
'Ah kacau! Kenapa aku jadi merinding begini?!' Syifa cepat-cepat mengusap kasar wajahnya, menetralkan isi pikiran yang mendadak jorok. Lalu membalikkan badannya kembali ke arah Robert.
'Aa juga kenapa sih dia musti nggak pakai daleman? Apa dia sengaja mau pamer kepadaku, ya? Kalau tongkatnya sudah bagus. Ah menyebalkan!' Syifa menggerutu sendiri dalam hati, kemudian mulai memaksakan matanya untuk terpejam. Bahkan saat merem pun, milik Joe tiba-tiba terbayang di dalam otak.
'Duh, kok begini benget. Nggak tenang aku lama-lama. Mana tenggorokan jadi ikut kering.'
Syifa baru saja hendak menarik tubuhnya untuk bangun, berniat ingin ke dapur mengambil air minum.
Namun, baju gamis yang dia kenakan itu justru tertindih oleh punggung Joe. Alhasil membuat tubuhnya sontak tertarik dan tanpa sengaja memeluk tubuh Joe.
Wajah Syifa sontak memerah saat begitu nempel pada dada pria itu, dan tangannya yang juga ikut menempel di sana perlahan mulai meraba. Terasa begitu bidang dan terhirup aroma wangi maskulin yang sangat nikmat.
Aroma itu entah berasal dari minyak wangi, sabun yang dipakai kaosnya atau sabun mandi di tubuhnya. Tapi sungguh, membuat Syifa nyaman dan berdebar-debar.
'Kok bisa, dia wangi banget begini? Pakai apa kira-kira? Enak banget baunya, aku suka,' batin Syifa. Tanpa sadar dia mulai memejamkan matanya, lalu menghirup lagi aroma itu dan kali ini lebih dalam.
**
Keesokan harinya.
Syifa mengerjap-ngerjapkan matanya saat mendengar suara kumandang adzan. Kemudian menghirup aroma maskulin yang begitu nempel pada hidungnya.
Ternyata, dia tidur semalaman tidak berpindah tempat. Masih terus memeluk Joe karena mungkin sangking nyamannya. Dan wajahnya begitu menempel pada dadanya.
"Astaghfirullah!" Cepat-cepat dia menjauh dari sana, kemudian menarik tubuhnya untuk duduk.
"Udah bangun juga akhirnya kamu, Yang, nyenyak juga tidurmu, ya?" kekeh Joe. Dia ternyata sudah bangun sejak tadi, hanya saja tak berani beranjak dari kasur lantaran merasakan Syifa yang begitu nyaman memeluknya. "Pasti gara-gara meluk aku, ya? Nyaman ya, Sayang?" tambahnya menggoda sambil mengedipkan matanya dengan genit.
"Apaan sih, Pak, eh Aa? Aku mau sholat Subuh!" Syifa langsung memalingkan wajahnya, akan tetapi kedua pipinya itu tampak merona. Sepertinya dia malu.
"Ngeles aja kamu, bilang saja emang nyaman," goda Joe yang tampak senang. Dia kembali terkekeh.
Perlahan Syifa pun turun dari kasur, tapi sontak—dia terkejut melihat Robert tengah berbaring tengkurap di lantai tanpa baju. Di dekat kaki ranjang.
"Robert!" serunya yang tiba-tiba panik sendiri. Segera, Syifa berjongkok lalu meraih tubuh bocah itu untuk digendong. Dan disaat itu pula, dia terbangun dari tidurnya. Matanya terbuka dan mengerjap beberapa kali.
"Selamat pagi, Mommy yang cantik," sapanya dengan suara serak. Bibirnya yang sudah monyong itu langsung mendekat ke arah pipi kanan Syifa, lalu menciumnya.
Cup~
"Kamu ternyata tidur tadi, Rob? Ibu kira pingsan." Syifa menghela napas lega. Hampir saja dia jantungan, mengingat waktu itu Robert juga sakit kanker.
