Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
64. Jojon terlihat sangat sempurna


__ADS_3

"Benar itu, Pak." Pak Polisi menjawab pertanyaan dari Abi Hamdan.


"Boleh diputar saja rekamannya, Pak? Saya ingin tahu," pinta Abi Hamdan.


"Baik." Pak Polisi mengangguk, kemudian langsung memutar rekaman CCTV yang diberikan oleh Pak Haji Samsul, yang dijadikan bukti untuk melaporkan Robert dan Joe. "Silahkan perhatikan, Pak Ustad, Pak Joe."


Kedua pria berbeda generasi itu mengangguk dan langsung memerhatikannya. Robert pun diam-diam membuka matanya sedikit, ikut menonton rekaman itu.


"Lho, jadi Robert yang mengunci pintu Nak Fahmi, tapi kenapa justru Pak Haji Samsul dan Nak Fahmi sendiri menuduh Jojon?" gumam Abi Hamdan yang tak habis pikiran. Meskipun suaranya pelan, semua orang di sana mampu mendengarnya.


"Mangkanya, Pak, di sini saya ingin meminta keterangan dari Adek Robert dulu. Baru Pak Joe," kata Pak Polisi yang paham, jika Jojon yang disebutkan Abi Hamdan adalah pria di depannya.


"Apa ini artinya Nak Fahmi atau Pak Haji Samsul sengaja melaporkannya ke polisi?" tanya Abi Hamdan kembali dan Pak Polisi langsung mengangguk. 'Ya Allah ... apa alasan cucuku mengunci Nak Fahmi?' Dengan penuh tanya, Abi Hamdan menoleh ke arah Robert dan melihat bocah itu sudah membuka mata. "Nak! Tolong katakan!"


Ucapan Abi Hamdan yang agak keras ditambah dengan tiba-tiba menyentuh tangan kanannya sontak membuat bocah itu tersentak. Dan langsung menoleh ke arahnya dengan wajah yang terlihat pucat.


"Tolong katakan, apa alasanmu mengunci Om Fahmi? Kenapa kamu melakukannya, Nak?"


Robert menelan salivanya dengan kelat, tatapan dari pria di depannya itu terlihat lekat namun sangat teduh. Rasanya dia tak bisa, kalau terus terdiam seperti ini.


"Apa kalau Robert jujur ... Opa, Daddy, Om Polisi atau bahkan Mommy dan Oma akan marah, sama Robert?" tanyanya dengan ragu dan begitu pelan. Manik matanya menatap sekitar hingga jatuh kepada Joe.


"Daddy nggak akan marah, Sayang," jawab Joe sambil tersenyum. Dia tahu sekali, anaknya itu tidak mungkin melakukan hal tanpa sebab. "Meskipun memang tindakan kamu tidak dibenarkan ... tapi jujur jauh lebih baik, daripada berbohong. Dan Allah nggak suka, sama orang yang bohong. Apa kamu nggak mau masuk surga?" tambahnya yang membujuk, suaranya begitu lembut sekali.


"Tentu mau, Dad." Robert mengangguk cepat. "Robert kepengen masuk surga bareng Daddy, Mommy, Opa Hamdan dan Oma Maryam. Eh tapi ... Mommy Sonya, Opa Paul sama Oma Yeri juga. Kita sama-sama masuk ke surga bareng-bareng."

__ADS_1


"Mommy Sonya, Opa Paul dan Oma Yeri nggak akan ketemu kita di surga nanti, Nak," kata Joe menjelaskan.


"Lho kenapa? Apa karena mereka akan masuk neraka? Mereka bertiga 'kan orang baik. Dan Robert sayang mereka, Dad." Bola mata Robert tampak berkaca-kaca.


"Bukan masuk neraka. Tapi masuk surganya berbeda dengan kita. Kan Tuhan kita sama mereka saja beda sekarang, Sayang." Joe tidak mengatakan dengan asal, tapi dia pernah membaca sebuah buku yang memang menerangkan hal itu.


"Oh ... benar juga, ya, Dad." Robert mengangguk-anggukkan kepalanya, terlihat paham namun masih tampak sedih karena nyatanya sampai mati pun dia tidak bisa bertemu dengan Sonya. Orang yang telah melahirkannya. "Berarti ... sampai kapan pun Robert nggak bisa ketemu Mommy Sonya dong? Kok seperti ada yang naruh bawang di sini? Kenapa mata Robert jadi perih dan sedih begini, hiks!" Tiba-tiba saja dia menangis, mengeluarkan cairan bening yang mengalir di pipinya.


"Bisa, Nak!" Abi Hamdan ikut menyahut dan langsung menyeka air mata cucunya. Sebenarnya pembahasan ini sudah bukan pada inti keterangan. Hanya saja demi menenangkan hati Robert dan membuatnya berkata jujur—mungkin akan lebih baik untuk menasehatinya terlebih dahulu.


"Kata Daddy surganya beda, Opa. Berarti nggak bisa ketemu dong?" Robert menoleh ke arah Abi Hamdan dengan sendu, meminta penjelasan.


"Insya Allah, atas kuasa Allah kamu akan bisa bertemu dengannya. Kamu harus yakin itu." Dia menggenggam erat tangan kecil cucunya, lalu tersenyum. "Bisa saja nanti, pas kamu mau masuk ke surga ... sebelumnya kamu bisa bertemu Mommy Sonya di depan pintunya."


