
"Kok Aa do'ain aku pingsan?" Syifa terlihat merengut.
"Lho, siapa yang do'ain kamu pingsan, Yang? Aku nggak ada do'ain kamu kok." Joe menggelengkan kepalanya.
"Si Jojon tadi itu nanya, Fa, bukan ngedoain kamu," ucap Abi Hamdan memperjelas.
"Tapi harusnya Aa nggak perlu nanya kayak gitu dong. Kan Aa pernah bilang ... kalau ucapan itu adalah do'a, jadi bertanyalah mengenai hal-hal yang baik saja. Dan harusnya Aa do'ain aku, kalau meskipun aku sedang hamil ... fisikku tetap kuat sampai melahirkan."
Joe langsung menghela napas. Memang kalau bicara dengan Syifa, pasti dia akan kalah. "Iya, amin. Maaf deh kalau aku ada salah kata, Yang."
"Iya, aku maafin, A." Syifa mengangguk. Tapi untuk sementara saja, ya, A ... Aa izinkan aku mengajar. Boleh, kan?" Tangan Syifa terulur ke arah Joe, lalu menatapnya dengan raut memohon.
"Ya sudah." Lagi-lagi, Joe yang mengalah. Karena tidak tega apalagi Syifa memasang wajah seperti itu. "Tapi kalau semisalnya kamu merasa badanmu nggak enak, atau sakit kepala, pusing dan sebagainya ... kamu jangan pernah memaksa diri, ya? Langsung istirahat dan nggak usah masuk ngajar."
"Iya, A." Syifa tersenyum senang. "Terima kasih ya, A, Aa memang suami yang sangat pengertian."
"Sama-sama, Sayang." Joe mengangguk dan tersenyum.
"Daddy juga mulai sekarang harus gercep dong," pinta Robert yang terdengar nyolot.
"Gercep gimana maksudnya?" Joe tampak bingung, lalu menatap sang anak.
"Gerak cepat."
"Ya gerak cepat untuk apa, Rob?"
"Untuk kalau misalkan ada yang telepon, apalagi itu dari Mommy ... Daddy harus cepat mengangkatnya. Jangan dibiarkan begitu saja kayak kemarin itu, apalagi Mommy 'kan sedang hamil. Pasti Daddy akan selalu dibutuhkan," jelas Robert panjang lebar.
"Dewasa banget kamu, Nak, ngomongnya." Umi Maryam terkekeh, mendengar apa yang bocah itu katakan. Dan sangking merasa gemasnya, dia pun mencubit kedua pipi cucunya.
"Robert bener, Jon." Abi Hamdan menimpali. "Kamu harus jadi suami siaga, mulai sekarang."
"Iya, Bi." Joe mengangguk.
*
*
Seusai sarapan, Joe lebih dulu mengantar Syifa dan Robert ke sekolah, barulah setelah itu dia mengantar kedua mertuanya untuk pulang.
Sebenarnya, baik Abi Hamdan atau Umi Maryam, keduanya masih ingin main ke rumah Joe.
Tapi bukan tidak boleh, hanya saja Joe tidak ingin nantinya mertua dan kedua orang tuanya itu ada selisih paham lagi. Sudah cukup Mami Yeri dan Papi Paul saja, yang membuat Joe pusing.
Dan dia juga berharap, jika mereka berdua sudah pulang dari rumahnya sekarang. Biar ada persaan sedikit lega.
"Nanti motor Abi biar diantar sama satpam rumahku saja, ya, Bi," ucap Joe ketika membukakan pintu mobilnya untuk kedua mertuanya keluar.
"Iya, Jon," jawab Abi Hamdan seraya turun bersama Umi Maryam. "Nanti kalau kamu, Syifa dan Robert libur ... kalian menginap di rumah Abi, ya? Abi kangen kayaknya, pengen mengajari Robert ngaji lagi."
"Iya, Bi." Joe mengangguk, lalu mencium punggung tangan mertuanya silih berganti. "Kalau begitu aku permisi kamu ke kantor ya, Bi, Umi, assalamualaikum."
"Walaikum salam." Keduanya menyahut secara bersamaan. "Hati-hati dijalan ya, Joe, yang semangat kerjanya," tambah Umi Maryam.
__ADS_1
"Iya, Umi." Joe tersenyum, lantas masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi dari sana.
*
*
*
Syifa melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas satu, sembari membawa beberapa amplop putih di tangannya.
"Anak-anak ... ayok duduk di kursinya masing-masing, Ibu mau bagiin amplop!" perintah Syifa pada seluruh anak muridnya di kelas, sebab terlihat beberapa anak-anak itu tengah lari-lari dan ada pula yang sibuk mengobrol sambil tertawa cekikikan.
Memang, setiap akan pergantian pelajaran mereka kerap seperti itu. Jadi tak heran.
"Amplop apa itu, Bu?" tanya Atta yang sudah duduk di kursinya.
"Apa itu isinya duit?" tanya Juna.
"Bukan, Nak." Syifa menggeleng, lalu mendekat ke arah meja mereka. "Isinya undangan rapat orang tua. Nanti pulang sekolah kalian langsung berikan kepada orang tua kalian, ya?" titahnya, lantas membagikan amplop tersebut kepada anak-anak. Melangkah menuju mejanya masing-masing.