"Iya, Mom. Robert tidur di lantai." Robert mengangguk sambil mengucek kedua matanya, sebab terasa buram saat dia melihat.
"Ngapain kamu tidur di lantai, Rob? Bukannya kasurnya luas, ya?" tanya Joe. Dia berdiri dan mendekat ke arah mereka, lalu merengkuh pinggang Syifa dari belakang. Mencoba memanfaatkan situasi, supaya bisa lebih dekat dengan sang istri.
__ADS_1
"Besok-besok jangan tidur di lantai, nanti masuk angin. Udah mah nggak pakai baju," tegur Syifa.
Dia menarik tangan Joe yang melingkar pada perutnya, kemudian mendudukkan Robert di atas kasur.
Setelah itu, sebelum Syifa memakaikan Robert kaos, dia lebih dulu membaluri minyak angin pada perut serta kedua lengannya. Sebab terasa dingin sekali suhu tubuh bocah itu, Syifa khawatir kalau sampai dia sakit.
"Robert semalam gerah banget, Mom, nggak bisa tidur. Mangkanya tidur di lantai," sahut Robert.
"Lho, memangnya kipas angin di kamar Ibu nggak cukup dingin buatmu?" Syifa menunjuk kipas angin baling-baling yang memutar di atas plafon. Di rumah Abi Hamdan memang tak ada AC.
"Menurut Robert sih kurang dingin. Beda kayak AC." Robert mendongakkan kepalanya, menatap kipas angin.
"Nanti Daddy telepon tukang AC habis sarapan, Daddy akan pasang AC di sini," ucap Joe.
"Hore!!" seru Robert dengan senang sambil menggerakkan tangannya naik turun.
Syifa menatap ke arah Joe dengan wajah bersalah. "Maaf ya, A, jadi banyak yang harus dibeli pas Aa dan Robert tinggal di sini."
"Nggak masalah, Sayang." Joe mengangguk kecil, tangannya pun perlahan terulur untuk mengelus puncak kerudung Syifa. "Oh ya, di mana handuk dan pakaianku, Yang? Semalam bukannya ada di koper, tapi kok kopernya udah kosong?" Joe menunjuk koper yang berada di sofa.
"Semuanya aku pindahan ke lemariku, A." Syifa melangkah maju pada lemari kayunya, kemudian membuka dua pintu sekaligus dan memperlihatkan beberapa pakaian di dalam sana. "Di sini, ada pakaian Aa dan Robert. Aku menatanya dan dijadikan satu. Nanti kalau kalian mau ganti baju atau perlu sesuatu ... minta saja kepadaku. Nanti aku ambilkan."
Syifa langsung mencarikan handuk untuk Joe, kemudian baju Koko beserta sarung dan cellana dalamnya. Pria itu pasti ingin mandi dan ke masjid untuk melaksanakan sholat.
"Ih, Mommy so sweet banget! Robert jadi makin sayang deh!" Robert menangkup kedua pipinya yang tampak merona. Tentunya dia sangat senang, melihat hubungan di antara Joe dan Syifa begitu hangat.
"Terima kasih, Sayang." Joe mendekat, lalu mencium kening Syifa dengan lembut. Dan setelah, itu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Gadis itu terlihat terpaku sambil menyentuh dahinya, jantungnya juga seketika berdebar kencang. Ada sesuatu yang aneh dia rasakan di dalam dada, dan seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di sana.
'Apa-apaan Aa! Kenapa dia mencium keningku segala?! Dasar mesum!' Syifa menggerutu di dalam hati. Tapi sejujurnya ada perasaan senang entah mengapa.
*
*
Abi Hamdan dan Robert melangkah bersama keluar dari masjid, kemudian menuju rumah. Keduanya habis sholat Subuh.
Sebenarnya tadi sama Joe juga, tapi pria itu sudah duluan pulang ke rumah. Sedangkan Abi Hamdan mengajari Robert terlebih dahulu tata cara sholat yang masih banyak gerakan yang salah. Supaya makin sempurna.
