
"Nak Fahmi dibawa ke rumah sakit mana memangnya, Pak Haji?" tanya Abi Hamdan.
"Sejahtera."
"Aku akan ke sana, untuk menjenguk Nak Fahmi. Nanti aku juga akan bertanya kepada Jojon mengenai hal ini. Aku harap—"
"Ustad mending ke sininya sama si Jojon saja. Biar enak," sela Pak Haji Samsul cepat, memberikan usul.
"Kebetulan aku sedang berada di perjalanan, Pak. Jadi biar aku saja, dan—"
"Ya sekalian Ustad telepon Jojonnya. Bilang untuk datang ke sini." Pak Haji Samsul lagi-lagi menyela ucapan Abi Hamdan. Terdengar tidak sopan sebenarnya, tapi berhubung umur pria itu lebih tua sedikit dari Abi Hamdan—jadi Abi Hamdan sendiri mencoba memaklumi, meski sebenarnya ada sedikit rasa kesal di dalam dada.
"Ya sudah, Pak Haji. Aku akan telepon Jojon sekarang," ucap Abi Hamdan menurut.
"Iya," jawab Pak Haji Samsul. Suaranya sekarang lebih lembut dari tadi. "Jangan lupa juga nanti bawa buah tangan ya, Tad. Si Fahmi suka sekali sama anggur hitam. Aku sarankan nanti belinya di supermarket saja, supaya lebih higienis."
"Insya Allah ya, Pak Haji," sahutnya kemudian menutup telepon.
Padahal, Abi Hamdan sendiri belum pernah ke supermarket. Setiap membeli bahan makanan dan buah-buahan ya paling di pasar, mungkin mentoknya di mini market.
Selain harganya lebih terjangkau, di pasar juga bisa ditawar.
"Apa kata Pak Haji, Bi?" tanya Umi Maryam penasaran. "Umi tadi nggak dengar ... kok bawa-bawa Jojon segala?" Dia menatap suaminya, saat ini pria itu kembali melakukan panggilan. Mencoba menelepon Joe.
"Pak Haji bilang, Jojon mengunci Nak Fahmi di toilet, Mi. Terus dia minta tanggung jawab."
"Lho, ngapain si Joe ngunci Fahmi segala? Kayak nggak ada kerjaan aja," ucap Umi Maryam yang tampak heran. Tapi seratus persen dia tidak percaya. "Nggak mungkin ah, kayaknya."
"Abi juga belum percaya. Masa, sih, si Jojon seiseng itu ... mentang-mentang hanya nggak suka sama Nak Fahmi."
"Nggak mungkin, Bi. Umi yakin ... pasti ini hanya salah paham."
"Abi harap begitu. Tapi nomor Jojon kok malah nggak aktif, ya?" Abi Hamdan menarik ponselnya yang sejak tadi menempel pada telinga kanan, sebab hanya suara operator yang terdengar dengan mengatakan nomor itu tidak aktif.
"Mungkin hapenya lowbet, Bi. Coba telepon Syifa."
"Iya." Abi Hamdan mengangguk, kemudian mencoba menghubungi putrinya. Nomornya aktif, tapi tidak diangkat-angkat. Hampir tiga kali sudah—Abi Hamdan melakukan panggilan.
__ADS_1
"Kenapa, Bi? Nggak aktif juga, nomornya?" tebak Umi Maryam.
"Aktif. Cuma nggak diangkat-angkat, Mi," jawab Abi Hamdan dengan sedikit kesal. Lalu mengetik-ngetik benda pipih itu, menuliskan apa yang dia ingin katakan.
[Syifa, tolong tanya pada si Jojon ... apa benar dia mengunci Nak Fahmi di toilet atau nggak. Tapi Abi minta, dia untuk jujur ... kalau memang dia masih ingin menjadi menantu Abi.] Mungkin dengan sedikit ancaman, Abi harap Joe tak akan membohonginya.
"Mungkin si Syifanya lagi nggak pegang hape, Bi. Atau mungkin lagi nanggung," tebak Umi Maryam.
Abi Hamdan berdecak, kemudian menaruh kembali ponselnya ke dalam kantong kolor dibalik sarungnya. "Nanggung gimana, maksud Umi?"
"Ya nanggung lagi mandi, atau lagi makan. Atau bisa yang lain."
"Kerjaan si Jojon ini mah, nggak bakal jauh-jauh. Si Robert juga sampai nggak bisa menemui Syifa, kasihan."
"Ya barang kali mereka juga ingin menghabiskan waktu berdua, Bi. Namanya juga pengantin baru." Umi Maryam terlihat lebih pengertian, dibanding suaminya yang terlihat kesal lantaran panggilannya tak mendapatkan jawaban.
"Pengantin baru apanya, sih? Orang udah sebulan," gerutu Abi Hamdan. "Emang dasar gatel aja si Jojon, nggak mikirin perasaan anaknya. Kan yang lebih membutuhkan kasih sayang si Robert, bukan dia."