"Hari apa kira-kira rapatnya, Mom? Eh, Bu," ralat Robert. Sudah biasa sekali, dirinya salah memanggil Syifa ketika berada di sekolah.
"Besok. Dan kalian juga libur."
"Hore!!!"
Mendengar kata 'libur' seluruh anak-anak itu bersorak gembira, bahkan sambil menggerakkan tangannya naik turun. Entah mengapa, memang rata-rata anak sekolah selalu saja senang jika mendengar kata 'libur'
"Libur ini kita buat acara apa nih? Dan main ke rumah siapa?" tanya Baim kepada teman-teman geng gundulnya.
"Oke! Oke!" Teman-teman Robert menyahut bersama dengan anggukan setuju.
"Tapi nanti kita main apa, Rob? Harus ada rencana dari sekarang," tanya Atta.
"Main kelereng," jawab Robert.
"Jangan kelereng mulu ah, bosen!" sahut Leon.
"Terus apa?" tanya Robert.
"Main layangan saja," balas Juna.
"Layangan lagi nggak musim, Jun, nggak seru nanti," balas Leon lagi.
"Main karet saja gimana?" saran Baim.
"Ih. Kita 'kan anak cowok," sahut Atta yang terlihat tak setuju.
"Kenapa memangnya?" tanya Baim heran.
"Nggak kerenlah. Masa anak cowok main karet? Kata Papaku juga ... kalau keseringan lompat-lompat itu kita bisa ngompol."
"Main bola saja bagaimana?" saran Juna.
__ADS_1
"Minggu kemarin kita baru main bola, Jun, masa main bola lagi?" Leon menyahut sambil menggelengkan kepalanya.
"Kita pergi mancing saja deh, temen-temen, bagaimana?" saran Robert.
"Memangnya di rumahmu ada kolam ikannya, Rob?" tanya Leon.
"Enggak ada. Tapi nanti aku bisa minta Daddy untuk membuatkan kolam ikan, biar kita bisa main mancing-mancingan."
"Kalau ikannya bohongan mah mana seru, Rob," ujar Atta dengan gelengan kepala. "Harusnya, ikan sungguhan dong."
"Bisa, nanti aku minta Daddy belikan ikan sungguhan."
"Daripada bikin nanti lama, mending mancingnya di rumah Juna saja, Rob," sahut Baim memberikan usul.
"Mancing ikan lele maksudnya?" tebak Robert.
"Iya, jadi nanti kamu nggak perlu repot-repot bikin," ujar Baim, lalu menatap beberapa temannya yang lain.
"Jangan deh, Im. Nggak setuju aku," tolak Juna sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa memangnya, Jun?" tanya Leon.
"Ikan lele di rumahku 'kan buat diternak, bukan buat dipancing. Jadi—"
"Anak-anak, coba fokus ke Ibu dulu!" seru Syifa yang sudah berdiri di depan papan tulis.
Atensi seluruh murid kelas satu itu langsung beralih kepadanya, dan obrolan geng gundul itu seketika terhenti begitu saja.
"Ibu kasih bocoran sama kalian, kalau rapat yang akan diadakan besok adalah membahas tentang lomba Agustusan. Kalau tentang lombanya ... Ibu belum bisa kasih tau, karena itu akan dibahas pas rapat. Tapi Ibu ingin bertanya ... apakah ada di antara kalian yang mau memberikan usul, buat hadiahnya nanti? Tapi harus yang bermanfaat, ya! Dan bukan mainan atau makanan!"
"Aku!"
"Aku!"
"Aku, Bu!"
Hampir semua anak-anak itu langsung tunjuk tangan, tapi bocah pertama yang Syifa tunjuk adalah yang perempuan, yang duduk di samping Leon. Karena dia juga yang pertama kali tunjuk tangan.
"Maira, coba kasih tau apa usul darimu," titah Syifa.
"Baju seragam saja, Bu," saran Maira. "Soalnya, seragam sekolah 'kan mahal. Jadi lumayan kalau dapat dari lomba, pasti bermanfaat."
"Bagus sekali, Nak. Ibu akan mencatat usul darimu." Syifa langsung menuju mejanya, lalu duduk pada kursi dan menuliskan pendapat dari salah satu anak muridnya. "Coba Reyhan, apa usul darimu?" lanjut Syifa kepada bocah yang memakai kacamata.
"Sepeda saja, Bu," sarannya. "Bisa buat olahraga juga nanti."
"Iya, bagus sekali, Nak." Syifa mengangguk setuju, kemudian kembali mencatat. "Robert sendiri ... kepengen hadiahnya apa?"
"Mobil, Bu," jawabnya.
"Lho, kenapa musti mobil? Anak kecil 'kan belum bisa dan belum boleh ngendarai mobil, Nak?"
Syifa tampak heran, tapi memang usulan Robert terdengar tak masuk akal. Ditambah harga mobil tentulah mahal, jika dibandingkan dengan seragam atau sepeda.
__ADS_1
"Mobilnya buat Robert kalau udah gede, Mom, eh ... Bu. Kan enak, pas gede udah punya mobil sendiri. Mana dari lomba lagi. Jadi nggak perlu minta sama orang tua, dan bisa jadi modal utama pas Robert bekerja. Robert 'kan punya cita-cita jadi tukang angkut sampah."
...Lombanya makan kerupuk, hadiahnya mobil 🤣 untung banyak dong, Rob 😂...