Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
249. Habis sudah riwayatku


__ADS_3

Keringat sebesar biji jagung pada dahinya pun perlahan mulai bercucuran, membasahi wajahnya kala jari telunjuk Pak Polisi itu sudah mengklik layar ponselnya. Dan tak lama kemudian video berdurasi 3 menit itu pun diputar.


"Ah! Ah! ... Sayang!"


Sandi sontak terbelalak, mendengar suara desaahan yang keluar dari video tersebut. Dan dia hafal betul, suara itu milik siapa.


"Kecilin volumenya, Pak. Nggak enak didengar," titah Pak Polisi pada rekannya.


Bukan tidak enak didengar sebenarnya, lebih tepatnya tidak bagus untuk didengar sebab bisa jadi akan mengundang syahwat.


"Iya, Pak." Rekannya itu mengangguk, kemudian mengecilkan volume. Tapi masih bisa terdengar samar-samar.


Sandi yang masih ada disana sungguh merasa penasaran, ingin melihat video itu. Tapi ada rasa takut tersendiri, sebab walau bagaimanapun yang ada di sana adalah bosnya.


'Tapi kalau aku nggak ikut lihat, bagaimana bisa nanti aku kasih tau ke Pak Joenya? Ah lihat saja sebentar deh. Anggap saja tontonan gratis dan nggak disengaja.'


Meskipun ada pergolakan batin, nyatanya Sandi tetap ingin ikut menontonnya.


Namun, saat menatap pada layar ponsel itu, justru dia langsung mengerutkan kening lantaran gambar yang terlihat tidak ketara jelas faktor minimnya pencahayaan.


Samar-samar ada dua insan antara perempuan dan laki-laki yang tengah berse*nggama. Entah dengan gaya apa, Sandi pun tidak paham karena dia memang sangat polos.


Tapi aneh sekali pikirnya, malah terlihat seperti kuda lumping yang sedang kesurupan. Dan poin pentingnya wajah keduanya tidak terlihat sama sekali, karena saling menunduk.


'Mereka bercinta apa sedang antraksi, sih? Dan memangnya ada, ya ... orang bercinta kayak begitu? Bukannya dimana-mana itu wanitanya ada di bawah sedangkan laki-lakinya di atas?' batin Sandi bertanya.


Polos sekali memang si Sandi ini, padahal yang Joe dan Syifa lakukan adalah bercinta dengan gaya ubur-ubur.


"Sayang banget ya, Pak, pemainnya nggak kelihatan jelas," ucap Pak Polisi yang terlihat kecewa.

__ADS_1


"Kalau jelas mau Bapak koleksi, ya, videonya?" goda rekannya.


Kedua pipi Pak Polisi seketika memerah, tapi dia langsung menggelengkan kepalanya. "Bapak ini bicara apa? Nggak mungkinlah saya mengoleksi video begituan." Dia mengatakan hal itu sebab ada Sandi, malu rasanya jika orang lain tahu dia suka mengoleksi video panas.


"Iya, iya, saya percaya." Rekannya itu mengangguk, tapi sambil bergelak tawa.


"Maksud saya sayang nggak kelihatan wajahnya itu karena kita nggak bisa menyelidikinya, siapa pemainnya, Pak. Dan bisa jadi yang merekam itu adalah orang mengintip." Pak Polisi memberikan penjelasan.


"Iya, Pak!" Sandi tiba-tiba ikut menyahut dan terlihat begitu bersemangat. "Yang merekam adalah orang yang mengintip. Mereka dua orang laki-laki dan satunya bergigi tonggos tapi pakai behel!"


"Kok Bapak tau?" Kedua polisi itu berucap berbarengan, dan kini menatap ke arah Sandi dengan raut curiga.


Wajah pria itu seketika tegang, lalu tersenyum aneh.


"Oh itu ... kebetulan saya semalam lewat dan nggak sengaja lihat ada sebuah tenda di lapangan, Pak." Sandi langsung memutar otak, untuk memberikan alasan. Jangan sampai dia ketahuan jika pemain video itu adalah bosnya. "Dan diluar tenda ada dua laki-laki seperti sedang mengintip. Satunya lagi pegang hape," tambah Sandi.


"Di lapangan mana ya, Pak?"


"Enggak!" tegas Sandi dengan gelengan kepala. "Saya nggak ngintip sama sekali, sumpah demi Allah. Dan saya juga lupa, itu di lapangan mana."


