Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
191. Kangen sama Syifa


__ADS_3

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, mohon ...." Terdengar suara operator yang berbicara, mengatakan jika nomornya tidak aktif.


"Kamu punya nomor Umi mertuamu nggak, Joe?" tanya Papi Paul. "Soalnya nomor Abi botakmu nggak aktif."


"Hape Umi kebetulan rusak, Pi, jadi nggak bisa dihubungi juga." Syifa yang menyahut.


"Lho ... pada susah dihubungi. Gimana urusannya ini?" Papi Paul menggaruk kepala botaknya yang mendadak gatal, dan merasa bingung.


"Nanti aku telepon Sandi, biar dia saja yang sampaikan kepada Umi dan Abi, Pi," saran Joe.


"Oh ya udah deh." Papi Paul mengangguk setuju, kemudian menaruh kembali ponselnya ke dalam kantong celana.


"Sebelum sampai rumah kita mampir dulu ke restoran buat makan siang, Joe. Si Syifa pasti laper," saran Mami Yeri yang sejak tadi masih menyentuh perut menantunya.


"Makannya di rumah saja, Mi. Nggak usah mampir," tolak Syifa dengan gelengan kepala.


"Takutnya kelamaan, Fa, kalau tunggu sampai. Eh ... Joe, mending ke restoran bubur langganan Mami saja, soalnya bubur di sana enak banget tau. Pasti Syifa suka."


"Restoran bubur di mana, Mi?" tanya Joe yang tampak tak tahu, sembari menatap Maminya dari kaca depan mobil.


"Nanti Mami kasih tau."


"Oke."


***


"Bagaimana, bagaimana?! Bu Syifa kenapa?!"


Seluruh bocah di kelas satu itu bersorak ramai ketika melihat Robert, Leon dan Pak Bambang masuk. Padahal, di ruangan kelas itu masih ada guru Bahasa Indonesia yang tengah mengajar.


"Bu Syifa enggak—"


"Pak Bambang! Biar Robert yang ngasih tau!" rengek Robert yang sudah menarik-narik tangan kepada sekolahnya.


"Oh ya sudah." Pak Bambang pun mengangguk setuju.


"Jadi temen-temen ... Bu Syifa atau Mommyku yang paling cantik sedunia itu nggak sakit."


"Terus kenapa?" tanya Atta dengan lantang. "To the poin aja, Rob, ngomongnya! Jangan bertele-tele!"


"Iya!" Maira, teman sebangku Leon menimpali. "Kita semua penasaran."


"Kalian pokoknya nggak boleh iri sama aku, ya?" tanya Robert sambil tersenyum miring dan menunjuk seluruh teman-temannya.

__ADS_1


"Irinya kenapa sih, Rob?" Juna berdecak, akibat kesal dengan rasa penasarannya.


"Karena ternyata Bu Syifa itu hamil ... temen-temen! Jadi dia nggak sakit! Cuma sekarang lagi bawa adik bayi diperutnya!" seru Robert dengan girang sambil melompat-lompat dan mengusap-usap perutnya sendiri.


"Waaah ... selamat ya, Robert!!!" Seluruh bocah dikelas itu menyeru, sambil bertepuk tangan. Mereka semua begitu antusias sekali mendengar jawaban dari teman sekelasnya itu.


"Cewek apa cowok calon adikmu itu, Rob?" tanya Baim saat Robert kembali ke kursinya.


"Belum tau, soalnya baru 3 bulan, Im," jawab Robert.


"Berarti tinggal Atta, Baim sama Leon nih yang belum punya adik." Juna berucap sambil menatap teman-temannya yang namanya disebutkannya tadi. "Aku 'kan udah dua."


"Pulang sekolah aku akan minta Papa dan Mama bikin adik deh," sahut Baim.


"Iya, aku juga." Leon menyahut, lalu menatap ke arah Atta. "Kamu sendiri gimana, Ta?"


"Aku juga mau coba minta, meskipun nggak yakin mereka mau atau nggak," jawab Atta.


***


Malam hari di rumah Abi Hamdan.


"Bi ... tiba-tiba Umi kok kangen sama Syifa, ya? Udah seminggu lebih juga kayaknya nggak ketemu. Mau telepon juga nggak bisa, hape Umi rusak," keluhnya dengan raut sedih.


"Biarin aja, Mi. Jangan sering dihubungi, nanti Syifanya nggak terbiasa," jawab Abi Hamdan dengan santai sambil mengupas kulit kacang.


"Enggak biasa gimana maksudnya?" Umi Maryam tampak tak mengerti.


