Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
58. Overdosis karena sering disuntik


__ADS_3

"Sayang ... coba lihat siapa yang datang," ucap Mami Yeri lembut seraya mengelus rambut cucunya. Sejak tadi, bocah itu masih menutup wajahnya di meja dengan kedua tangan yang menumpu.


"Kalau bukan Mommy, Robert nggak mau lihat, hiks!" sahutnya sambil menangis.


"Lihat dulu, ayok. Ini bukan sekedar Mommymu, tapi juga Daddymu."


"Apa Oma bohong?" tanyanya tak percaya.


"Sejak kapan Oma berbohong padamu, Sayang? Nggak pernah tuh."


Dengan perlahan dan penuh keraguan, Robert pun mengangkat wajahnya. Pandangan matanya langsung menatap ke arah depan dan seketika dia berbinar.


Pasalnya benar apa yang dikatakan Mami Yeri, bukan hanya Syifa saja yang datang, tapi juga Joe. Mereka datang bersama Papi Paul yang melangkah menghampiri meja.


"Mommy!" serunya dengan penuh kegembiraan. Cepat-cepat Robert menghapus air mata dipipi, kemudian turun dari kursi untuk menghamburkan pelukan kepada Syifa. "Mommy! Robert kangen!"


Syifa agak terkejut mendapatkan pelukan secara tiba-tiba itu, namun segera dia membalasnya. "Mommy juga kangen sama kamu, Nak."

__ADS_1


Robert perlahan melepaskan pelukan, lalu mengangkat kedua tangannya di udara dengan kepala yang mendongak kepada Syifa. "Gendong, Mommy!"


Melihat itu, Joe pun segera meraih tubuh sang anak, kemudian mengendongnya. Padahal, Robert jelas meminta Syifa yang mengendongnya, bukan Joe.


"Ih! Robert 'kan minta digendong sama Mommy, Dad! Bukan sama Daddy!" gerutu Robert sambil merengut. Kakinya bergerak-gerak ingin turun.


"Sama saja, Sayang. Memangnya Daddy nggak boleh mengendongmu, ya?" Joe mencium kening anaknya, kemudian membawanya untuk duduk dikursi.


Sebetulnya apa yang Joe lakukan memang sengaja, supaya Syifa tak mengendong Robert. Sebab tubuh bocah itu cukup berat, sehingga Joe khawatir Syifa merasa sakit.


"Mommy dan Daddy ngapain saja, sih, di kamar mulu? Sampai Robert nggak boleh ikutan?" tanyanya dengan wajah cemberut. Melihat semua orang sudah duduk di tengah-tengah meja, Robert langsung turun dari kursinya dan naik ke atas pangkuan Syifa. Tidak lupa untuk memeluknya.


Padahal belum sehari mereka tidak ketemu, tap Robert merasa itu sangat lama sehingga membuat rasa rindunya menggebu-gebu.


"Lho, memangnya Omamu nggak jelaskan, ya, Rob, alasannya?" Bukan Syifa yang menjawab, melainkan Joe.


"Robert tanya Mommy, bukan Daddy!" ketus Robert sambil mencebik bibir. Lalu menatap Syifa dan menangkup kedua pipinya. "Jawab Mommy, kenapa? Tapi harus jujur, nggak boleh bohong."

__ADS_1


"Eemmm ... karena ...." Syifa tampak bingung untuk menjawab apa, dia terdiam sebentar dan melirik ke arah Joe. "Disuntik. Ya ... disuntik, Nak." Hanya kata itu yang tiba-tiba tersirat di dalam otaknya. Dan pastinya Robert juga mengerti maksudnya.


"Oh. Tapi memangnya ngasih vitamin adik bayi itu harus terus terusan, ya? Apa Mommy nggak capek, disuntik terus sama Daddy? Pasti sakit, kan, rasanya?" tanya Robert dengan wajah polosnya. Tapi sambil meringis juga, sebab membayangkan momen dimana dirinya disuntik.


"Joe, kok Robert ngerti masalah ini?" tanya Mami Yeri pelan sambil menoel lengan anaknya, dan ketika Joe menoleh—dia langsung memberikan sebuah tatapan tajam. "Jangan bilang kamu cerita juga masalah bercinta ke dia. Robert masih terlalu kecil, Joe, jangan rusak otak anakmu!" tekannya dan kali ini sudah melotot.


Joe mendekat, lalu berbisik ke telinga kiri Maminya. "Suntik yang ada dipikiran Robert itu berbeda dengan suntik yang ada dipikiran kita, Mi. Mami tenang saja."


"Benarkah?" Mami Yeri tampak ragu.


"Bener." Joe mengangguk dengan yakin.


"Ya sebenarnya capek, Nak." Syifa menjawab pertanyaan Robert tadi. "Tapi mau gimana? Ini 'kan memang yang terbaik buat adik bayimu," tambahnya sambil mengusap perut.


"Tapi setahu Robert, suntik itu 'kan kayak semacam kita minum obat. Dan minum obat itu 'kan ada aturannya, Mom," kata Robert, kemudian melanjutkan. "Memangnya ... Mommy nggak takut terkena overdosis, karena sering disuntik terus sama Daddy? Kan bahaya tau, kalau sampai kita terkena overdosis. Iya, kan?"


...Hayo lho, Mom, mau jawab apa? 🤣 bingung 'kan 🤭...

__ADS_1


__ADS_2