
"Salah alamat nggak sih, aku? Kok itu ada yang foto keluarga? Mana kepalanya pada botak-botak, ditambah silau lagi." Mata Yumna sampai memicing, saat sinar matahari di pagi hari itu memantul pada kepala Joe. Sehingga membuat sorotan matanya pun menjadi silau.
"Kayaknya aku emang salah alamat deh. Coba aku tanyain lagi deh ... sama OB di kantor."
Karena merasa ragu, jika alamat yang didapatkan dari seorang OB di kantor Joe adalah salah—akhirnya Yumna memutuskan untuk masuk lagi ke dalam mobil taksi, kemudian berlalu pergi dari rumah Joe.
"Tante Yeri juga susah dihubungi, sih, tumben ... padahal aku 'kan kepengen banget ketemu sama Kak Joe. Kangen kayaknya." Yumna mendengkus kesal, lalu meremmas rok mini yang dia pakai. "Tapi bagaimana, ya, kira-kira ekspresinya saat tau aku sudah jadi salah satu modelnya? Apa dia akan senang ... atau malah nggak?"
Yumna pun termangu memikirkan, sambil menatap ke arah jendela mobil.
"Lho, itu bukannya Papi, kan? Kenapa dengan Papi?"
Di seberang jalan, dia melihat ada seorang pria paruh baya berjas biru navy yang terkapar tak sadarkan diri dengan keadaan yang penuh darah dibagian kepala. Dari wajah dan perawakannya, dia sangat mirip sekali dengan Papinya yang bernama Yohan.
Dan tiba-tiba, ada seorang pria berpeci hitam turun dari mobil yang memang sejak tadi sudah berhenti, kemudian mendekati pria yang Yumna yakini adalah Papinya.
"Pak! Berhenti dulu, Pak!" Yumna berteriak pada sang sopir taksi, guna menghentikan laju kendaraannya.
Dan setelah mobil berwarna biru telor asin itu berhenti, segera dia pun membayar ongkos lalu turun. Kemudian berlari menyebrang jalan.
"Papi!!"
Saat sudah sampai, ternyata memang benar—pria yang terluka itu adalah Papinya. Beberapa orang yang ada di sana pun berkumpul, kemudian bantu pria yang memakai peci untuk mengangkat tubuh Papi Yohan.
"Mau dibawa ke mana dia? Dia Papiku!" pekik Yumna seraya mencekal tangan kanan pria berpeci yang sebenarnya adalah Ustad Yunus.
"Saya akan membawanya ke rumah sakit. Nona masuk saja ke dalam mobil."
Ustad Yunus dengan beberapa orang itu akhirnya berhasil untuk membawa Papi Yohan ke dalam mobilnya, dan Yumna tanpa banyak bicara langsung ikut masuk. Setelah itu mobil itu melaju pergi ke rumah sakit.
*
*
Sekarang, Yumna dan Ustad Yunus sudah berdiri di depan ruang UGD. Menunggu hasil pemeriksaan Papi Yohan yang sudah dimasukkan ke dalam sana.
Yumna juga segera menghubungi Maminya yang berada di Korea, karena khawatir dengan kondisi Papi Yohan.
"Kenapa Bapak menabrak Papiku? Apa kesalahannya?" selidik Yumna dengan tatapan tajam ke arah Ustad Yunus yang berdiri di sampingnya.
Dia sangat yakin, jika penyebab Papinya terluka itu akibat ulahnya. Karena dengan jelas dia melihat Ustad Yunus turun pada sebuah mobil yang tepat di depan tubuh Papi Yohan.
"Lho, kok Nona nuduh saya? Bukan saya yang menabrak Papi Anda." Ustad Yunus menggelengkan kepalanya.
"Nggak nabrak katanya? Jelas tadi Bapak ada ditempat kejadian, dan mobil Bapak ada di depan posisi Papiku berbaring!"
"Tapi saya benar-benar bukan orang yang menabraknya, Nona. Saya hanya menyelamatkan, Nona. Papi Anda itu korban tabrak lari."
"Terus kenapa Bapak ada di tempat kejadian apa, hah?" tanyanya sedikit membentak.
"Saya nggak sengaja lewat."
"Sekalian nabrak juga, kan?" tuduhnya yang terlihat tak percaya.
"Ya Allah ... saya bukannya sudah bilang, ya, kalau saya nggak nabrak. Kalau Nona nggak percaya ... Nona bisa tanya sama orang-orang disekitar atau periksa CCTV di sana," jelas Ustad Yunus.
__ADS_1
"Terus kenapa Papiku bisa mengalami korban tabrak lari? Dan kenapa Papi bisa ada di sana? Mau ngapain?!" cecar Yumna bertubi-tubi. Dadanya terlihat bergemuruh dan emosi.