"Syifa 'kan belum lama pindah ke rumah Joe. Biarkan dia menyesuaikan diri di sana, jadi kita nggak perlu sering menghubunginya. Takutnya Syifa nggak betah, kan walau bagaimanapun dia udah punya suami, Mi, jadi wajar kalau ikut suami," terang Abi Hamdan.


"Umi ngerti masalah itu. Tapi sekedar kirim pesan doang buat nanya lagi apa sama kabarnya nggak masalah, kan, Bi? Namanya orang tua sama anak, kan wajar Umi kangen."


Abi Hamdan mengambil sebuah ponsel jadul ditangan istrinya, kemudian membolak-balikkan seraya memerhatikannya. "Nanti besok Abi bawa deh ke tukang servise. Abi juga sekalian mau beli cassan, cassan Abi rusak soalnya."


"Nggak usah dibawa ke tukang servise, Bi."


"Kok nggak usah? Kan kata Umi tadi rusak?"


"Hapenya memang udah rusak. Tapi Umi nggak mau diservis." Umi Maryam menggelengkan kepalanya.


"Terus kalau nggak diservis gimana Umi mau menghubungi Syifa? Aneh deh Umi ini." Abi Hamdan berdecak, lalu mengunyah kacang.


"Dilem biru Umi maunya."

__ADS_1


"Belinya dimana lem birunya, Mi?"


"Maksudnya, dilempar beli yang baru, Bi! Aaahh ... Abi begitu saja nggak ngerti!" Umi Maryam mendengkus, lalu memutar bola matanya dengan malas.


"Oh ... Umi maunya beli hape baru, gitu?"


"Iya." Umi Maryam mengangguk semangat. "Tapi Umi maunya, hapenya yang nggak jadul kayak itu, Bi. Umi maunya yang bisa buat fac*bookkan."


"Ngapain fac*bookkan segala? Dan fac*book itu bukannya media sosial buat kita bikin siaran langsung, kan, kayak di tivi-tivi? Terus viral?"


Bicara tentang fac*book, Abi Hamdan pun langsung teringat dengan video viral milik Bu Hajjah Dijah tentang Fahmi yang berada di kantor polisi dan disitulah dia tahu apa itu fac*book.


"Bukan cuma bikin siaran langsung, tapi bikin status juga bisa, Bi. Umi juga mau sekalian promosiin Abi nanti. Biar Abi viral."


"Ngapain Abi dipromosiin? Memangnya Abi dagangan?" Abi Hamdan mengerutkan keningnya heran. "Yang benar itu harusnya Umi promosiin nasi uduk Umi saja, kan biar semua orang tau dan makin rame pembeli."


"Kalau itu sih pasti. Hal pertama yang Umi promosiin. Tapi Umi juga mau promosiin Abi, nanti kalau semisalnya Abi lagi ceramah ... Umi akan videokan dan bikin siaran langsung."


"Tapi manfaatnya promosiin Abi itu apa, Umi?"


"Ya biar ada yang tau, kalau isi ceramah Abi itu bagus dan penyampaiannya oke banget. Biar banyak juga yang sewa jasa Abi. Orang 'kan nggak tau, bisa saja nanti videonya sampai ke Presiden, terus Bapak Presiden mengundang Abi untuk datang ke istana negara buat ceramah. Iya, kan?" Umi Maryam berandai-andai.


"Ah Umi ngayalnya ketinggian." Abi Hamdan terkekeh. "Ustad diluar sana banyak, bukan cuma Abi. Yang ilmunya jauh diatas Abi juga banyak banget, Umi."


"Iya, Umi tau. Tapi namanya rezeki orang 'kan nggak tau, Bi. Bisa saja kita akan jadi orang kaya lewat jalur viral."


"Umi kayaknya kebanyakan nonton gosip ditivi nih, pasti. Yang isinya tentang orang viral hanya karena mandi lumpur."


"Ih itu mah udah lama, Bi. Abi mah ketinggalan. Lagian juga itu bukan difac*book adanya. Tapi taktok."


"Apa itu taktok?"


"Ya aplikasi media sosial juga sama. Cuma kata Bu Ningsih sih ... banyaknya video perempuan pada goyang-goyang nggak jelas gitu. Dan kelihatan p*orno."


"Ih ngeri amat. Zina mata itu namanya." Abi Hamdan meringis geli sambil geleng-geleng kepala.


Ting, Tong!


Ting, Tong!


Obrolan mereka pun seketika usai, saat mendengar suara bel pintu rumah yang berbunyi.


Abi Hamdan berdiri, kemudian melangkah menuju pintu. Sebelum membukanya, dia lebih dulu menyibak sedikit gorden jendela. Untuk melihat siapa yang datang bertamu.

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2