Tit!
Tiba-tiba terdengar suara bunyi klakson mobil dan seketika membuat langkah kaki keduanya berhenti, lalu berbalik badan.
"Assalamualaikum, selamat pagi Ustad Hamdan, Dek Robert," ucap Sandi yang baru saja turun dari mobilnya. Dia berjalan sambil tersenyum dan menenteng paper bag di tangannya.
__ADS_1
"Walaikum salam," jawab Abi Hamdan dan Robert menjawab secara bersamaan.
"Kamu mau apa ke sini, San?" tanya Abi Hamdan yang tampak heran.
"Saya ingin mengirim pesanan Dek Robert, Pak." Sandi mengulurkan tangannya, memberikan apa yang dia bawa kepada Robert.
Bocah itu membuka kantongnya sedikit, lalu tersenyum. "Terima kasih ya, Om," ucapnya.
"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit, Dek ... Tad." Sandi membungkuk sopan menatap Robert dan Abi Hamdan bergantian. "Assalamualaikum." Setelah mengucapkan salam, dia pun melangkah menuju mobilnya lagi. Masuk dan pergi dari sana.
"Walaikum salam," jawab Abi Hamdan.
"Ini buat Opa. Pakai setiap hari biar tongkat Opa putih." Robert memberikan apa yang Sandi bawa barusan, ke tangan Abi Hamdan.
"Lho, kata Sandi ini pesanan kamu, Rob, kok buat Opa?" tanya Abi Hamdan bingung. Dia pun meraih tubuh sang cucu untuk dia gendong, kemudian membawanya untuk duduk diteras depan rumah.
"Kan Opa kemarin nanya sabun yang dipakai Daddy, terus Robert udah ngomong sama Daddy dan kata dia ... suruh minta Om Sandi saja membawakannya," jelas Robert.
"Oh ... terima kasih banyak. Berapa harganya ini?" Abi Hamdan merogoh ke dalam untuk mengambil. Ternyata ada sebuah kotak yang cukup besar. Dan setelah dibuka—ternyata isinya bukan hanya sebotol tube sabun cair saja, tapi juga ada body scrub.
Namun, Abi Hamdan sendiri tak tahu apa itu. Sebab pertama kali rasanya dia melihat prodak semacam itu.
"Robert lupa," sahut Robert. "Tapi Opa nggak perlu beli. Kan itu punya Daddy, Daddy 'kan menantu Opa."
"Iya, tapi ini apa, Rob? Sabun juga?" Abi Hamdan mengambil body scrub, tempatnya seperti sebuah toples tapi gepeng.
"Itu body scrub, Opa." Robert mengambilnya, kemudian membaca aturan pemakaian.
"Apa itu bodi srub? Buat apa?"
"Body scrub, Opa." Robert membenarkan ucapan Abi Hamdan. "Ini mirip seperti lulur. Berguna untuk mengangkat sel kulit mati dan membersihkan kotoran. Katanya 'kan ... tongkat Opa hitam. Jadi pakai ini siapa tau nanti bisa putih."
Sabun mandi dan body scrub itu memang satu paket, jadi wajar jika kedua benda itu ada di dalam satu kotak.
"Oh gitu. Bagus juga idemu, Rob." Abi Hamdan langsung tersenyum, dia tampak senang dan bangga sekali kepada cucunya yang pintar.
"Ini bukan ide Robert, tapi memang kegunaannya, Opa. Dan ini satu paket whiteningnya."
"Witening itu apa?" tanya Abi Hamdan bingung.
"Biar kulitnya putih," jawab Robert. "Siapa tau ... tongkat Opa hitam karena berdaki. Nanti dakinya bisa rontok karena ini, Opa." Dia menunjuk toples body scrub.
"Iya juga, ya, Rob. Barangkali memang ada dakinya." Abi Hamdan baru terpikirkan ke arah sana.
...Bukan cuma ada, tapi emang banyak dakinya, Bi, eh 🤭🤣...
__ADS_1