! Opa! Opa! Opa!" seru Robert sembari bertepuk tangan, lalu membuka pintu mobilnya.


"Ah paling juga mereka kalah, Rob. Udah pada uzur begitu mana mungkin bisa naik puncak," tebak Joe yang terlihat tak percaya.


Namun, didetik selanjutnya sontak dia membulatkan mata. Ketika melihat Opa Paul sudah bergelantungan di atas puncak.


"Papi!! Seriusan? Dia naik ke atas sana?" Sampai-sampai dia menganga, karena sangking tak percayanya.


"Opa menang! Opa menang!" Robert yang sudah kegirangan itu langsung turun dari mobil, kemudian berlari menuju lapangan.

__ADS_1


Joe hendak beranjak dari duduknya, tapi seketika dia urungkan niat sebab teringat ucapan Syifa yang memintanya untuk tidak keluar mobil sebelum acara perlombaan itu selesai.


Kalau melanggar, bisa-bisa Syifa makin marah. Jadi lebih baik dituruti saja.


"Ini demi kesejahteraan tongkatku," gumamnya sambil menyentuh selangka*ngan.


"Alhamdulillah ... kita semua akhirnya tau, siapa pemenang dalam perlombaan panjat pinang tahun ini," ucap Syifa yang terdengar lantang.


"Grup Pak Paul lah ... yang jadi pemenangnya!" tambah Gisel menyeru.


"Yah ... kalah deh kita," keluh Tian dengan raut sedih, menatap lawannya yang sudah berhasil berada di atas sana.


"Iya, padahal lawan kita para aki-aki ya, Pak." Burhan merengut sambil mengusap pundak kanan Tian.


"Ah gara-gara Pak Ammar sih ini, jadi kita kalah." Jaccob kembali menyalahkan, sembari menatap sengit Ammar. Pria itu jadi makin bersalah saja jadinya.


"Maafin aku, Pak. Mungkin memang itu bukan rezeki kita."


"Kalian sih enak, udah sempat ikut lomba. Lha aku?" Sofyan menunjuk dirinya sendiri dengan raut kecewa. "Belum juga manjat, tapi udah kalah."


"Iya, Pakde kasihan. Kurang beruntung," sahut Juna yang datang menghampiri, lalu mengenggam tangan Sofyan untuk mencoba menghiburnya. "Lagian Pakde telat, sih, daftarnya. Harusnya 'kan dari kemarin."


"Ya kamu nggak kasih tau Pakde, kalau di sekolahmu ngadain lomba panjat pinang juga. Pakde kira cuma lomba buat para bocil."


"Jatuhkan ke sini saja, Papi, hadiah-hadiahnya," ucap Syifa yang datang dengan dua orang panitia.


Dua panitia itu membawa keranjang besar yang sudah dilapisi plastik bubble wrap, supaya nantinya beberapa hadiah itu aman jika jatuh ke dalam sana. Apalagi ada lima smartphone juga.


"Iya, Fa." Papi Paul mengangguk.


Dengan telaten dia pun menarik lima kotak smartphone dan lima buah kaos yang berbungkus plastik, kemudian menjatuhkan satu persatu-satu tepat ke bawah, pada keranjang yang sudah berada di dekat bambu.


Dan yang terakhir, tentu hadiah dompresnya. Yakni kunci mobil yang bergelantung pada bambu kecil bendera merah putih. Papi Paul mencabut beserta dengan benderanya juga.


"Asik!! Papi menang! Dapat mobil baru kita!" seru Mami Yeri yang girangnya bukan kepalang.


"Oma! Opa menang, Oma!" Robert datang-datang langsung memeluk tubuh Mami Yeri, ikut merasa bahagia atas kemenangan ini.


Umi Maryam pun langsung bersujud syukur. Yang terjadi tentulah atas izin dari Allah. Dan sebagai umat-Nya, tentu dia harus selalu bersyukur diberi nikmat seperti ini. 'Terima kasih ya, Allah. Akhirnya bukan hanya aku yang menang dalam lomba, tapi suamiku juga. Kalau pun nanti kalah dalam hompipah untuk dompres ... tapi setidaknya Abi sudah dapat kaos dan hape baru,' batinnya dengan hati berbunga-bunga.


