Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
262. Berenang bareng


__ADS_3

"Apa kata Paul, Pi?" tanya Mami Soora yang sejak tadi duduk di sofa, sembari mendengarkan apa yang suaminya ucapkan via telepon itu.


Dia juga sudah memberikan izin, ketika suaminya meminta izin untuk melakukan khitan.


"Si Paul mah rese orangnya, Mi." Papi Yohan mendengkus kesal, lalu menaruh ponselnya ke dalam kantong celana.


"Enggak mau dia, sunat bareng?" tebaknya.


"Dia bilang mau pikir-pikir dulu. Kan itu belum pasti namanya."


"Berarti Papi nggak perlu terlalu berharap." Mami Soora menyentuh pundak kanan sang suami, lalu menyentuhnya dengan lembut.


"Iya, Mi."


"Nanti besok Mami ikut deh, ya, biar Papi ada temannya."


"Iya. Terima kasih, Mi." Papi Yohan mendekat ke arah dahi Mami Soora, lalu menciumnya dengan lembut.


"Pi! Mi!" Yumna turun dari anak tangga dengan tergesa-gesa. Dia terlihat panik dan segera menghampiri.


"Kamu kenapa, Yum?" tanya Mami Soora penasaran.


"Mami sama Papi ada lihat dompetku nggak? Dompetku hilang, Mi, Pi," tanyanya khawatir.


"Dompetmu nggak hilang, Yum. Tapi ada sama si Boy," jawab Papi Yohan.


"Si Boy?!" Kening Yumna mengerenyit. "Tapi kenapa bisa ada sama dia? Papi yang ngasih, ya?" tuduhnya.


"Dih ... ya nggaklah!" Papi Yohan menggeleng. "Dia justru yang menemukannya. Dompetmu terjatuh di depan toko sepatu di mall katanya."


Sebelum Papi Yohan menelepon Papi Paul, dia lebih dulu mendapatkan sebuah chat dari Ustad Yunus, yang memberitahu jika dia tak sengaja menemukan dompet Yumna.


"Berarti kemarin sore dong? Soalnya kemarin aku memang pergi ke toko sepatu."


"Iya." Papi Yohan mengangguk.


"Terus kapan dia nganterin dompetku? Coba Daddy telepon dia, tanyakan lagi."


"Dia nggak bisa nganterin dompetnya. Katanya lagi sibuk nyatetin anak-anak yang daftar sunat massal. Mending kamu saja yang ke sana temui dia, buat ambil dompet."


Ustad Yunus tadinya sempat bilang kalau nanti dia akan pesan ojek online, untuk mengirimkan dompet itu. Tapi Papi Yohan justru menolaknya, karena sengaja supaya Yumna bisa menemuinya.

__ADS_1


"Ih ... nggak mau ah males," tolak Yumna, yang jelas dia malas bertemu dengan Ustad Yunus. "Mending Papi suruh Roni saja, untuk ambil. Kalau misalkan si Ustad Mis—"


"Panggil Mas Boy!" sela Mami Soora cepat sambil melotot. "Kan Mami udah sering minta kamu buat manggil si Boy dengan sebutan Mas Boy, Yum!"


"Iya, iya, Mas Boy!" jawab Yumna yang malas berdebat, lalu dia menatap Papi Yohan. "Ya, Pi, Papi minta tolong si Roni saja sekarang. Aku juga ada pemotretan hari ini soalnya."


"Roni tadi pagi izin nggak kerja, katanya nganterin pacarnya yang sakit. Jadi mending kamu aja yang ke sana. Nanti Papi kirim alamatnya."


"Aku malas ketemu si Boynya. Ahh ... maksudku Mas Boy," ralat Yumna cepat sebab melihat Mami Soora sudah melototinya. "Mending Papi saja deh, yang ambil. Papi juga nggak ngantor 'kan hari ini?"


"Enak saja. Papi ngantor dong hari ini," balas Papi Yohan sambil mencebik. "Udah sih, Yum, mending kamu aja yang ambil. Lagian itu 'kan dompetmu, bukan dompet Papi."


"Tapi, Pi, aku—"


"Nggak pakai tapi-tapi!" sergahnya cepat, permintaan Papi Yohan kali ini tidak ingin dibantah.


Yumna pun mendengkus.


Mami Soora perlahan mencium punggung tangan Papi Yohan, lalu suaminya kembali mencium kening. "Hati-hati dijalan, Pi."


"Iya, Mi." Papi Yohan mengangguk, kemudian melangkah pergi dari rumah.


'Mimpi apa aku semalam, sampai pergi menemui si Ustad Miskin itu. Lagian dia juga nggak ada otak banget sih jadi orang! Harusnya kalau nemuin dompet ... ya langsung dibalikkan dong kemarin itu, bukan malah ngasih taunya sekarang. Mana sok sibuk banget lagi, segala bilang nggak bisa nganterin dompet. Awas saja kalau misalkan dompetku lecet atau ada yang hilang! Aku akan membuat perhitungan padanya!' Yumna menggerutu dalam hati sembari mengepalkan kedua tangannya di atas paha.


