Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
218. Hari kemerdekaan


__ADS_3

"Mau, Bang." Naya mengangguk setuju. Dan sontak membuat bola mata Ustad Yunus berbinar. "Kita bisa menjalani dulu, dan kalau misalkan cocok ... aku ingin Abang datang ke rumah untuk menemui Papaku."


Bagai dapat durian runtuh, Ustad Yunus benar-benar tak menyangka jika permintaan ta'arufnya mendapatkan respon yang sangat bagus.


Awal yang baik, dan dia tentu berdo'a semoga ke depannya Allah memberikan jalan yang mudah untuk dirinya supaya bisa membina rumah tangga.


Meskipun memang Naya perempuan yang baru Ustad Yunus kenal, tapi selain sudah ada rasa ketertarikan, Ustad Yunus juga merasa yakin—jika dia adalah perempuan yang baik untuk menjadi istrinya.


"Kalau itu pasti, Nay." Pria itu tersenyum merekah penuh kebahagiaan. "Terima kasih atas jawabannya. Saya senang sekali."


"Aku juga senang, Bang. Dan baru kali ini, ada seorang pria yang mengajakku ta'aruf."


'Alhamdulillah ... syukurlah ya, Allah.' Ustad Yunus membatin sembari menghela napas. Dapat dia rasakan jika hatinya sekarang berbunga-bunga. 'Semoga semaunya diberi kelancaran ya, Allah. Dan ini juga pasti berkat do'a Umi.'


'Apa sih yang mereka obrolkan? Kayaknya serius banget. Mana si Boy senyum-senyum terus lagi?' Dari kejauhan, Papi Yohan masih memerhatikan mereka. Dan tampak jelas jika dirinya begitu penasaran.


"Papi kenapa, sih, daritadi lihatin dia mulu! Bukannya makan!" pekik Yumna yang tampak marah. Pria di depannya itu langsung mengalihkan pandangannya, lalu menatap kepadanya.


"Papi cuma penasaran saja kok, Yum. Dengan apa yang dibicarakan mereka dan wajah si Boy terlihat begitu serius." Papi Yohan menyendokkan sup ayam di dalam mangkuk, lalu melahapnya.


"Udah sih, ngapain Papi penasaran segala. Kan aku udah bilang dari tadi kalau dia itu hanya orang asing. Jadi nggak penting, Pi!" geram Yumna.


"Iya, iya." Papi Yohan menghela napas. "Nggak perlu ngegas juga kali, Yum."


"Abis Papinya ngeselin sih." Yumna mendengkus, lalu melanjutkan makan salad buahnya.


***


Ceklek~


"Daddy! Mommy!" seru Robert yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan Joe.


Bocah yang sehabis pulang sekolah itu langsung menghamburkan pelukan kepada Syifa, yang tengah duduk di kursi kecil di samping Joe sembari mengupas buah apel.


"Kamu udah pulang, Nak?" Syifa langsung mengelus puncak kepala anaknya, lalu menciumnya dengan lembut.


"Iya, Mom." Bocah itu merelai pelukan, kemudian naik ke atas kasur untuk memeluk tubuh Joe.


"Pulang sama siapa tadi?" tanya Joe.


"Sama Opa." Robert menunjuk Papi Paul yang baru saja duduk di sofa, menemani istrinya yang sibuk nonton Drakor di laptop. "Oh ya, Daddy kok sampai diinfus segala, sih? Besok 'kan mau agustusan."


"Hubungannya diinfus sama agustusan apa, Rob?" Kening Joe tampak mengerenyit, tak paham dengan maksud anaknya.


"Mommy memangnya belum bilang, ya, sama Daddy?" Robert menatap ke arah Syifa.

__ADS_1


"Itu, A. Si Robert minta Aa ikut lomba panjat pinang di sekolah. Dan kebetulan kata Pak Bambang ... mau diadakan juga. Tapi buat guru dan orang tua murid, jadi diadu gitu."


"Mana bisa si Joe ikut panjat pinang, Fa." Papi Paul menimpali. Dan membuat menantunya itu menoleh kepadanya.


"Kenapa emang, Pi?"


"Si Joe selain penakut ... dia juga takut ketinggian."


"Dih sok tau Papi," pungkas Joe yang tampak tak terima dengan apa yang Papi Paul ungkapkan.


"Papi ngomong seusai kenyataan lho. Kan kamu memang takut ketinggian. Dari kecil mana pernah kamu manjat pohon? Bilangnya takut."


"Bukan takut. Tapi dipohon itu suka banyak semut, jadi aku takut digigit, Pi," kilah Joe berbohong. Dia mengatakan hal itu karena malu di depan Syifa. Rasanya tidak keren jika dirinya takut manjat pohon.


"Kalau emang Daddy nggak takut, ya dibuktikan dong!" tantang Robert.


"Bukti gimana? Maksudnya Daddy harus manjat pohon sekarang, gitu?"


"Jangan A," larang Syifa cepat. "Aa 'kan lagi sakit, mana boleh manjat pohon. Nanti jatuh."


"Jangan sekarang, Dad," sahut Robert dengan gelengan kepala.


"Lalu?"


"Besok aja, pas lomba panjat pinang. Besok pasti Daddy sembuh, kan? Udah keluar dari rumah sakit?"