"Soal itu saya nggak tau, Nona."
"Kok nggak tau, katanya tadi Bapak nggak sengaja lewat di sana!"
"Memang iya ...." Ustad Yunus mengangguk dan terdiam sebentar untuk menghela napas dengan berat. "Tapi saya nggak tau, yang saya lihat Papi Anda itu mau nyebrang jalan terus ditabrak oleh mobil yang melaju kencang. Sayangnya mobil yang nabraknya nggak mau tanggung jawab, dia pergi begitu saja."
"Kenapa Bapak nggak kejar dia? Harusnya Bapak kejar dia dong, terus minta dia untuk bertanggung jawab!" geram Yumna berteriak-teriak.
"Dia ngebut. Selain itu fokus saya tadi untuk menyelamatkan Papi Anda, Nona," jelas Ustad Yunus yang masih berbicara dengan nada lembut.
"Plat mobilnya Bapak ingat nggak? Warna mobilnya apa?"
"Warnanya putih, tapi plat mobilnya saya nggak tau."
"Kenapa nggak tau?"
"Kan saya sudah bilang, fokus saya di sana untuk menyelamatkan Papi Anda. Jadi saya nggak melihat ke mana-mana."
"Ya harusnya Bapak juga melihat plat nomor mobilnya dong! Plat nomor 'kan penting. Jadi orang kok bego banget!" Yumna menggerutu dengan wajah frustasi. Dia pun segera duduk, lalu membuka ponselnya yang masih berada dalam genggaman.
Sedangkan Ustad Yunus hanya geleng-geleng kepala, melihat Yumna marah-marah. Dia juga merasa tak habis pikir. Padahal niatnya disini adalah menolong, tapi justru dimaki-maki.
***
Sementara itu.
Di rumah sakit yang sama, seusai melakukan sesi foto keluarga, Joe pun mengantar Syifa untuk periksa pada dokter kandungan.
Dan bukan hanya Mami Yeri saja yang ingin ikut—tapi Robert, Papi Paul, Abi Hamdan dan Umi Maryam juga.
"Aa ... aku kok deg-degan, ya?" Syifa menatap Joe sambil menyentuh dadanya yang sejak tadi berdebar kencang. Entah mengapa, ada perasaan takut tersendiri.
Karena banyaknya orang yang akan periksa kandungan, jadi dia menunggu antrian. Semuanya duduk pada kursi yang tersedia.
"Deg-degan kenapa, Yang?" tanya Joe bingung.
"Deg-degan karena takut kalau hasilnya ternyata aku nggak hamil." Syifa pun menatap orang tua dan mertuanya, yang kini duduk di depan mereka sedang mengobrol.
"Ya nggak apa-apa, Yang." Tangan Joe terulur, lalu mengenggam tangan Syifa. "Kan kita bisa mencoba lagi. Tenang aja ... Aku masih punya gaya baru kok, Yang," tambahnya sambil terkekeh. Dia mencoba mencairkan suasana, sebab dilihat ekspresi Syifa sangat gelisah di sini.
"Tapi nanti ... mereka semua kecewa nggak, A? Kalau ternyata hasilnya nggak sesuai dengan apa yang diharapkan." Syifa menggerakkan dagunya ke depan, pada orang tua dan mertuanya.
"Kecewa kenapa? Ya nggaklah, Yang." Joe menggelengkan kepalanya. "Udah, kamu nggak usah mikir yang nggak-nggak." Joe mengusap pipi kanan Syifa dengan lembut. "Harusnya, ya, kamu itu berdo'a ... kalau hasilnya ternyata kamu hamil. Aku pernah denger dari Ustad Yunus ... kalau ucapan itu adalah do'a. Jadi kita harus berucap yang baik-baik, biar didengar sama Allah."
"Daddy benar, Mom." Robert yang duduk dipangkuan Syifa menyahut, lalu mengelus perut rata Mommynya. "Siapa tau ... sudah ada adik bayi di dalam sini. Robert setiap habis sholat selalu do'akan kok."
"Amin ... terima kasih, Sayang." Syifa mengulas senyum, kemudian mencium kepala botak Robert.
"Pasien atas nama Syifa Sonjaya." Seorang suster yang berdiri di depan pintu memanggil nomor urut selanjutnya, yang ternyata adalah giliran Syifa.
Perempuan itu langsung berdiri, begitu pun dengan Joe yang menggendong Robert. Kemudian mereka melangkah untuk masuk ke dalam sana.