***


"Kalian habis dari mana, sih?"


Mami Yeri mengomel, saat melihat anak dan menantunya tiba di rumah setelah menunggu sejam lebih.


Namun, keningnya seketika mengerenyit saat melihat sebuah koper yang tengah didorong oleh Bibi pembantu, kemudian membawanya menuju lantai atas.


Sebelumnya, Papi Paul memang sudah mencoba menelepon Joe setelah Papi Yohan selesai menelepon . Hanya saja tidak diangkat-angkat, menelepon Syifa pun nomornya mendadak tidak aktif. Jadi mereka tak tau kedua orang itu ke mana.


"Aahh ... kami habis ...." Syifa menggantung ucapannya seraya menoleh kepada Joe. Bingung dia menjawab apa, karena suaminya sendiri mengatakan untuk tidak memberitahukan mereka.


"Kami habis dari rumah sakit, Mi," jawab Joe.


"Rumah sakit?!" Mami Yeri membulatkan mata, begitu pun dengan Papi Paul yang duduk di sampingnya. "Siapa yang sakit? Kamu?"


"Apa Syifa?" tambah Papi Paul bertanya. Keduanya juga langsung berdiri, lalu melangkah mendekati Joe dan Syifa.

__ADS_1


"Hanya periksa kandungan kok," balas Joe.


"Periksa kandungan dari kemarin?" tanya Mami Yeri memastikan.


"Enggak, hari ini," jawab Joe.


"Tapi kata satpam rumah ... kamu, Syifa dan Robert nggak ada di rumah dari kemarin? Masa kalian periksa kandungan dari kemarin?"


"Si Robert juga ke mana sekarang?" tanya Papi Paul yang baru menyadari ketidak adanya sang cucu tercinta.


"Robert sekolah, Pi. Udah berangkat tadi sekalian kami anterin," jawab Syifa.


"Terus alasan kalian dari kemarin nggak ada di rumah apa?" Mami Yeri masih penasaran dengan pertanyaannya yang belum dijawab.


"Kemarin kami bertiga menginap di hotel," jawab Joe berbohong. "Biasa bumil ... katanya ingin mencari suasana baru buat tidur," tambahnya beralasan sembari melirik Syifa.


"Ooohhh ...." Papi Paul dan Mami Yeri berohh ria secara kompak. Keduanya juga langsung tersenyum. "Jadi kamu lagi ngidam, ya, Fa, ceritanya?" Papi Paul terlihat senang, dia juga langsung menyentuh perut buncit menantunya. Hanya saja cuma sebentar, sebab Joe sudah menepisnya.


"Iya, Pi." Supaya kedua orang itu tak curiga, mau tidak mau Syifa pun mengiyakan apa yang suaminya katakan.


"Kita duduk dulu, Yang. Kakiku pegel." Joe merangkul Syifa, lalu mengajaknya untuk duduk di sofa. Papi Paul dan Mami Yeri pun lantas ikut duduk. "Ngomong-ngomong Papi dan Mami ada perlu apa ke sini?" tanyanya kemudian.


"Memang kalau orang tua datang mengunjungi anak dan menantunya musti ada perlu, ya?" Mami Yeri mendengkus, tampaknya dia tak senang dengan pertanyaan dari Joe.


"Kami berdua kangen kalian, Joe," sahut Papi Paul, lalu tersenyum menatap Syifa. "Apalagi sama cucu kedua Papi. Kami juga ada rencana mau ngajakin Syifa jalan-jalan."


"Jalan-jalan ke mana, Pi?" tanya Joe. "Tapi kayaknya kalian nggak perlu ngajakin Syifa jalan-jalan deh, takutnya dia capek."


Aslinya Joe ingin menghabiskan waktu bersama Syifa. Mumpung Robert sekolah dan Syifa tidak pergi mengajar. Namun sepertinya akan sulit lagi, sebab dua orang itu tiba-tiba datang berkunjung.


"Jalan-jalan ke Ancol. Mami juga katanya mau ngajakin Syifa renang."


"Kamu bisa renang nggak, Fa?" tanya Mami Yeri kepada menantunya, sambil mengelus perutnya.


"Enggak bisa, Mom." Syifa menggeleng. "Kalau cuma berendam sih bisa."


"Ih nggak perlu renang deh, Mom." Joe menggeleng tak setuju. "Syifa 'kan lagi hamil. Lagian kolam renang itu licin dan pasti banyak orang di dalamnya, bahaya. Selain itu di Ancol juga banyak wahana permainan, yang pastinya Syifa nggak izinkan masuk. Mending di rumah saja."


"Dihh ... tapi Mommy kepengen berenang sama Syifa, Joe. Kayak seru, berenang bareng bumil," rengek Mami Yeri dengan bibir yang mengerucut. "Kalau di pantai 'kan nggak mungkin, cuaca lagi panas-panas begini. Jadi kolam renang lebih baik."


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


__ADS_2