
"Aku nggak mau Bapak mendonorkan darah untuk Papiku!"
Langkah Ustad Yunus dan Dokter yang hendak masuk ke dalam ruang operasi seketika terhenti, bersamaan dengan Yumna yang menyeru.
"Lho, kenapa Nona?" tanya Dokter yang menoleh. Sedangkan Ustad Yunus sendiri hanya diam saja, tapi dia tampak bingung.
"Aku akan telepon Tante Yeri dulu. Aku yakin dia pasti bisa membantuku, Dok." Yumna segera mengetik-ngetik ponselnya, kemudian menghubungi Mami Yeri.
"Halo, Tante." Syukurlah kali ini, panggilannya itu langsung terjawab dari seberang sana.
"Ya, Yum, ada apa?"
"Tante ... Tante bisa tolong aku, nggak?" tanya Yumna dengan gugup.
"Tolong apa? Bicara saja."
"Papiku kecelakaan, terus dia kehilangan banyak darah dan ada niat akan dioperasi. Tapi sayangnya ... pihak rumah sakit sedang kesulitan mencari golongan darah O, Tan."
"Ya ampun ... kasihan sekali Papimu. Biar Tante bantu cari golongan darah O, ya, tapi di rumah sakit mana Papimu dibawa, Yum?"
"Rumah sakit sejahtera," jawab Yumna. "Tapi, Tan, golongan darah Tante atau Kak Joe sendiri apa? Kalau golongan darah kalian sama ... biar Tante atau Kak Joe saja yang mendonorkannya. Aku mohon, Tan."
"Golongan darah Tante B, kalau Joe A, Yum, sama kayak Papinya. Tapi Tante akan segera ke sana dan meminta tolong sama asistennya Om Paul, untuk mencari orang yang memiliki golongan darah O. Kamu tunggu, ya, ini Tante akan balik lagi ke rumah sakit. Soalnya tadi sempat ke rumah sakit juga."
"Ya udah deh, Tan. Aku tunggu." Yumna terdengar begitu lesu menjawabnya. Jujur saja dia merasa kecewa, karena ternyata golongan darah Joe pun tak sama dengan Papinya.
"Dokter!" Seorang perawat pria tiba-tiba muncul dibalik pintu ruang operasi. "Jantung Pak Yohanes begitu lemah. Kita harus segera melakukan operasi, karena bisa-bisa dia kehilangan nyawa," tambahnya memberitahu.
"Nggak ada jalan lagi, Nona." Dokter itu berbicara pada Yumna, dan setelahnya langsung menarik tangan Ustad Yunus untuk ikut bersamanya masuk ke dalam sana.
Sebenarnya Yumna ingin mencegah, tapi entah mengapa lidahnya itu terasa begitu kelu kala mengingat ucapan perawat tadi yang mengatakan jika jantung Papinya lemah.
'Benar-benar si*lan sih ini ... kenapa darah Kak Joe musti berbeda dengan Papi? Padahal 'kan kalau Kak Joe bisa mendonorkan darahnya, pasti dia juga bisa ke sini dan bertemu denganku!'
Akhirnya Yumna hanya bisa menggerutu dalam hati, sambil menyandarkan punggungnya di tembok.
*
*
*
Beberapa menit kemudian, Mami Yeri pun datang bersama Sandi. Dia terlihat tergesa-gesa dan langsung menghampiri Yumna yang masih berada diposisi semula.
"Yumna ... maaf kalau Tante lama. Tadi macet dan Ini Sandi ... dia memiliki golongan darahnya O. Dan dia juga bersedia mendonorkan darahnya," ungkap Mami Yeri dengan deru napas yang senggal. Tangannya menyentuh bahu Sandi di sampingnya, kemudian menepuk pelan.
"Dia bukannya sopirnya Kak Joe, ya?" Yumna menatap sinis kepada Sandi.
"Benar, Nona." Sandi mengangguk. "Saya sopirnya Pak Joe."
"CK!" Yumna berdecak, tampak jelas dia begitu tidak suka dengan kehadiran pria itu. Karena sesungguhnya yang dia inginkan hanyalah Joe. 'Tante Yeri parah sih, bisa-bisanya dia menawarkan sopir anaknya untuk mendonorkan darahnya kepada Papiku. Nggak sudi amat aku terima darah orang miskin masuk ke dalam tubuh Papiku. Bisa-bisa Papiku kena alergi.'
