Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
166. Aku malu


__ADS_3

Drrrtt ... Drrrtt ... Drrttt.


Ponsel Joe yang diletakkan di atas nakas bergetar. Pria itu pun segera meriahnya, dan ternyata ada sebuah panggilan masuk dari Sandi.


"Halo ... assalamualaikum, Pak," ucap Sandi saat panggilan itu baru saja diangkat oleh Joe.


"Walaikum salam," jawab Joe. "Ada apa, San?"


"Pak maaf ... saya lupa memberitahu kalau tadi pas saya ingin menjemput Dek Robert ... ternyata ada Bu Yeri, yang datang lalu menjemputnya."


"Iya nggak apa-apa, San."


"Ya sudah, ya, Pak, saya—"


"Tunggu dulu, San!" cegah Joe yang sepertinya Sandi akan mematikan panggilan.


"Kenapa, Pak?"


"Aku mau minta tolong padamu untuk ke kantorku. Terus minta Imel untuk mengambilkan satu paket vitamin menumbuh rambut, San."


"Terus paket vitamin itu mau saya antar buat siapa, Pak? Ustad Hamdan?" tebak Sandi.


"Bukan, tapi buatku. Antar ke rumahku, ya."


"Rambut Bapak memangnya rontok?" Sepertinya Sandi belum tahu, jika Joe botak. Tapi Joe juga tak ada niat memberitahukannya, karena malu.


"Iya, rambutku rontok. Tolong ya, San."


"Baik, Pak. Ya sudah ... saya tutup teleponnya. Assalamualaikum."


"Walaikum salam," jawab Joe kemudian mematikan panggilan. "Lho, Mama telepon aku ternyata? Ada apa kira-kira?"

__ADS_1


Joe baru menyadari, jika ada dua panggilan masuk yang tidak terjawab dan satu chat masuk yang belum dibuka dari Mami Yeri. Tapi saat dia membuka isi chat tersebut, dia langsung menghela napas lega.


[Joe ... Mami ingin mengajak Robert main dulu, jadi pulangnya mungkin agak lama. Nggak perlu ditungguin, ya.]


Menurutnya, tidak ada yang menghawatirkan dari isi chat tersebut. Dan dia pun segera membalasnya, meskipun mungkin sudah telat.


[Iya, nggak apa-apa, Mi. Bersenang-senanglah kalian. Hati-hati pulangnya.]


Setelah berhasil dikirim, tiba-tiba ponsel Joe kembali bergetar. Dan kali ini adalah panggilan masuk dari salah satu rekan bisnisnya yang bernama Abimana.


"Halo, sore Pak Joe," sapa pria dari seberang sana.


"Sore juga Pak Abi."


"Nanti malam ... Bapak jadi datang, kan, ke acara launching restoran baruku?"


"Launching restoran baru?" Joe mengulang kalimat itu dengan raut bingung.


"Lho ... jangan bilang Bapak lupa? Aku juga sudah kirim undangannya sekitar dua hari yang lalu. Aku sempat tanya sama sekertaris Bapak ... tapi dia bilang, aku suruh undang langsung saja ke rumah Bapak, karena Bapak jarang masuk ke kantor."


Padahal seminggu sebelumnya, Abi dan Joe sempat bertemu dan dia meminta Joe untuk menghadiri acara launching restoran barunya yang akan dibuka di Kota Tangerang. Joe juga sampai sudah berjanji, karena saat itu mereka sempat melakukan suatu kerjasama.


"Kenapa, Pak?" tanya Abi.


"Duh, Pak ... masalahnya aku ...." Joe langsung menggantung ucapannya diujung bibir, sebab bingung untuk mengatakan apa.


Ingin menolak sebenarnya, tapi merasa tak enak. Sedangkan kalau datang—bagaimana dengan kondisinya sekarang? Joe tidak memiliki rasa pede, semua itu seakan lenyap bersama rambutnya.


"Aku harap Bapak bisa datang, karena Bapak juga sudah sempat berjanji. Karena tidak ada seorang pria sejati ... yang melanggar janjinya," ucap Abi yang terdengar menasehati.


"Aku akan datang, Pak." Joe dengan berat hati mengiyakan. "Maaf, tapi kira-kira jam berapa, ya? Soalnya undangan yang Bapak maksud itu belum sampai ke tanganku."

__ADS_1


"Jam 7, Pak."


"Oh begitu ... baiklah, Pak. Aku akan datang bersama anak dan istriku."


"Iya, aku tunggu ya, Pak. Ya sudah ... aku tutup teleponnya."


Ceklek~


Pintu kamar Joe perlahan dibuka, bertepatan dengan panggilan yang sudah ditutup.


"Aa ...," panggil Syifa yang baru saja melangkah masuk kamar dengan membawa segelas jus mangga di tangannya.


Joe pun menoleh, tapi dia langsung memakai peci di kepalanya yang diambil di atas bantal.


"Nggak usah dipakai juga nggak apa-apa, A, nggak masalah kok." Syifa mendekat, kemudian mengulurkan segelas jus ke tangan Joe. Dan keduanya pun lantas duduk dibibir kasur.


"Nggak pede aku, Yang. Aku merasa jelek banget pas digundul." Joe menyesap jus ituz kemudian memberikan kembali kepada Syifa saat gelasnya sudah kosong. "Terima kasih jusnya, Yang."


"Sama-sama, A." Syifa meletakkan gelas terlebih dahulu di atas nakas, sebelum dirinya bergelayut dibahu sang suami. "Maafin Abi, ya, A. Gara-gara hukuman Abi ... Aa jadi nggak mau keluar kamar, sampai nggak masuk ke kantor juga." Ada rasa bersalah sebenarnya, tapi sudah begini Syifa jadi bingung sendiri.


"Nggak apa-apa, Yang. Mungkin memang udah begini jalannya." Meskipun sebenarnya sedih, tapi Joe masih bisa menampilkan senyuman kepada istrinya. Juga dengan mengecup bibir ranumnya.


"Oh ya, A, tadi aku sempat telepon Pak Bambang. Karena Robert belum pulang. Terus dia bilang ... Robert sama Mami, dijemput sama Mami."


Joe menganggukkan kepalanya. "Iya, Yang. Tadi kata Sandi juga begitu."


"Tadi Aa telepon Pak Sandi?"


"Bukan aku telepon Sandi, tapi Sandi yang menelepon. Memberitahukan." Joe menjelaskan. "Oh, ya, Yang ... aku lagi bingung banget nih."


"Bingung kenapa, A?"

__ADS_1


"Aku 'kan pernah ada janji sama rekanku yang bernama Pak Abimana ... untuk datang ke launching restoran barunya, tapi masalahnya ... disini aku malu untuk datangnya, Yang. Kan kamu tau sendiri kalau aku sekarang jadi gundul pacul."


...Ngapain malu, Om, kecuali Om nggak pakai celana... baru malu 🤣🤣...


__ADS_2