"Kan pas udah keluar dari rumah sakit, Mom. Berarti itu sudah sembuh." Robert terlihat ngeyel, dan memang dia ingin sekali Daddynya ikut lomba agustusan. "Masa Daddy kalah sama orang tua lain? Papinya Juna, Daddynya Leon, dan Papanya Atta sama Baim aja ikutan tau."


"Tapi, Nak, mereka 'kan nggak—"


"Oke, Daddy ikutan, Rob," sela Joe memotong ucapan anaknya. "Kamu daftarin aja nama Daddy." Diberikan tantangan seperti itu tentu Joe tak bisa tinggal diam.


"Daftarnya sama Mommy, Dad."


"Cantumin namaku, Yang, buat ikut lomba," ucap Joe kepada Syifa.


"Ih jangan, A!" Syifa terlihat menolak, karena memang tak setuju. Apalagi dengan kondisi Joe sekarang. "Aa nggak usah ikut lomba, nonton aja."


"Papi aja yang ikut. Wakilin si Joe, Fa," sahut Papi Paul yang entah mengapa tiba-tiba ingin ikutan. Padahal sama seperti Joe, setiap tahunnya dia tak pernah ikut lomba apa pun untuk merayakan kemerdekaan.


"Nah bener tuh!" Mami Yeri langsung menimpali sembari menatap menantunya. "Papi paling jago dalam urusan manjat memanjat lho, Fa. Pasti menang deh."


"Mana ada diwakilkan. Aku mau ikutan sendiri! Papi nggak boleh ikut!" seru Joe tak mau.


"Kamu baru sembuh Joe. Dan kamu juga takut ketinggian," tegur Mami Yeri.

__ADS_1


"Besok aku sembuh, Mi. Dan aku akan buktikan kalau aku ini nggak takut ketinggian. Kan cemen namanya!"


"Opa sama Oma mending dari sekarang sewa orang," saran Robert memberikan ide.


"Sewa orang buat ngapain?" tanya Papi Paul bingung, keningnya tampak mengerenyit.


"Buat jadi suporter. Robert juga ikut semua lomba dan udah latihan. Pasti kalian akan bangga ... kalau Robert mendapatkan hadiah. Mana hadiahnya mobil lagi."


"Serius? Hadiahnya mobil?" Papi Paul dan Mami Yeri sama-sama membulat mata, lantaran terkejut sekaligus tak menyangka mendengar hadiah yang begitu fantastis itu. "Hebat bener Pak Bambang, ngadain lomba hadiahnya mobil," tambah Mami Yeri.


"Kalau begitu Papi juga mau ikutan lah, Fa. Biar dapat mobil baru." Papi Paul menatap menantunya. "Lomba lain ada nggak? Selain panjat pinang?"


"Tentang hadiah ... itu rahasia juri, Pi. Dan belum tentu ada mobil." Syifa terlihat ragu, dan memang dia tidak tahu menahu tentang hadiah tersebut yang sesungguhnya entah apa.


Pak Bambang hanya memintanya untuk mencatat usulan anak-anak muridnya, tapi semua keputusan tentu dari tangan juri dan rahasia.


"Pasti mobil, Mom. Kan Robert udah ngusulin pas kemarin." Robert terlihat yakin.


"Tapi Mommy nggak yakin, kalau usulanmu didengar, Nak. Soalnya mobil 'kan mahal."


"Ada iurannya nggak, sih, Fa? Dan siapa memang juri-jurinya?" tanya Mami Yeri penasaran.


"Jurinya Pak Bambang, kepala sekolah TK sama Pak Zaka, guru olahraga, Mi," jawab Syifa. "Dan tentang iuran, Pak Bambang nggak minta. Dia pakai uang kas sekolah sekaligus ada donatur yang memberikannya. Itu sih yang aku dengar dari hasil rapat kemarin."


"Siapa yang jadi donaturnya?" tanya Mami Yeri lagi.


"Aku nggak tau, Mi." Syifa menggeleng. "Kayaknya yang tau mungkin cuma Pak Bambang dan juri lainnya. Aku kebetulan cuma jadi host aja."


"Ya sudah, Papi dan Mami kamu daftarin aja, Fa, lomba apa aja kami mau ikut. Iya, kan, Pi?" Mami Yeri menatap suaminya, meminta sahutan darinya.


"Iya." Papi Paul mengangguk semangat.


"Nanti aku tanya Pak Bambang dulu nanti malam, ya, Mi, Pi. Barangkali memang selain orang tua ... keluarga dari murid boleh ikutan."


"Iya." Papi Paul dan Mami Yeri menjawab bersama diikuti anggukan kepala.


'Ah mereka ini, segala ikut-ikutan mulu. Padahal mending nonton saja dan jadi suporter. Kan itu jauh lebih bagus,' batin Joe yang terlihat mendengkus.


***


Keesokan harinya.


Hari ini, dimana hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh anak murid yang bersekolah di sana. Yang tentu ingin memeriahkan hari kemerdekaan republik Indonesia yang ke-78, dengan lomba-lomba yang diadakan sekolah.


Sebelum acara lomba itu digelar, seluruh murid di sana melaksanakan upacara bendera terlebih dahulu pada jam 7 pagi. Karena memang momen upacara adalah momen yang wajib setiap tahunnya.

__ADS_1


...Ada yang mau ikutan lomba nggak? Cusss buruan daftar sama Bu Syifa 🤭...


__ADS_2