"Yum ... kok kamu bengong, sih?" Mami Yeri menggerakkan kelima jarinya ke depan wajah Yumna. Dan membuat perempuan itu seketika tersentak, lantaran sempat melamun. "Mana Dokternya? Katanya Papimu mau dioperasi?"
"Lagi dioperasi sekarang, Tan. Dan udah nggak perlu lagi pendonor darah ... karena udah ada yang mendonorkan darahnya," jawab Yumna. Meskipun sejujurnya kesal pada Mami Yeri, tapi dia mencoba menutupinya dengan senyuman.
"Oh begitu. Syukurlah kalau sudah ada ...." Mami Yeri menghela napasnya dengan lega. "Lebih baik kita tunggu di sini sambil mendo'akannya, Yum. Semoga operasi Papimu lancar dan dia bisa kembali sehat seperti semula."
__ADS_1
Mami Yeri mengajak Yumna untuk duduk bersama di kursi tunggu di dekat pintu itu. Sambil merangkul bahu dan mengusapnya dengan lembut.
"Amin, Tan," sahut Yumna dengan anggukan kepala. "Tapi ngomong-ngomong ... Tante ke sini cuma bareng sopirnya Kak Joe? Kak Joe sendiri ke mana?" Dia pun menatap sekitar, masih berharap jika Joe sempat ikut dengan Mami Yeri.
"Joe kayaknya udah sampai rumah sih, bareng Syifa dan Robert. Atau mungkin udah ke kantor kali." Mami Yeri Menebak-nebak.
"Memang ... tadinya Kak Joe habis dari mana? Dan harusnya, Tante beritahu Kak Joe dong ... kalau Papiku masuk rumah sakit. Barang kali dia mau menjenguknya."
"Nanti Tante beritahukan dia, Yum." Mami Yeri mengangguk. "Tadinya Tante, Papinya Joe, Syifa, Joe, Robert dan mertuanya Joe ... Kami baru ke sini, habis mengecek Syifa ke dokter kandungan. Terus Tante memutuskan balik lagi pas dijalan kamu telepon."
"Syifa hamil, memangnya, Tan?" Yumna tampak sedikit terkejut.
"Pas diperiksa sih katanya belum, Yum." Wajah Mami Yeri seketika menjadi muram.
"Udah—"
"Maaf Bu Yeri," ucap Sandi yang tiba-tiba memotong ucapan Yumna.
"Ya, San?"
"Saya permisi ke kamar inapnya sopir Pak Paul, dulu, ya, Bu. Mau lihat kondisinya."
"Memang dia dibawa ke rumah sakit ini, San?"
"Iya, Bu." Sandi mengangguk.
"Ya sudah. Sana kamu lihat kondisinya. Beritahukan aku atau suamiku kalau butuh biaya tambahan, ya?"
"Iya, Bu." Sandi membungkuk sopan, kemudian berlalu pergi dari sana.
Melihat Sandi sudah menghilang, Yumna pun meneruskan ucapannya lagi.
"Iya, Yum." Mami Yeri mengangguk.
"DiKB nggak, si Syifanya?"
"Enggak."
"Kok aneh ... masa tiga bulan nikah belum hamil? Apa jangan-jangan Syifa mandul, Tan."
"Dih Yum ... jangan ngomong kayak gitu!" tegur Mami Yeri dengan gelengan kepala.
"Kenapa? Aku 'kan hanya menebak."
"Iya, tapi masa sih ... si Syifa mandul? Kasihan Joe sama Robertnya dong, Yum. Tante sama Papi juga kepengen cucu lagi. Kepengen cucu perempuan."
Hanya baru membayangkan saja Mami Yeri sudah sangat kecewa, apalagi jika itu benar terjadi?
"Tante nggak usah khawatir. Kan ada aku." Yumna menepuk dadanya dengan penuh percaya.
"Maksudnya?"
"Ya 'kan dari awal Tante kepengen aku jadi menantu Tante. Ya mungkin saja dengan Syifa mandul ... itu adalah jalan dari Tuhan, supaya aku dan Kak Joe bisa bersatu."
Mami Yeri langsung terdiam. Karena jujur saja dia bingung untuk menjawab apa yang Yumna katakan. Takutnya kalau dia memberikan harapan, bisa-bisa Yumna kecewa. Begitu pun dengan orang tuanya.
Selain itu Joe juga pastinya tak akan mau, sama halnya seperti Robert.
__ADS_1
*
*
Sekitar satu jam menunggu, akhirnya pintu ruang operasi itu dibuka. Dan keluarlah seorang dokter dengan memakai pakaian medis lengkap bersama Ustad Yunus.
