Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
222. Robert minta maaf


__ADS_3

"Nak ... apakah kamu ...." Syifa menatap sang anak dengan raut curiga. Namun, langkahnya yang hendak mendekat itu seketika berhenti saat dimana Abi Hamdan datang dan langsung menggendong Robert.


Pria tua itu pun berlari pergi dari sana.


"Lho, Opa! Robert mau dibawa ke mana ini?" tanya Robert yang tampak bingung.


"Kamu harus cebok dan ganti celana. Ampasmu meracuni semua orang, Nak," ucap Abi Hamdan yang berlari tergesa-gesa menuju toilet sekolah.


'Apa Opa tau, aku kapicirit dicelana?' batin Robert. Mendadak jantungnya pun berdebar kencang dan perasaan takut itu melanda di dalam dada. 'Duuhh ... gimana ini? Robert takut dimarahi. Terus lombanya bagaimana? Apa Robert nggak jadi menang?'


Sampainya disalah satu toilet, Abi Hamdan langsung menurunkan tubuh Robert di lantai.


"Cepat buka celana, Opa akan meminta Daddymu untuk—"


"Abi, Robert kenapa?" sela Joe yang baru saja datang bersama Papi Paul. Tapi keduanya itu langsung membulatkan mata dan menutup hidung masing-masing, ketika menghirup aroma tidak sedap ketika bocah itu melepaskan celana.


"Opa tinggal dulu, kamu cebok yang bersih dan jangan lupa pakai sabun." Abi Hamdan berbicara dengan Robert, lalu menutup pintu toilet.


"Apa si Robert kapicirit dicelana, Bi?" tanya Joe yang sempat melihat penampakan ampas anaknya tadi.


"Iya." Abi Hamdan mengangguk, lalu menuju wastafel untuk mencuci tangan.


"Kok bisa, lagi ikut lomba si Robert kapicirit?!" Papi Paul mengusap wajahnya, merasa tak habis pikir.


"Sekarang mending kamu ambilin Robert celana ganti, Joe. Kasihan dia, Abi juga khawatir Robert disalahkan oleh juri karena dirinya kapicirit." Abi Hamdan menatap ke arah sang menantu.


Joe mengangguk cepat. "Iya, Bi. Aku akan mengambil celana ganti," ucapnya kemudian berlari pergi dari sana.


Setelah membersihkan diri dan mengganti celana, kini Robert pun kembali ke lapangan bersama Joe dan kedua Opanya.


Namun sama sekali, Abi Hamdan tak mengatakan apa pun padanya. Atau sekedar bertanya tentang apa yang bocah itu alami.


Entah karena ingin menutupi pada yang lain, sehingga membuatnya seolah-olah tidak tahu. Padahal diawal, dia adalah orang pertama yang menebak jika bocah itu sudah kapicirit dicelana. Sebelum lomba memecahkan balon itu belum dimulai.


"Lho, ke mana jurinya?" tanya Papi Paul heran.

__ADS_1


Tibanya di lapangan, memang ketiga juri itu sudah tak ada di kursinya masing-masing. Beberapa peserta bahkan sudah meninggalkan lapangan, berikut dengan wali orang tuanya.


"Yang ... apa lombanya udah bubar?" tanya Joe kepada Syifa yang berdiri bersama Umi Maryam dan Mami Yeri.


Perempuan berhijab itu lantas menoleh, lalu menatap suami, anak, mertua dan Abinya. "Pak Bambang minta lombanya dijeda dulu, A. Karena tadi ada musibah."


"Terus peserta yang lainnya pada pulang?" tanya Joe penasaran.


"Yang pada pingsannya itu ke mana, Fa?" tanya Abi Hamdan.


"Yang pingsan dan mengalami muntah-muntah dibawa ke UKS sekolah, Bi, A. Dan yang lainnya pada istirahat, sambil menunggu lomba selanjutnya," jelas Syifa. "Oh ya, Pak Bambang juga minta Aa bawa Robert ke ruangan guru. Dia ada di sana, A."


"Kenapa Robert disuruh ke ruang guru, Mom? Apa Robert akan dimarahi?" Wajah Robert seketika pucat, dia tampak ketakutan. "Dan soal lombanya gimana? Robert menang lho, Mom. Robert yang lebih dulu selesai memecahkan balon."


"Kamu nggak akan dimarahi, Nak." Syifa mengelus puncak kepala anaknya dengan lembut. "Paling juga ditanyain doang. Dan mudah-mudahan saja kemenanganmu itu dinyatakan sah. Oh ya, apa Mommy boleh tanya sesuatu dulu padamu? Sebelum kamu ke ruang guru?"


"Tanya apa, Mom?"


