
"Mami udah izin tadi, jadi kamu tenang saja, Fa," sahut Mami Yeri dengan santai.
Tak lama Papi Paul pun masuk ke dalam mobil, dan duduk di sebelah kanan. Jadilah Syifa berada di tengah-tengah kedua mertuanya.
"Ayok jalan sekarang!" titah Papi Paul kepada sang sopir di depan. Pria tersebut langsung mengangguk, kemudian menyalakan mesin dan mulai mengemudi.
"Mi ... hape dan tasku sepertinya tertinggal di ruangan tadi. Kita balik dulu sebentar," pinta Syifa yang baru menyadari, jika memang tidak membawa tas atau pun ponselnya sekarang.
"Tanggung, Fa." Papi Paul menyahut di sampingnya. "Tas biar nanti dititipin sama Robert aja deh, pas pulang."
"Tapi aku belum izin sama Aa, Pi, gimana dong?" tanya Syifa.
"Gampang. Nanti Mami yang akan chat Joe," sahut Mami Yeri, kemudian mengusap punggung tangan Syifa. Sebab dilihat menantunya itu seperti orang yang tengah mencemaskan sesuatu. "Udah santai aja, Fa. Lagian kamu juga pergi sama mertuamu sendiri, bukan sama orang asing, kan?"
"Iya sih, Mi." Syifa mengangguk pelan.
***
Hari ini, Papi Yohan sudah diperbolehkan pulang ke rumah oleh dokternya
Sekarang, dia berada dalam satu mobil bersama Mami Soora, Yumna dan sopirnya yang mengemudi menuju arah rumahnya.
"Yumna ... kamu dari kemarin-kemarin ke mana saja? Kok semenjak Papi sadar dari koma kamu nggak ke rumah sakit buat jengukin Papi?" tanya Papi Yohan dengan lembut kepada anaknya yang duduk di depan, di samping sang sopir.
"Maaf, Pi. Aku kemarin-kemarin sibuk." Yumna menjawab tanpa menoleh. Tapi dia menatap wajah sang Papi dari pantulan kaca depan mobil.
"Sibuk apa? Dan kata Mami ... kamu sekarang jadi model di perusahaannya Joe, ya? Mau ngapain sih Yum ... mana kamu belum izin sama Papi dan Mami lagi." Raut wajah Papi Yohan seketika berubah menjadi kesal.
"Kalau aku izin, Papi dan Mami pastilah melarang. Lagian ... aku sekarang udah nggak kerja sama Kak Joe lagi kok," balas Yumna dengan ekspresi jutek.
Jika mengingat saat dirinya dipecat oleh Joe—sungguh begitu menjengkelkan rasanya, dan itu juga membuat moodnya seketika buruk. Apalagi dengan penampilan Joe sekarang yang nggak banget menurutnya, karena botak.
__ADS_1
"Kamu udah berhenti?" tebak Papi Yohan dan anaknya itu langsung mengangguk. "Syukurlah ...," tambahnya sambil menghela napas.
"Kok syukurlah?" Rahang diwajah Yumna seketika mengeras, matanya pun ikut memerah. "Kok Papi kayak seneng gitu, aku udah nggak kerja sama Kak Joe? Papi tau nggak sih ... penyebab aku nggak kerja di sana itu karena Kak Joe pecat aku, Pi! Kan kurang ajar! Tante Yeri juga nggak mau bantuin aku, dia sekarang berubah!" Mendadak, Yumna jadi emosi. Suaranya pun terdengar begitu lantang.
"Ya jelas Papi seneng, karena dengan begitu kamu udah nggak bisa mendekati Joe. Udahlah Yum ... lagian kamu juga kenapa, sih, masih deketin Joe? Dia sudah punya istri, dan diluar sana masih banyak pria lajang yang pastinya lebih-lebih dari Joe." Papi Paul mencoba menasehati dengan nada selembut mungkin.
"Mami juga dengar dari Yeri ... katanya Syifa sekarang sedang hamil tau, Pi," ucap Mami Soora memberitahu.
"Apa, Mi? Hamil?!" Yumna terlihat terkejut, kedua matanya tampak membulat sempurna. "Itu nggak mungkin!" tambahnya dengan gelengan kepala.
"Kenapa nggak mungkin?" tanya Mami Soora bingung. "Kan dia punya suami, wajarlah kalau hamil. Aneh-aneh saja kamu ini, Yum."
"Tapi masalahnya, Syifa itu 'kan mandul, Mi."