"Si Joe juga butuh kali, Bi, kan dia sudah lama menduda."
"Tapi 'kan yang awalnya kepengen Syifa menikah dengannya itu Robert, bukan dianya sendiri."
***
Di sebuah restoran bintang lima, Mami Yeri, Papi Paul dan Robert duduk di salah satu meja. Mereka tengah makan siang bersama dengan menu utama pada restoran yang baru buka itu.
5 menu andalan itu terasa enak, sebab terlihat jelas dari cara makan Papi Paul yang begitu lahap. Begitu pun dengan Mami Yeri.
Namun sayangnya, itu tidak berlaku pada Robert. Bocah itu hanya menatap piring di depannya, sebuah spaghetti bolognese. Terlihat sangat menggiurkan sebenarnya, tapi untuk memakannya, rasanya dia enggan.
"Sayang ... kok nggak makan kamu? Apa mau Oma suapi?" tanya Mami Yeri dengan lembut. Kemudian meraih sumpit dipiring Robert dan mendekatkannya ke bibir sang cucu. Tetapi bocah laki-laki itu langsung menggelengkan kepalanya. "Kenapa nggak mau? Ini enak sekali, Sayang."
"Robert pengen makannya disuapi Mommy, Oma," jawab Robert dengan mata berkaca-kaca.
"Nanti malam saja, ya? Pas makan malam. Baru nanti kamu disuapi Mommy. Sekarang ... kamu disuapi Oma dulu, oke?" rayu Mami Yeri sambil tersenyum. Kembali dia mencoba menyuapi Robert, tapi kembali juga bocah itu Menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, sih, musti menunggu nanti malam?" Robert tampak kesal, wajahnya pun ikut memerah. "Dan kenapa juga Daddy dan Mommy ingin berduaan di kamar? Memangnya ... mereka lagi ngapain sampai Robert nggak boleh ikutan, Oma?" tambahnya yang terlihat hendak menangis. Sedih rasanya, juga rindu kepada Syifa.
__ADS_1
"Mami telepon Jonathan saja sekarang, minta dia dan Syifa untuk datang ke restoran ini," saran Papi Paul yang terlihat tak tega dengan cucunya. Selera makan yang awalnya meluap-luap menjadi sirna seketika, saat dimana dia melihat buliran bening pada sudut mata Robert mengalir membasahi kedua pipi manisnya.
Mami Yeri mendekat ke arah Papi Paul, lalu berbisik dengan pelan ke telinga kanannya. "Masalahnya, tadi Joe sempat telepon Mami, Pi, terus bilang mau nitipin Robert lagi."
"Nitipin mau ngapain memangnya?" tanya Papi Paul yang sama pelannya. Manik matanya terus menatap sang cucu, bahkan saat ini Robert sudah menutup wajahnya di atas meja dengan kedua lengan saling menumpu.
"Hiks! Hiks! Hiks!" rintihnya menangis.
"Ya mau berduaan, mau ngapain lagi coba?" ujar Mami Yeri.
"Semalam 'kan sudah, Mi. Udah sekarang Mami telepon Jonathan. Katakan kalau Robertnya nangis, nggak mau makan kalau bukan disuapi Syifa."
"Papi aja deh, yang telepon Joe." Mami Yeri berbalik menyuruh. "Mami nggak enak soalnya, tadi pagi sudah bilang iya. Mau dititipin Robert seharian."
"Ya sudah. Papi yang telepon dia." Papi Paul mengalah. Akhirnya dia pun mencoba menghubungi anak semata wayangnya.
Namun, sama seperti Abi Hamdan yang tadi mencoba menghubungi Joe—sebab nomornya sekarang masih tidak aktif.
Papi Paul tak hilang akal. Segera, dia pun menghubungi Sandi. Untuk meminta bantuan padanya.
"Siang Pak Paul," sapa Sandi dari seberang sana.
"Siang. San ... tolong kamu temui Jonathan di kamarnya, bilang padanya untuk segera membawa Syifa ke Restoran Mawar di dekat hotel," perintahnya.
"Maaf, Pak. Tapi saya nggak berani."
"Kenapa nggak berani?" Papi Paul tampak bingung. "Si Robert nggak mau makan siang, kalau nggak disuapi Syifa. Bilang juga sekalian, San."
"Tapi tadi pagi Pak Joe sudah telepon saya. Katanya saya dilarang menganggu beliau, Pak," jelas Sandi.
"Kamu sayang sama Robert nggak, San?"
"Sayang, Pak. Tapi kenapa memangnya?"
"Kalau sayang turuti kemauanku. Kalau pun kamu nantinya dimarahi Jonathan ... aku yang akan bertanggung jawab. Jangan sampai Robert sakit, hanya karena nggak makan siang, Sandi!" tegas Papi Paul dengan suara yang agak keras.
"Eemm ... baik, Pak. Siap laksanakan," jawab Sandi dengan suara bergetar.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^