"Perlu diselidiki nggak, sih?" Pak Polisi menatap ke arah rekannya, dan pria seragam itu kini saling menatap.


"Kita selidiki dulu siapa yang merekamnya, Pak. Kalau sudah ketemu, baru pemainnya. Dan syukur-syukur ada yang melaporkan, jadi akan mudah kita menemukannya."


"Tapi kalau sudah viral begini mending kita langsung bertindak. Kita lacak saja siapa yang upload video itu pertama kali. Apalagi dicaption tertulis jika itu ada video fullnya, tapi disitus haram."


"Iya, kita langsung menyelidikinya saja." Pak Polisi mengangguk, setuju dengan apa yang rekannya katakan. Dia pun lantas menatap ke arah Sandi. "Bapak boleh pulang sekarang, Pak. Nanti saya akan infokan Bapak lagi kalau sudah berhasil menemukan pemilik motor yang memiliki plat nomor palsu."


"Baik, Pak." Sandi mengangguk, lalu berdiri. "Maaf, Pak. Kalau bisa ... tentang video viral pasangan mesum tadi, Bapak juga harus meminta yang menyebarkannya untuk mentakedown. Karena bagaimanapun media sosial itu banyak sekali penggunanya, bahkan anak dibawah umur juga sudah punya akun media sosial. Saya khawatir ... itu akan berdampak menjadi hal buruk. Apalagi suara pemainnya cukup mengundang syahwat."

__ADS_1


"Iya, Pak. Terima kasih atas masukannya." Pak Polisi mengangguk, kemudian mengulas senyum menatap Sandi.


"Saya permisi, selamat sore."


"Sore ...."


Sandi buru-buru keluar dari kantor polisi itu, sambil mengulas keringat di dahinya. Dan saat baru saja masuk ke dalam mobil, ponselnya berdering. Joe lah yang menghubunginya via telepon.


"Halo, Pak, assalamualaikum." Benda pipih itu sudah menempel pada telinga kanan Sandi.


"Walaikum salam. Bagaimana, San? Apa sudah dapat pelakunya?"


"Belum, Pak. Ternyata plat nomor motor itu palsu, nggak terdaftar."


"Duuuhh ... kok bisa palsu? Dan berapa lama kira-kira dua cecunguk berhasil ketemu? Aku takut video itu keburu diviralin, San. Habis sudah riwayatku. Pasti Syifa tambah ngamuk." Suara Joe terdengar resah, napasnya tak beraturan.


"Yang sabar ya, Pak. Tapi sepertinya kita sudah terlambat. Karena video itu sudah viral di feceb*ok."


"A ... PA?!" Suara Joe terdengar melengking dan nyaring, sampai-sampai telinga Sandi ikut berdengung. Namun beberapa detik selanjutnya, terdengar suara isak tangis yang begitu merintih.


"Pak ... apa Bapak baik-baik saja?" tanya Sandi yang tampak khawatir.


"Bagaimana aku bisa baik-baik saja, San? Sedangkan se-Indonesia tau kalau aku dan Syifa bercinta di dalam tendaaaa ...." Joe semakin terisak. "Aku sih nggak terlalu mikirin kalau aku yang dibully, karena aku udah sering dibully dan selama ini sudah banyak orang yang melihat bok*ngku. Tapi bagaimana dengan nasib Syifa, San? Dia seorang guru, anaknya Ustad dan berhijab jugaaa ...."


Joe menjeda ucapannya sebentar untuk menangis, dan kali ini sampai sudah sesenggukan. "Ya Allah, San ... bisa-bisa habis ini aku dipecat jadi menantu sama Abi Hamdan. Ditambah Syifa juga marah dari kemarin, dan kayaknya cintanya kepadaku udah mulai luntur."


Yang Joe sedihkan disini bukan nasibnya yang akan dibully se-Indonesia, tapi nasib rumah tangganya.


"Jadi duda lagi aku dong, San. Duuuhhh ... pegel tongkat bisbolkuuu ... bisa gila aku lama-lama. Sekarang aja kepengen goyang aku sebenarnya ... tapi lawannya ngambek. Gimana ini, San, hiks ... hiks ...!"

__ADS_1


...Yang sabar ya, Om Joe 🤧🤧...


__ADS_2