Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
113. Ayok keluar


__ADS_3

"Astaga Robert!!" Mami Yeri sontak terkejut sehingga menjatuhkan ponselnya, kala melihat Robert sudah terlentang jatuh dengan mata terpejam.


Segera, dia berjongkok untuk meraih tubuh cucunya, kemudian berteriak kencang memanggil dua orang satpam yang berdiri di pos. "Pak! Cepat tolong Robert!!"


Dua satpam itu dengan sigap langsung berlari menghampiri, Molly pun sampai ikut-ikutan.


"Bawa ke kamar apa ke rumah sakit, Madam?" tanya salah satu satpam yang membantu menggendong, dia tampak bingung.


"Rumah sakit! Rumah sakit saja!" Karena panik, akhirnya Mami Yeri memutuskan untuk membawa Robert ke rumah sakit. Tak ada jalan lain, sebab dia benar-benar sudah kelimpungan sendiri.


"Tante Yeri! Aku ikut!" Yumna yang baru saja keluar dari rumah segera berlari, ketika melihat Yeri masuk ke dalam mobil bersama Robert, Molly dan salah satu satpam rumahnya.


"Ayok," ajak Mami Yeri sambil mengangguk. Dan gegas, Yumna ikut masuk ke dalam mobil pada kursi belakang. Bersama Mami Yeri yang sudah memangku Robert. Sedangkan Molly dipindahkan ke depan bersama seorang satpam yang mengemudi.


"Percepat mobilnya! Kita harus segera sampai ke rumah sakit!" perintah Mami Yeri. Pria berseragam hitam itu langsung mengangguk cepat.


"Siap, Madam!"


***


Sementara itu di Jakarta, Papi Paul terlihat tengah mondar-mandir di ruang tamu rumahnya dengan benda pipih yang menempel di telinga kanan.


Wajahnya terlihat memerah, juga dengan matanya. Memendam rasa emosi lantaran sejak tadi dia mencoba menghubungi Ali dan Aldi, tapi mereka sama sekali tak menjawab panggilannya. Padahal nomor keduanya aktif.


"Ke mana mereka? Kenapa lama sekali?!" geramnya sambil menetap arloji pada pergelangan tangan.


Disana tertera sudah hampir menunjukkan pukul setengah 10. Padahal diawal, Papi Paul sudah mengatakan pada dua algojonya itu untuk datang bersama Joe pukul 8, sebab akan mengantarkannya ke pengadilan. Tapi sampai sekarang, nyatanya mereka belum datang juga.


"Apa mereka masih lama datangnya, Pak?" tanya seorang pria tampan berkacamata. Dia bernama Harun Halwa, seorang pengacara yang sudah dibayar oleh Papi Paul untuk menangani kasus perceraian anaknya.


"Aku sudah telepon anak buahku, tapi mereka susah sekali dihubungi. Nggak diangkat-angkat," jawab Papi Paul dengan raut kesal. Perlahan dia pun menyeka keringat di dahinya yang baru saja mengalir.


"Kalau Pak Joenya sendiri gimana? Apa sudah ditelepon?" tanya Pengacara Harun lagi.


"Si Joe justru nomornya nggak aktif dari pagi," balas Papi Paul sambil mendengkus. "Bapak sabar dulu, ini aku akan coba telepon asistennya."


Papi Paul seketika teringat, dengan obrolannya tadi pagi bersama Aldi. Yang mengatakan jika mereka sedang mengantarkan Joe ke rumah Sandi. Dan otomatis, pria itu tahu dimana Joe saat ini.


*


*


Berpindah ke Sandi.

__ADS_1


Pria itu tengah duduk pada bangku tempat pembeli nasi uduk. Sedang makan nasi uduk yang diberikan oleh Umi Maryam, sisa terakhir dagangan hari ini yang laris manis.


Sebetulnya, dia sudah makan nasi uduk saat dimana Joe masuk ke dalam rumah Abi Hamdan. Tapi lantaran menunggu lama, jadilah dia makan dua porsi. Karena Umi Maryam pun kembali menawarinya.


"Ini teh manis, San, biar enak makan nasi uduk sambil minum teh manis," ujar Umi Maryam sambil menaruh segelas teh manis hangat di atas meja dekat Sandi.


"Terima kasih, Bu. Padahal 'kan ada teh tawar juga," jawab Sandi sambil tersenyum dan menyentuh teko kecil yang berisi teh tawar yang tersisa sedikit.


"Nggak apa-apa. Diminum saja," balas Umi Maryam dengan anggukan kecil. "Tapi kamu ini mau nungguin Joe apa gimana, San? Kok nggak langsung pulang habis mengantar?"


"Saya juga sebetulnya bingung, Bu, musti pulang atau stay di sini. Tapi Pak Joe sendiri nggak bilang saya untuk ....." Ucapan Sandi terhenti diujung bibirnya, kala mendengar ponsel miliknya sendiri berdering di dalam kantong celana jeans.


