Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
63. Tolong Robert


__ADS_3

"Kacipirit itu apa, Opa?" Robert membalik kata itu dengan sebuah pertanyaan. Dia tampak bingung.


"Kotoranmu keluar di dalam celana. Biasanya agak encer, itu namanya kapicirit." Abi Hamdan menjelaskan.


"Ya ampun ... serius kamu kacipirit, Rob?" Joe langsung berdiri dan menghampiri anaknya. Di samping itu di ruang keluhan tersebut sudah mulai tercium bau yang tidak sedap yang mungkin berasal dari celana anaknya.


"Iya, Dad." Robert mengangguk dengan perasaan takut. Namun mendadak perutnya kembali melilit. "Dad ... Robert mules."


Joe cepat-cepat meraih tubuh anaknya, lalu mengangkatnya. "Aku numpang bawa Robert ke toilet ya, Pak? Di mana toiletnya?" tanyanya pada sang Polisi.


"Mari saya antar, Pak." Pak Polisi yang duduk di depan Abi Hamdan langsung berdiri, kemudian melangkah cepat mengajak Joe menuju toilet.


"Rob, Rob, bisa-bisanya kamu kacipirit begini. Mana nggak ada celana ganti lagi," ujar Joe sambil geleng-geleng kepala. Dia membantu anaknya melepaskan celana.


"Maafin Robert, Dad," lirih Robert dengan wajah bersalah.


Polisi tadi yang sempat pergi untuk mengambil kantong kresek menghampirinya lagi. "Taruh di sini saja, Pak, biar nggak bau," sarannya sambil memberikan apa yang dia bawa.


"Terima kasih, Pak." Joe langsung memasukkan celana luar dan dalam milik anaknya ke dalam sana. Kemudian mengikat kantong kresek itu dengan rapat.


Dilihat sekarang Robert sudah berjongkok di atas toilet, dan mulai mengejan.


"Daddy tunggu diluar. Kalau selesai tinggal panggil saja, ya?" ucap Joe dan anaknya itu mengangguk. Setelah itu dia menutup pintu, membiarkan anaknya seorang diri di dalam sana untuk berkonsentrasi. "Maafin anakku sekali lagi, ya, Pak." Joe berbicara pada Pak Polisi yang dengan perasaan tidak enak.


"Tidak apa-apa, Pak. Namanya anak kecil 'kan wajar kalau kayak gitu," jawab Pak Polisi sambil tersenyum.


"Aku boleh buang celana anakku nggak, ya, Pak? Tapi di mana tempat sampahnya?" Joe menunjuk kantong kresek yang dia pegang.


"Lho, kok dibuang? Kenapa nggak dibawa pulang saja biar nanti dicuci, Pak?" tanya Pak Polisi heran. Dia sempat melihat celana Robert sangatlah bagus, dan seperti masih baru.


"Geli kayaknya, Pak. Aku juga males buat mencucinya dan nggak mungkin juga aku suruh istriku, kasihan. Lagian celana Robert banyak. Di mana aku bisa membuangnya?"


"Diluar ada tong sampah, buang saja di sana, Pak."

__ADS_1


"Oke." Joe mengangguk, kemudian melangkah pergi dari sana.


Seusai membuang hajat dan membersihkan tubuh bagian bawahnya, Robert pun kembali dengan Joe dan Pak Polisi tadi.


Tapi bocah itu tidak memakai celana, namun beruntungnya di sini Joe memakai stelan jas. Jadi dia bisa memakaikan benda itu untuk menutupi tongkat Robert beserta bokongnya.


"Apa kamu mau pakai sarung yang Opa pakai, Rob?" tawar Abi Hamdan sambil menunjuk sarung bermotif ala bapak-bapak itu. Sepertinya dia tak sadar dan malah menawarkan, padahal dirinya saja hanya memakai sarung. Tidak dengan dalemmannya.


Lantas, kalau benda itu dipakai Robert ... dia memakai apa?


"Nggak usah, Bi," tolak Joe sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian duduk lagi bersama Robert yang ditaruh di atas pangkuannya. "Biar pakai ini saja, lagian nggak akan lama juga kita pulang."


"Oh ya sudah." Abi Hamdan mengangguk.


"Kita mulai sekarang saja, ya, Pak ... Adek." Pak Polisi yang duduk di depan Joe berkata, sambil menatap Joe dan Robert bergantian.


"Iya, Pak. Silahkan," sahut Joe dengan santai dan anggukan kepala.


Dan bukan hanya dia saja yang mampu melihat, tapi Joe dan Abi Hamdan juga. Yang ikut memerhatikannya.