"Eh ... Bapak-bapak dan Ibu-ibu mau ngapain?" Suster langsung menahan Papi Paul, Mami Yeri, Abi Hamdan dan Umi Maryam yang hendak ikut masuk.
__ADS_1
"Ya mau masuklah, Sus," jawab Abi Hamdan dengan santai. Dia kembali melanjutkan langkahnya, tapi pintu ruangan itu sudah buru-buru ditutup oleh suster.
"Sudah daftar belum istrinya?" Suster menatap ke arah Umi Maryam yang berada dirangkulan Abi Hamdan. "Sebaiknya daftar dulu dan tunggu giliran. Saya juga akan memanggilnya sesuai urutan, Pak."
"Lho ... tadi itu nama Syifa Sonjaya yang dipanggil. Itu anakku, Sus. Aku Abinya yang bernama Hamdan Sonjaya." Abi Hamdan menepuk dada dengan mengenalkan diri.
"Kami berempat ikut mengantar, Sus." Papi Paul menyahut sambil menunjuk diri sendiri dan mereka yang lain. "Izinkan kami masuk, kami ini orang tua dari Syifa dan suaminya."
"Iya, Sus." Mami Yeri ikut-ikutan. "Aku mau lihat menantuku sudah hamil atau belum."
"Mohon maaf, Bu, Pak. Tapi hanya suaminya saja yang boleh ikut menemani. Kalau keluarganya yang lain apalagi lebih dari satu orang ... sebaiknya menunggu diluar saja," jawab suster.
"Dih ... masa nggak boleh? Kenapa memangnya?" tanya Mami Yeri dengan raut kesal. Padahal dia memang ingin sekali melihat perut Syifa yang diUSG.
"Memang sudah begitu peraturannya, Bu."
"Tadi Robert ikut masuk." Umi Maryam membuka suara. "Dia kok boleh, tadi katanya cuma suaminya aja, Sus?"
"Robert itu yang digendong sama Ayahnya bukan, Bu?"
"Iya." Mereka berempat menjawab bersama dan sama-sama mengangguk.
"Tidak masalah kalau anak, Bu. Apalagi hanya satu orang."
"Ah nggak adil sih. Orang mau lihat doang. Pelit banget!" Papi Paul menggerutu, kemudian mundur beberapa langkah dan duduk kembali ke kursi bekas bokongnya.
Akhirnya dia mengalah, karena sedang malas saja untuk berdebat. Apalagi melihat banyak ibu hamil yang mengantre.
"Tau begini mah buat apa kita ikut, ya, Pi ... ternyata nggak boleh masuk." Mami Yeri juga menggerutu, lalu duduk kembali di samping suaminya.
"Kita doakan saja deh, Bu, Pak ... dari sini," kata Abi Hamdan menghampiri bersama istrinya. "Semoga saja hasilnya positif."
"Amin ...." Mereka berdua menyahut, begitu pun dengan Umi Maryam.
"Jujur sih, Pak Hamdan ... aku itu nggak sabar banget kepengen punya cucu lagi. Terus cewek," ucap Mami Yeri.
"Apalagi kami, Bu." Abi Hamdan duduk bersama Umi Maryam dengan saling menatap. "Kami juga tentu ingin punya cucu juga, biar nanti Robert ada temannya. Tapi aku sih kepengennya cowok sebenarnya."
"Cewek aja, Pak. Biar sepasang," usul Mami Yeri.
"Mending cewek cowok, Mi. Biar adil." Papi Paul menyahut.
"Kalau cewek cowok berarti dua dong, Pi?"
"Iya." Papi Paul mengangguk. "Ya semoga saja Syifa sekali hamil kembar, biar nanti kita nggak rebutan buat menggendongnya."
"Kalau biar nggak rebutan sih mending kembar empat aja sekalian, Pi. Kayaknya seru."
"Duh ... Bu, kalau kembar empat kayaknya agak ngeri." Umi Maryam menanggapi dan terlihat meringis.
Bukan apa-apa, hamil satu anak aja dia merasakan sakit yang luar biasa. Apalagi empat?
"Ngeri kenapa?" Mami Yeri menatap besannya dengan raut bingung. "Banyak kok, diluar sana yang hamil kembar lebih dari dua, Bu. Malah ada yang tujuh."
"Tapi menurutku lebih bagus sih satu-satu aja, Bu. Kayak misalkan sekarang cewek, nanti hamil lagi cowok, terus hamil lagi. Mending kayak gitu, daripada sekaligus."
__ADS_1
"Dih ... ya lebih bagus sekaligus, Bu. Mengandungnya cuma sekali. Si Joe juga nggak akan sering berpuasa nantinya."
...Ngapain mikirin Om Joe puasa 🤣 dulu juga sampai 7 tahun 🤭...