Segera, Sandi merogohnya ke dalam untuk mengambilnya. Dan saat melihat layar depan benda pipihnya itu, seketika Sandi membelalakkan mata. Lantaran terkejut jika yang menelepon adalah Papi Paul.


"Siapa yang telepon, San? Kok kelihatan kaget gitu?" tanya Umi Maryam penasaran.


"Bapaknya Pak Joe, Bu," sahut Sandi, lantas berdiri dan melangkah menjauh untuk mengangkat telepon. "Halo, Pak, selamat—"


"Ada di mana kamu, San?" tanya Papi Paul cepat yang langsung memotong sapaan Sandi.


"Di rumah, Pak. Ada apa, ya?" Karena takut, akhirnya Sandi berbohong. Aslinya di sini dia hanya ingin membantu Joe saja.


"Apa kamu bersama Joe sekarang?"


"Tapi tadi pagi Joe ke rumahmu, kan?"


"Iya. Tadi pagi saya ketemu Pak Joe, dia datang ke rumah."


"Berarti Joe sudah pulang dari rumahmu?"


"Iya, Pak." Sandi dengan refleks mengangguk.


"Dia pulang bersama dua bodyguardnya, San?"


"Saya kurang tau tuh, Pak." Sandi mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merasa merinding, sambil mulai berpikir untuk berhati-hati dalam bicara. Khawatir kalau sampai dicurigai.


"Kok kurang tau?" Papi Paul menjeds ucapannya sebentar, kemudian melanjutkan. "Lho, katanya tadi kamu ketemu Joe, San? Gimana, sih?"


"Saya memang ketemu Pak Joe, tapi saya nggak tau dia datang bersama bodyguard, Pak," jelas Sandi beralasan.


"Posisimu sekarang ada di mana?"


"Kan tadi saya sudah bilang, kalau saya di rumah, Pak."

__ADS_1


"Maksudnya, di dalam rumah atau di luar rumah? Coba cek ke luar, siapa tau Joe sama dua bodyguardnya masih ada di luar rumahmu. Terus bilang pada mereka untuk cepat ke rumahku."


"Baik, Pak, saya akan—"


"Tapi kalau mereka sudah nggak ada di rumahmu ... coba kamu pergi ke rumah Pak Hamdan, San," sergah Papi Paul cepat.


"Rumah Ustad Hamdan? Mau ngapain, Pak?" tanya Sandi berpura-pura tidak mengerti.


"Barangkali Joe ada di sana. Pokoknya kalau kamu ketemu, Joe, seret dia langsung untuk pulang ke rumahku, ya!" perintah Papi Paul sedikit keras.


"Baik, Pak." Sandi susah payah menelan salivanya, ketika panggilan itu sudah terputus.


Setelah itu, dia berlari cepat menghampiri Umi Maryam yang tengah membereskan dagangannya. Hendak menaruhnya ke dalam rumah.


"Bu Maryam, boleh saya izin masuk ke dalam rumah Ibu untuk menemui Pak Joe?" tanya Sandi dengan wajah cemas.


"Masuk saja, San," jawab Umi Maryam sambil tersenyum.


Sandi langsung masuk ke dalam rumah dan langkahnya seketika terhenti ketika melihat Abi Hamdan sedang menonton televisi di ruang tengah. "Ustad, di mana Pak Joe dan Bu Syifa?"


"Di kamar." Abi Hamdan menunjuk ke arah kamar, yang posisinya di depan Sandi berdiri.


Dan tanpa pikir panjang, pria itu langsung mengetuk-ngetuk pintu tersebut. Tak peduli sopan atau tidak, sebab sekarang adalah situasi yang genting.


Tok! Tok! Tok!


"Pak Joe! Ayok keluar, Pak! Ini gawat, Pak!" teriak Sandi dengan kencang.


"Lho, ada apa, San? Apanya yang gawat?" Abi Hamdan yang terlihat kaget langsung berdiri menghampiri Sandi, sedangkan Sandi masih sibuk untuk mengetuk pintu kamar.


Tok! Tok! Tok!


Sementara di dalam sana, bukannya bergegas keluar serta menyudahi aktifitas yang sudah cukup lama bergulir—justru Joe masih sibuk sendiri, dan seolah tak mendengar apa-apa.


Dengan peluh yang bercucuran, Joe masih semangat mencumbui istrinya yang kini dibawa untuk duduk di atas bak kamar mandi. Terus menghujaminya tanpa ampun sampai membuatnya menjerit kenikmatan.


"Aahh ... Aa!"


"Iya, Sayang?"


...----------------...


...Yang lain pada sibuk karena cemas, ini berdua malah sibuk enak-enak 🙈...

__ADS_1


__ADS_2