"Kamu nggak usah ngaco deh, Yum. Orang Syifa sedang hamil 3 bulan kata Tante Yeri, masa dibilang mandul?' Mami Soora menggeleng tak percaya.
"Kamu nggak boleh asal bicara Yumna." Papi Yohan menegur. "Walau bagaimanapun kamu dan Syifa sama-sama perempuan, nggak baik bilang kayak gitu."
"Tapi aku yakin ... Syifa pasti hamil bohongan, Pi, Mi. Sengaja saja dia melakukan hal itu, supaya ingin mengambil hati mertuanya," tebak Yumna dengan julit, lalu bersedekap dada. "Om Paul sama Tante Yeri 'kan nggak suka sama dia sebenarnya, cuma karena si Robert aja ... jadi mereka masih mempertahankan Syifa. Kalau misalkan Robert udah bosen sama Syifa nanti juga ditendang."
"Aku nggak akan mengejar-ngejar Kak Joe lagi, Pi!" sahut Yumna dengan bibir yang menggeriting.
"Bener, ya, Papi pegang ucapanmu."
'Yailah aku nggak ngejar Kak Joe. Orang dianya aja botak. Aku 'kan nggak suka banget sama pria botak. Tapi kalau dia kembali berambut ... aku nggak janji, kalau aku nggak ngejar-ngejar dia lagi.' Yumna membatin dengan senyuman menyeringai.
"Oh ya, Papi mau tau siapa orang yang mendonorkan darahnya untuk Papi. Kamu pasti tau, kan? Siapa orangnya, Yum?"
"Mau apa memangnya? Penting gitu?" balas Yumna dengan ketus.
"Bukan masalah penting nggak penting, Papi cuma mau tau aja orangnya. Dan apakah pas dia sudah selesai mendonorkan darah ... kamu kasih uang? Atau dia sendiri meminta imbalan apa gitu?"
__ADS_1
"Nggak ada."
"Maksudnya?" Kening Papi Yohan mengerenyit.
"Ya maksudnya memang nggak ada. Dia nggak ada minta uang atau imbalan. Dia bilangnya sih gitu. Tapi nggak tau juga ... sama niatnya, bisa saja dia memang ada niat terselubung."
"Kok kamu malah mikir kayak gitu, Yum? Itu 'kan sama saja berburuk sangka. Tuhan Yesus nggak suka lho, sama orang yang berburuk sangka sama orang lain. Apalagi sama orang yang udah nolongin kita."
"Ya Papi pikir aja ... mana ada sih, zaman sekarang orang membantu secara cuma-cuma? Jangankan buat donorin darah, kita minta antar pergi sama seseorang aja kita musti bayar. Apalagi itu orang asing? Pikir pakai logika dong, Pi!" Yumna menunjuk-nunjuk dahinya sendiri sambil merengut.
Papi Yohan menghela napas. "Ya sudah, kasih tau aja siapa namanya. Papi mau tau."
"Kan aku udah bilang, kalau itu nggak penting. Kenapa Papi belum paham-paham juga, sih?"
"Kamu ini, nggak penting mulu ngomongnya. Memang apa susahnya buat ngasih tau doang? Orang Papi cuma ada niat mengucapkan terima kasih saja kok sama dia."
Yumna langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil, dia tampak acuh dan tak mau menanggapi.
"Harusnya, tadi pas di rumah sakit kita tanya saja sama dokternya, Pi," saran Mami Soora sambil menggenggam tangan suaminya. "Mami juga lupa lagi nanya."
Papi Yohan menoleh kepada sang istri. "Papi udah sempat tanya kok, Mi."
"Terus kata dokternya apa? Apa dia juga nggak tau namanya? Bukannya setau Mami ... kalau kita mau donorkan darah harus isi semacam formulir gitu, ya? Di sini kayak gitu juga nggak, sih, Pi?"
Papi Yohan mengangguk. "Iya, Mi. Papi juga sempat lihat formulirnya. Tapi di sana tertera namanya Hamba Allah. Dan masa iya, pria itu namanya Hamba Allah?" Dia tampak heran sekaligus tak percaya.
"Ya mungkin saja memang namanya Hamba Allah, Pi."
"Kalau namanya Hamba Allah, terus dipanggilnya siapa? Masa Allah? Kan nggak mungkin, Mi."
"Pasti Hamba, Pi. Atau Amba atau bisa juga Ham. Si Ham!" tebak Mami Soora.
__ADS_1
'Apaan sih mereka? Kenapa masih aja bahas pria itu. Nggak penting banget,' batin Yumna sambil memutar bola matanya dengan malas.
^^^Bersambung...^^^