"Itu kamu tadi 'kan kapicirit. Kamu sendiri awalnya sadar apa nggak, kalau kamu kapicirit, Nak? Dan pas lomba balap karung itu bukannya kamu ngeluh mules, ya? Terus udah berak apa belum tadi?" Syifa mencecar beberapa pertanyaan lantaran begitu penasaran dengan awal mula musibah itu terjadi.


"Robert!" sela Baim yang baru saja datang memanggil temannya. Bocah itu sekarang sudah memakai masker, untuk mengantisipasi aroma bau tidak sedap yang berasal dari temannya. Padahal Robert sendiri sekarang sudah tidak bau.


"Kenapa, Im?" tanya Robert menoleh.


"Kamu dipanggil Pak Bambang. Dia nunggu di ruang guru," jawab Baim kemudian berlari pergi dari sana.


"Ya sudah, aku ajak Robert dulu ke ruang guru, Yang." Joe meraih tubuh anaknya dari gendongan sang mertua.


"Abi ikut ya, Joe," pinta Abi Hamdan.


"Nggak usah, Bi." Joe menggeleng. "Pak Bambang 'kan memintanya cuma aku dan Robert."


"Ya sudah." Abi Hamdan mengangguk, lalu menangkup kedua pipi Robert. "Kamu nggak perlu takut, Nak. Percayalah ... kali ini kamu sudah jadi juara satu."


"Iya, Opa." Robert mengangguk dengan senyuman tipis yang merekah di bibirnya. Setelah itu, Joe melangkah pergi membawanya menuju ruang guru.

__ADS_1


*


*


Tok! Tok! Tok!


Ruang guru yang pintunya sudah terbuka Joe ketuk secara perlahan, dia berdiri di ambang pintu sembari menggandeng tangan Robert.


"Permisi Pak ...," ucapnya dengan sopan.


Di dalam ruangan itu ternyata bukan hanya ada Pak Bambang saja, tapi Pak Zaka juga. Keduanya duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Silahkan masuk Pak Joe, Robert." Pak Zaka berdiri, kemudian mempersilahkan mereka masuk. Tapi sebelum itu, dia mengendus dulu ke arah Robert. Memastikan jika bocah itu tak mengeluarkan aroma racun yang membuatnya pingsan. "Udah cebok 'kan kamu, Rob? Bersih, kan?"


"Udah, Pak." Robert mengangguk dengan wajah yang seketika merah. Antara takut dan malu, kini menjadi satu.


Dia pun melangkah masuk bersama Joe, kemudian duduk pada sofa panjang bersamanya.


Pak Zaka pun ikut bergabung juga, setelah dirinya menutup pintu.


"Aku selaku Daddynya Robert ingin meminta maaf terlebih dahulu, Pak. Kepada Bapak, Pak Zaka, Kepala sekolah TK, para peserta dan beberapa wali orang tua, kalau misalkan ... apa yang telah terjadi bersumber dari anakku." Joe mengutarakannya dengan perasaan bersalah dan harap-harap cemas, jika nanti anaknya gagal jadi juara. Perlahan dia pun merangkul bahu Robert, lalu mengusapnya. Tubuh bocah itu juga terasa gemetar sekarang. "Tapi aku sendiri nggak tau apa-apa awalnya. Nggak tau kalau anakku ternyata kapicirit dicelana, Pak," tambah Joe penuh sesal.


Pak Bambang menghela napasnya dengan berat, lalu menatap ke arah Robert yang sama sekali tak berani menatapnya. Kepalanya sejak tadi terus tertunduk. "Saya sangat menghargai sekali dengan sikap Pak Joe yang sudah minta maaf dulu, sebelum saya atau Pak Zaka mengatakan sesuatu. Tapi bolehkah saya bertanya kepada Robert secara langsung?"


"Silahkan, Pak," sahut Joe dengan anggukan kepala.


"Robert ... coba lihat Bapak. Bapak ingin bertanya sesuatu padamu," titahnya.


Meskipun terlihat berat, tapi akhirnya Robert mengangkat wajahnya, lalu menatap ke arah Pak Bambang. Wajah polosnya itu tampak berkeringat banyak sekarang.


"Robert minta maaf, Pak." Robert berucap dengan bibir bergetar.


"Kenapa minta maaf?"


"Karena Robert kapicirit dicelana dan membuat rusuh perlombaan," jawab Robert cepat dan terlihat menyesali. "Awalnya Robert pikir ... ampas Robert hanya keluar sedikit dan nggak akan menimbulkan masalah. Tapi ternyata dia keluar cukup banyak sehingga membuat teman-teman keracunan."

__ADS_1


...Setidaknya sudah mengakui kesalahan ya, Rob🤣🤣...


__ADS_2