"Lho, itu 'kan Robert sama Atta," ucap Robert dengan kedua mata yang terbelalak. Merasa terkejut dengan rekaman yang isinya dirinya sendiri bersama temannya yang berada di depan toilet.


Pak Polisi seketika mengulas senyum, dia tampak senang sebab respon bocah itu sangat bagus. Karena langsung jujur.


Padahal, tadi jawaban Robert bukanlah untuk menjawabnya. Melainkan karena terkejut melihat rekamannya sendiri yang baru diputar.


Polisi juga sepertinya sengaja, hanya memutar adegan di mana Robert dan Atta tengah berdiskusi, tanpa memperlihatkan terlebih dahulu saat di mana Fahmi masuk ke dalam toilet.


"Siapa Atta, Dek?" tanya Pak Polisi.


"Teman Robert, Om."


"Apa Om boleh tau ... alasan Adek ke toilet saat itu bersama Atta teman Adek?" tanya Pak Polisi dengan lembut.

__ADS_1


"Untuk mengun ...." Robert langsung menggantung ucapannya, saat mengingat ucapan Atta untuk tidak berbicara pada siapa pun. Dan seketika saja, susah payah dia pun menelan saliva. Serta mendadak rasa takut itu menyelimuti seluruh jiwanya. 'Jangan bilang Om Polisi tau, kalau aku yang mengunci Om songgong itu di toilet? Tapi kok dia bisa tau dan curiga? Siapa yang memberitahunya? Apa Om songgong itu?' batinnya bertanya-tanya.


"Untuk apa?" tanya Pak Polisi sekali lagi.


Bukannya menjawab, Robert justru menutup bibirnya dengan kedua tangan. Kemudian geleng-geleng kepala.


"Lho, kenapa nggak jawab, Rob?" tanya Joe heran. Lalu mengelus puncak rambutnya. "Itu Om Polisi nanya."


'Masalahnya, kalau Robert jawab ... Robert nggak mungkin bohong, Dad. Kan bohong itu dosa. Tapi kalau jujur ... yang ada Robert dimarahi Daddy, Opa apalagi Om Polisi. Robert takut juga ... kalau sampai Robert di penjara,' batin Robert dengan jantung yang berdebar kencang.


Rasa takutnya itu seketika membuat tubuhnya bergetar dan seluruh wajahnya berkeringat. Segera dia pun memeluk tubuh Joe dengan erat.


"Daddy ... Robert kepengen pulang. Robert mengantuk ... Hooaamm ...." Robert berpura-pura menguap dan mengerjapkan matanya berkali-kali dengan ekspresi mengantuk. Dari pada menjawab pertanyaan yang menurutnya sulit itu, dia lebih baik pura-pura saja.


"Kita akan pulang, Sayang. Tapi jawab dulu pertanyaan Om Polisi tadi," rayu Joe, lalu menarik dagu anaknya supaya dia mampu melihat wajah tampannya.


Namun, bocah itu justru sudah memejamkan mata. Tapi dia sebenarnya hanya berpura-pura. Dan terlihat dari kelopak matanya yang bergerak-gerak, Joe mampu mengetahui anaknya itu berpura-pura.


"Jangan pura-pura tidur kamu, Rob. Ayok yang sopan sama Om Polisi. Jawab dulu kenapa kamu ada di toilet," titah Joe.


'Ih Daddy mah ... kenapa pakai ngomong segala, sih, kalau Robert hanya berpura-pura? Harusnya 'kan bilang saja kalau Robert ketiduran. Daddy memangnya mau, ya, kalau Robert masuk penjara?' batin Robert dengan kesal.


"Maaf Pak Polisi, apakah aku boleh tanya sesuatu?" tanya Abi Hamdan.


"Boleh." Pak Polisi mengangguk, kemudian menatap pria itu. "Silahkan, Pak."


"Apa rekaman CCTV itu ada hubungannya dengan Nak Fahmi? Yang terkunci di toilet?"


"Fahmi?" Joe bergumam dengan kening yang mengerenyit.


'Duh sial! Kenapa Opa menebaknya dan kenapa juga tepat sasaran?' batin Robert. Makin takut saja dia, dan sekarang menjadi ingin buang air kecil. 'Duh ... bagaimana ini? Tolong Robert ya, Allah. Masa Robert masuk penjara, sih, cuma karena mengunci Om Songgong itu? Nggak seru banget. Robert nggak mau.'


...Aman kamu, Rob, masih bocil mah ga mungkin di penjara 🤣 paling kalau ketahuan kena sunat langsung 😆...

__ADS_1


__ADS_2