Setelah semua benda di atas sana habis tak tersisa, kini giliran Papi Paul turun dari puncak. Dia pun turun dengan cara merosotkan tubuhnya dari atas, sembari memeluk bambu yang begitu licin karena oli.


"Alhamdulillah ... selamat ya, Pi, Abi dan Bapak-bapak anggota yang lain. Kalian memang hebat!" Syifa langsung mengangkat tangan kanan Papi Paul ke atas, dan pria itu mengangkat tangan kirinya sendiri sembari memegang bambu kecil bendera.

__ADS_1


"Sekarang ... penyelesaian yang terakhir, Bapak-bapak." Pak Bambang pun melangkah menghampiri, bersama kedua juri lainnya.


Ketiga orang itu menuju para anggota grup Papi Paul yang berdiri membentuk bundaran.


"Yakni siapakah yang berhak mendapatkan dompresnya," tambahnya kemudian.


"Pak Bambang, mending hadiah dompresnya langsung buat aku saja, Pak," pinta Papi Paul seraya memeluk bambu kecil di tangannya. Senang sekali rasanya, melihat kunci mobil itu sudah berada dalam genggaman.


"Lho, Pak, nggak boleh begitu dong," sahut peserta yang lain. Tentunya tak setuju.


"Iya, Pak." Abi Hamdan ikut menyahut. "Kita harus hompipah dulu, biar adil."


"Tapi 'kan yang manjat ke puncak aku sendiri, Pak," jawab Papi Paul.


"Tapi tanpa bantuan kami ... Bapak juga nggak bisa naik ke puncak," timpal Bapak yang lain, yang memang benar adanya.


"Namanya grup, kan memang harus kerjasama," jawab Papi Paul enteng.


"Ya udah tau hasil kerjasama, jadi Bapak nggak boleh lah kayak gitu. Musti hompipah dulu, biar adil," sahutnya, lalu mengambil bendera yang Papi Paul pegang. Tapi pria itu langsung merebutnya kembali.


"Jangan diambil! Ini sudah jadi punyaku!" tegas Papi Paul marah.


"Papi nggak boleh rese, Pi. Ayok turuti peraturan," tegur Syifa yang tak mau ada pertengkaran.


Baginya, kelima bapak-bapak itu sudah menjadi pemenangnya. Jadi sekarang tinggal hompipah saja untuk penyelesaian.


"Benar apa yang dikatakan Bu Syifa dan para anggota yang lain, Pak." Pak Bambang pun ikut mencoba menasehati. "Ayok sekarang kalian hompipah."


"Nggak mau!" tolak Papi Paul dengan gelengan kepala. Kakinya mulai mundur, tapi Abi Hamdan sudah mencekal tangannya. Khawatir jika pria itu kabur dengan membawa kunci mobil.


"Kalau nggak mau hompipah, mobil itu nggak akan saya jadi berikan kepada salah satu dari kalian," ancam Pak Bambang.


"Iya, Pak! Mending begitu saja," sahut Syifa setuju.


"Kamu kok begitu sih, Fa?" Papi Paul menatap menantunya dengan kesal. "Harusnya kamu belain Papi dong. Kan kamu menantu Papi."


"Tapi 'kan ini perlombaan, Pi. Semua perlombaan itu ada peraturannya. Jadi Papi harus menuruti peraturan yang ada."


"Ayok besan. Kita hompipah!" ajak Abi Hamdan yang sejak tadi begitu legowo, meskipun sebenarnya ada sedikit kejengahan di dalam dada dengan sikap besannya yang menyebalkan itu.


'Ah nyebelin! Aku yang susah-susah manjat ke atas tadi, harusnya langsung aja hadiah itu untukku!' batin Papi Paul sambil merengut.


Sebenarnya dia disini bukan tak mau menuruti peraturan, hanya saja dia takut kalah dalam hompipah. Karena dengan begitu, hadiah dompresnya tak dapat dia miliki.

__ADS_1


...Ayok yang nurut Papi 🤣🤣...


__ADS_2