"Lho, kamu Ustad Yunus, kan?" Mami Yeri tampak heran, ketika pandangan matanya tertuju kepada pria berpeci.
"Bu Yeri, bukan?" tebak Ustad Yunus sambil tersenyum.
"Iya." Mami Yeri mengangguk. "Kok Ustad masuk ke dalam ruang operasi? Atau jangan-jangan Ustad yang—"
"Tante kenal, sama dia?" Yumna langsung berdiri dan menghampiri mereka.
"Kenal, Yum. Dia gurunya si Joe."
"Saya bukan gurunya, Bu." Ustad Yunus menggelengkan kepalanya.
"Tapi Joe sering membawa-bawa nama Ustad, setiap kali membahas masalah agama."
"Ya mungkin karena—"
"Eekkhemm!" Dokter itu tiba-tiba berdehem, dan seketika membuat atensi mereka semua tertuju padanya. "Apakah kalian tidak mau mendengar kabar tentang operasi Pak Yohanes?"
"Tentu mau dong, Dok." Yumna menyahut dengan cepat. "Bagaimana operasi Papi? Lancar, kan, Dok?"
"Alhamdulillah ... Nona, semuanya lancar."
"Puji Tuhan." Yumna mengucap syukur sambil menyentuh dadanya. "Terus, Dok, apa aku boleh melihat Papi sekarang?"
"Nanti ya, Nona, tunggu dia dipindahkan ke ruang perawatan dulu. Saya tinggal masuk dulu, ya?" Sebelum masuk lagi ke dalam ruang operasi, dokter itu mengusap punggung Ustad Yunus terlebih dahulu.
"Berhubung semuanya sudah selesai dan alhamdulillah berjalan dengan normal... saya permisi mau pulang dulu ya, Nona, Bu," pamit Ustad Yunus sambil tersenyum.
"Eh tapi, Tad. Alasan Ustad masuk ke dalam ruang operasi itu apa? Ustad belum menjawab pertanyaanku soalnya." Mami Yeri tampak masih penasaran.
"Saya habis mendonorkan darah, Bu."
"Berapa nomor rekeningmu?" tanya Yumna tiba-tiba. Suaranya terdengar begitu ketus, tapi dia menatap ke arah Ustad Yunus.
"Buat apa nanya nomor rekening saya, Nona?" tanyanya bingung.
"Nggak usah sok polos deh. Ya buat bayarlah!" kelakar Yumna sedikit melotot. "10 juta cukup nggak, buat bayar darahmu? Atau mau 20 juta?" tawarnya kemudian.
"Enggak perlu, Nona," tolak Ustad Yunus sambil menggeleng pelan dan seulas senyum di bibirnya.
"Kok nggak perlu? Kamu pikir aku nggak bisa bayar, ya? Aku punya banyak uang, dan jangan coba-coba meremehkanku!" Yumna tampak emosi.
“Bukan maksud meremehkan. Tapi niat saya dari awal 'kan ingin menolong. Dan saya menolong dengan ikhlas, Nona."
"Jangan bilang ikhlas kalau ujungnya kamu akan datang lagi untuk meminta uang!" hardik Yumna. Bisa disimpulkan jika dia masih memiliki pikiran negatif kepada Ustad Yunus. "Lebih baik, minta bayaran sekarang saja padaku. Karena aku nggak mau nantinya kamu sampai menemui Papi untuk menuntut uang, apalagi sampai menguras hartanya!"
"Astaghfirullahallazim ...." Ustad Yunus sampai beristigfar sambil mengelus dada. "Nona ... saya sudah katakan kalau saya ikhlas menolong. Itu berarti saya nggak akan menerima uang atau pun meminta uang kepada Anda atau Papi Anda. Nona tenang saja ... dan nggak perlu risau. Kalau begitu saya permisi, selamat sore."
"Sore Ustad."
Hanya Mami Yeri saja yang menjawab. Sedangkan Yumna tidak sama sekali. Padahal harusnya, dia mengucapkan kata terima kasih sebelum pria itu pergi. Tapi dia justru masih berpikir negatif tentangnya.
__ADS_1
"Mana ada zaman sekarang orang nolong tanpa meminta imbalan. Wajib dicurigai sih ini!" gumam Yumna kemudian terduduk kembali di kursinya.
...Pada setuju, nggak, semisalnya Yumna dijodohin sama Ustad Yunus? 🤣...