Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
243. Suasana baru


__ADS_3

"Hhhaaahh ...." Joe hanya mendesaah sambil menggelengkan kepala.


Tak ada niat sama sekali untuk membujuk bocah itu supaya menghentikan tangisnya, dia justru memilih menata kasur lipat di lantai dekat ranjang sang mertua. Kemudian berbaring di sana sambil memainkan ponsel.


Bukan maksud tak peduli. Tapi kalau sudah begitu, biasanya memang anaknya susah sekali dibujuk. Jadi biarkan Syifa atau yang lainnya saja yang membujuknya.


"Kamu jangan sedih begitu dong, Nak," ucap Syifa yang berdiri dari duduknya. Kemudian melangkah menghampiri anaknya yang masih menangis. Perlahan tangannya mengusap kepala botak sang anak. "Apa yang dikatakan Daddy ada benarnya kok. Jadi kamu harus menurutinya. Udah ... lebih baik kita ke kamar mandi, yuk! Gosok gigi sebelum tidur." Lantas meraih tubuhnya, tapi bocah itu masih terus memeluk Abi Hamdan dengan erat.


"Robert kepengen gosok giginya sama Opa!" tolak Robert yang tampak ngambek. Ada rasa kesal di dalam dada, karena Syifa ternyata lebih memihak kepada Joe. Ketimbang dirinya. 'Mommy nggak seru ah! Kenapa Mommy justru setuju dengan apa yang Daddy katakan? Harusnya 'kan belain Robert dong,' batinnya sambil mendengkus.


"Opa 'kan lagi sakit, Nak. Mana bisa dia—"


"Abi udah bisa ke kamar mandi kok, Fa," sela Abi Hamdan. "Udah biarin, nanti Robert sama Abi saja gosok giginya."


"Tapi nanti Abi kerepotan. Kan baru mendingan."


"Nanti Umi juga ikut temenin Abi, Fa," sahut Umi Maryam, lalu mengelus tangan kanan Syifa. "Udah sekarang kamu duluan saja gosok gigi, terus istirahat. Seharian kamu 'kan ikut jagain Abi di sini."


"Iya, Umi." Syifa mengangguk, lalu kembali mengelus kepala botak anaknya. "Mommy gosok gigi duluan ya, Nak. Nanti kamu kalau sudah selesai gosok gigi ... langsung tiduran di bawah ya, di samping Mommy," pintanya. Namun bocah itu tak menanggapi. Bahkan menggeleng atau mengangguk pun tidak. Dia masih merajuk.


Syifa pun akhirnya memutuskan langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Joe yang melihatnya pun langsung buru-buru ikut masuk, lalu mendekap tubuh istrinya dari belakang.


Syifa sontak terkejut. Tapi dia langsung menatap Joe dari depan cermin wastafel. Pria itu kini tengah mengendus kerudungnya dengan sedikit menyibak supaya bisa mengecup leher.


"Aa mau gosok gigi juga?"

__ADS_1


"Sebenarnya iya, Yang. Tapi kayak ada yang kurang malam ini."


"Kurang gimana?" Kening Syifa mengerenyit. Dia pun lantas memberikan sikat gigi kepada Joe yang sudah diolesi odol di atas bulu sikatnya.


"Nanti aku kasih tau setelah kita selesai gosok gigi," jawab Joe. Lalu mengambil benda itu dan mereka pun menggosok gigi bersama.


Namun ditengah-tengah, Joe terlihat sedang memandangi kamar mandi. Wajahnya juga tampak sedang memikirkan sesuatu.


'Kenapa dengan Aa? Kadang dia tuh suka aneh. Mana ngomongnya sepotong-potong lagi,' batin Syifa penasaran.


Seusai keduanya gosok gigi, mereka pun keluar bersama dari sana. Dan kini giliran Robert, Umi Maryam serta Abi Hamdan yang masuk ke dalam sana. Berniat mengantar Robert yang akan gosok gigi.


"Aa tadi ngomong apa? Tentang ada yang kurang malam ini apa?" Syifa memiringkan tubuhnya, untuk menatap ke arah Joe. Saat ini keduanya sudah berbaring bersama di atas kasur lipat.


Joe mendekat, lalu berbisik ke telinga kanan Syifa. "Bercinta, Yang."


"Kok cuma gitu, tanggapan kamu?" Joe terlihat kesal dengan tanggapan Syifa. Sebab terbilang biasa saja, padahal dia sangat menginginkan sekali di sini. Sampai sempat ada niat mengajaknya di kamar mandi. Namun, karena mengingat Robert ingin gosok gigi dengan ditemani kedua mertuanya—jadilah dia urungkan niat.


"Terus aku musti gimana, A?"


"Ya harusnya kamu merengek dong, Yang. Bilang kepengen gitu kek. Kita dari kemarin nggak bercinta tau, Yang. Dan hari ini jatahnya. Kan dua hari sekali." Joe terlihat merenggut kesal. Tapi kedua tangannya dengan nakal sudah meremmas dada Syifa.


"Ya sebenarnya aku juga kepengen, A. Tapi gimana? Kan Aa tau ... kita ada di rumah sakit. Enggak mungkin kita pulang, kan? Aku juga masih ingin temenin Abi. Kasihan dia, Umi juga masa sendirian nemenin Abi?"


"Kita nggak perlu pulang, Yang." Joe menggeleng. Dia juga ingin ikut menemani Abi bermalam lagi di rumah sakit. "Tapi kita bisa keluar sebentar, buat bercinta."

__ADS_1


"Di mana? Di hotel?"


"Di hotel udah biasa, Yang. Aku mau cari suasana baru."


"Di apartemen?"


"Enggak ah. Mirip-mirip kayak hotel."


"Kontrakan gimana?"


"Enggak mau." Joe menggeleng.


"Villa?"


"Enggak!"


"Terus di mana? Kalau di toilet rumah sakit aku nggak mau ah, A. Baru kemarin kita bercinta di toilet sekolah. Masa di toilet rumah sakit juga?"


"Aku sih udah ada, tempat yang mau dituju. Tapi takutnya kamu nggak mau, Yang."


"Memang di mana? Asalkan tempatnya tertutup ... aku sih oke-oke aja, A."


"Aku maunya di dalam tenda, Yang."


"Tenda?!" Mata Syifa sontak membulat sempurna. "Tenda apa, A?"

__ADS_1


...Jangan bilang tenda hajatan Om 🤣...


__ADS_2