"Nah ... mangkanya kalau kamu mau masuk surga, sekarang jujurlah. Beritahukan semuanya kepada Om Polisi," pinta Abi Hamdan sambil menggerakkan dagunya ke arah depan, lalu tersenyum. "Kamu 'kan cucu kesayangan Opa. Dan Opa paling nggak suka sama anak yang nakal dan tukang bohong."


"Robert nggak nakal dan tukang bohong, Opa!" bantah Robert dengan tegas dan menepuk dadanya, kemudian menatap pada kedua polisi di depannya silih berganti. "Sebelum Robert jujur ... Robert ingin meminta maaf dulu, mungkin apa yang Robert lakukan adalah salah. Tapi Robert sama Atta awalnya hanya ingin memberikan pelajaran kok sama Om songgong itu, dan nggak ada maksud untuk membuatnya celaka. Robert berani bersumpah," jelasnya yang terlihat begitu sungguh-sungguh. Jari tangan kananya yang membentuk huruf V dia angkat tinggi-tinggi.


"Apa kita perlu memanggil bocah yang bernama Atta, untuk diminta keterangan juga, Pak?" tanya Pak Polisi yang berbisik di telinga kanan temannya.


"Besok saja, Pak. Ini sudah malam. Untuk sekarang Robert sama Pak Joe dulu," jawab temannya yang berbicara pelan, kemudian tersenyum kepada Robert. "Pelajaran apa yang kamu maksud, Dek? Dan kenapa kamu memanggil Om Fahmi dengan sebutan Om songgong?"


"Ya karena dia songgong lah, Om."


"Songgong gimana maksudnya?" tanya Pak Polisi bingung.

__ADS_1


"Om Fahmi itu dulunya calon suami Mommy Syifa, tapi nggak jadi ... karena Mommy lebih memilih Daddy Robert yang kece ini untuk menjadi suaminya," jelas Robert sambil mencubit gemas kedua pipi Joe. Pria itu terlihat diam saja, sebab memang ingin mendengar seluruh keterangan dari anaknya.


"Terus, hubungannya sama songgong itu apa, Dek?" Pak Polisi masih bingung dengan arah pembicaraan Robert. Memang jika ingin berbicara dengan anak kecil, kita dibutuhkan ektra kesabaran.


"Ucapannya terlalu sombong," jawab Robert. "Harusnya, dia itu lebih berlapang dada saat Mommy Syifa nggak mau menikah dengannya. Tapi ... dia malah ngeselin. Setiap kali bertemu Robert atau Daddy ... ngomongnya selalu kasar dan seolah-olah hanya dialah orang yang paling kaya dan berilmu di dunia ini. Padahal, bukankah semua manusia itu akan terlihat sama di mata Tuhan-Nya 'kan, Om? Dan kata Daddy ... harta dan ilmu yang kita miliki di dunia ini hanya titipan. Jadi buat apa kita sombong? harusnya kita justru berbagi. Biar harta dan ilmu yang kita miliki bermanfaat."


Berbeda dengan tadi yang terlihat seperti tak ada nyali, sekarang Robert justru sangat lancar berbicara dan terdengar begitu lantang. Dan tanpa disadari, semenjak mereka semua masuk ke dalam ruangan itu—salah satu polisi sudah merekam semua percakapan mereka.


"Masya Allah ... pintarnya cucu Opa." Abi Hamdan tampak takjub mendengar penuturan dari Robert. Sangking bangganya dia pun langsung menggeserkan posisi kursi yang diduduki untuk lebih dekat, lantas dengan cepat memeluk erat tubuh sang cucu. "Serius, kamu bilang tadi kata Daddymu? Dan kapan Daddymu mengatakan hal itu, Nak?"


"Iya, Opa." Robert mengangguk. "Daddy sering mengatakan hal itu sejak dulu."


Yang dikatakan Robert adalah sebuah kejujuran, dan tak ada niat sama sekali ingin membagus-baguskan Joe di depan Opanya.


Abi Hamdan perlahan merelai pelukannya kepada Robert, kemudian berganti untuk memeluk tubuh Joe. Ada sedikit rasa bangga di dalam lubuk hatinya. "Terima kasih, Jon, karena sudah menjadi Daddy yang baik untuk anakmu. Meskipun selama ini kamu menjadi orang tua tunggal."


"Untuk apa berterima kasih, Bi?" tanya Joe yang langsung terkekeh. Menurutnya, ucapan Abi Hamdan terdengar berlebihan. "Bukankah itu memang tugas kita sebagai orang tua? Membimbing serta mendidik anaknya dengan baik?"


"Iya. Kamu benar." Hati Abi Hamdan langsung terenyuh dan tersentuh dengan jawaban yang terdengar indah dari mulut menantunya. Jujur, tak pernah terbesit dalam otaknya jika Jojon pria yang seperti apa yang dia lihat sekarang.


Dan sekarang, Abi Hamdan pun sadar—jika dia tidak salah memilih menantu. Buang jauh-jauh tentang Fahmi dengan segala kelebihan yang dimiliki. Sebab baginya sekarang, Joe adalah menantu yang memang benar kiriman dari Allah. Yang tentunya yang terbaik untuk putrinya.


'Aku nggak menyangka ... ternyata bukan hanya umurnya saja yang dewasa. Tapi pikirannya juga. Sepertinya aku memang nggak salah memilih menantu, Jojon malah sekarang terlihat sangat sempurna menurutku. Meskipun dia sangat mesum,' batinnya sambil merelai pelukan. Abi Hamdan juga menyeka sudut matanya yang berair.


...Cie ... Abi, baru kebuka nih mata hatinya 🤭...

__ADS_1


__ADS_2